Matahari telah terbit sedari tadi. Dee menggeliat bagai ulat bulu di dalam selimut tebalnya ketika keributan kecil terjadi di lantai bawah antara Mbak Hanum dan Aksa. Dia masih terlelap.
"Mas, Mas tidak boleh masuk ke kamar Non Dee. Mas, Mas!"
"Gue pacar Dee."
"Iya, Mas benar." Mbak Hanum bicara dengan tangan yang terentang di anak tangga pertama yang menuju lantai atas, "Mas cuma pacar Non Dee karenanya Mas nggak boleh masuk ke kamar tidur Non Dee. Itu peraturan di rumah ini."
"Tolong, ya. Lu itu siapa sih? Dan memangnya siapa yang membuat peraturan rumah? Apa Papa dan Mamanya Dee???" Aksa yang terlihat kesal menggeleng. "Bukan, tapi Arga Utama-orang yang bukan apa-apa di rumah ini." Dia melirik arlojinya, jelas jarum jam sudah cukup tinggi. Dan Dee bahkan tidak dapat dia hubungi. Kemungkinan besar gadis itu melupakan semua rencana mereka untuk membalas seorang Arga Utama. Aksa bergerak sedikit kasar menggeser tubuh Mbak Hanum yang kemudian bersikeras bertahan. "Minggir deh. Lu itu cuma babu di sini."
Deg.
Jantung Mbak Hanum seakan terhenti oleh ucapan itu. Tidak ada seorang pun yang bicara seperti itu pada mereka sebagai pekerja rumah tangga di keluarga Pak Pramudya. Pak Pramudya dan ibu juga semasa hidupnya memperlakukan mereka dengan baik, Pak Arga apa lagi, juga Non Dee. Walau galak, Non Dee juga tidak memakai arogansinya pada orang-orang yang bekerja di rumahnya, satu-satunya yang Non Dee anggap musuh hanya Pak Arga. Dan walau bisa begitu marah, tapi Pak Arga juga tidak pernah berkata sekasar itu, Pak Arga cuma marah kalau mereka tidak menjaga Non Dee dengan baik.
Pria itu berhasil naik ke kamar Dee saat Mbak Hanum tercenung. Aksa membuka pintu kamar Dee yang memang tidak terkunci karena Mbak Hanum yang tadi malam tidur di sisi Dee telah lebih dahulu terbangun. Menatap ke atas ranjang, Aksa disuguhi pemandangan tubuh Dee yang terlilit selimut tebalnya dan entah sudah berputar berapa derajat dari posisinya tertidur kemarin. Aksa yakin kalau mereka jadi suami istri nanti dia bakalan mengalami kesulitan tidur karena kebiasaan buruk Dee yang baru dia ketahui.
Menyibak selimut Dee, Aksa disuguhi paha putih mulus milik Dee yang tersingkap akibat gaun tidur Dee yang naik. Mata Dee membuka, lalu menyipit sedikit untuk menyesuaikan retinanya pada silau matahari yang menerobos dari balik jendela kamar tidurnya dan lampu kamar yang belum dimatikan.
"Morning, Sleeping Beauty."
"Kak Aksa?!" Dee nyaris memekik mendapat sapaan selamat pagi dari Kak Aksa yang telah ada di depannya. Dee bangkit dengan posisi melompat berdiri, nyaris terhuyung jatuh andai dia tidak sigap menyeimbangkan tubuh. Dee meyakinkan diri tidak tengah bermimpi. Dia mencubit lengannya lalu mengaduh, " Auww, sakit." Dan mendapat sambutan tawa dari bibir Kak Aksa.
"Buat apa nyubit lengan kamu sendiri?" Belaian lembut di kepala Dee terasa, tangan Kak Aksa menelusuri riak rambut Dee yang halus. Mereka begitu dekat. "Kalau kamu belum yakin ini mimpi atau nyata. Nih, Kakak yakinin kamu."
Cup. Sebuah kecupan telah singgah di permukaan bibir Dee. "Morning kiss," kata Kak Aksa saat Dee terbengong-bengong. "Aku nyuri ciuman pertama kamu, ya?" Aksa bertanya dengan senyum jahil membuat tubuh Dee tersihir beku.
Andai Kak Aksa tahu, dia telah menyerahkan ciuman pertamanya jauh-jauh hari pada seseorang yang sangat dia benci- si oedipus complex, Arga Utama, apa yang akan Kak Aksa pikirkan tentangnya? Masihkah Kak Aksa berpikir dia gadis kecil yang polos hanya karena kemarin dia mengakui belum pernah berpacaran hingga usianya nyaris dua puluh satu tahun-tiga minggu lagi? Berbeda dengan pengalaman pacarannya yang nihil, dia memulai pengalaman berciuman di usia dini. Dia mencium pria dewasa yang usianya terpaut sepuluh tahun dari dirinya, pada saat usianya baru empat belas tahun. Bisa dibilang itu pengalaman yang tidak akan pernah terjadi pada gadis empat belas tahun yang polos.
"Sorry. Kamu nggak suka, ya?" Kak Aksa bertanya hati-hati saat Dee masih mematung. "Aku akan bertanggung jawab kok ... Aku bakal nikahin kamu." Sebuah ciuman dan pernikahan? Dee belum benar-benar mencerna semuanya ketika Kak Aksa meraih jemarinya dan entah bagaimana sebuah cincin bertahtah berlian melingkar di jari manis Dee.
"Kak, ini?"
"Itu tanda keseriusan Kakak sama kamu, Dee." Dee menatap lekat-lekat cincin mungil itu.
"Tapi kitakan belum beneran pacaran ..."
Aksa tersenyum dan mencolek dagu Dee. "Kalau gitu kenapa nggak kita buat jadi beneran aja? Kakak beneran cinta sama kamu. Will you make me your real boyfriend?"
"Kenapa Kakak mau jadi pacarku?" Dee bertanya serius. "Bukan karena warisanku kan, Kak?"
Deg. Aksa sedikit kaget pada pertanyaan itu. Dia menatap Dee lekat-lekat dan menyadari betapa sulit merebut kepercayaan gadis ini. Ya, Dee tidak mudah percaya pada siapa pun, dia tidak ingin mengalami nasib seperti Papa. Papa yang sangat mempercayai dan menaruh seluruh cintanya pada Mama, tapi dibalas penghianatan dan dusta. Dee masih menatap wajah tampan Kak Aksa. Aksa yang menyadari tatapan mata penuh selidik dari mata Dee meneguk ludahnya lalu tersenyum lebar.