I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #21

21. Hari Pertama Dee di Kantor

Dee melangkah dengan anggun memasuki gedung megah berlantai sepuluh itu dengan Aksa yang ada di sisinya. Seluruh gedung itu milik Ikdee Furniture. Hari masih pagi, baru jam sebelasan, tapi seluruh pekerja Ikdee nampak lebih dari kata sibuk. Mereka baru saja memenangkan tender besar memenuhi seluruh furniture di enam ratus unit apartemen mewah baru dengan tiga tower di kawasan elit Sudirman Jakarta. Dimana tower pertama telah nyaris selesai di bangun, hanya tinggal finishing akhir saja seperti cat mencat dan tambal-menambal dan membuat taman-taman dengan memindahkan pohon-pohon dan bunga-bunga dari kawasan pembibitan yang telah mereka siapkan sedari dulu.

Arga sedang sibuk di ruang rapat dengan beberapa desainer yang dimiliki Ikdee Furniture. Di meja ruang rapat terlihat bergelimpangan foto-foto ruangan apartemen, contoh sketsa furniture yang dibuat para desainer Ikedee sesuai yang diinginkan pengembang, perhitungan biaya pembuatan setiap sketsa furniture, warna yang sesuai dengan interior ruangan.

Tok tok tok. Suara pintu terdengar diketuk. Semua mata nyaris menatap bersamaan pada pintu ruang rapat. Salah satu desainer menguak pintu saat Arga memberi isyarat. Pak Deny, manager HRD muncul di ruangan rapat dan segera berbisik pada Arga yang sedang asyik melakukan kalkulasi. Gerakannya terhenti.

"Lakukan sesuai permintaan Ibu Dee."

"Tapi, Pak ... Anak itu. Brandon Aksa Salim yang telah Anda keluarkan karena ...." Seluruh mata para desainer Ikedee memandang Pak Arga dan Pak Deny yang terlibat pembicaraan. Dengan tangannya, Arga meminta Pak Deny menahan suaranya. Dia tidak mau siapa pun mendengar bagaimana Dee mengintervensi HRD untuk memasukkan seseorang.

"Oke, rapat ini kita akhiri dulu. Saya ingin kalian membuat pilihan warna pada setiap rancangan yang kalian buat, walau tentu saja warna asli kayu tidak akan dilupakan. Kita akan melakukan pembahasan tiga hari lagi. Terima kasih untuk semua kerja samanya." Para desainer bergegas membenahi berkas-berkas mereka dari meja rapat, bagi yang menggunakan laptop, menutup laptopnya dan sebentar kemudian suara mereka berpamitan pada Arga Utama dan Pak Deny terdengar.

Suasana telah sunyi. Arga Utama menatap Pak Deny dengan serius. "Saya tahu Anda mengkwatirkannya. Namun Dee Cantika Pramudya adalah pemilik saham mayoritas di perusahaan ini, jadi hargai putusannya. Kita hanya perlu sedikit lebih waspada pada pria itu. Tempatkan dia pada bagian yang tidak akan membuat dia bisa mendapat akses lebih dalam pada data perusahaan."

"Baik, Pak." Pak Deny paham. Baru saja berniat berpamitan ketika sebuah suara menghantam pendengaran mereka.

"Aku seharusnya tahu kemana Anda pergi." Dee muncul di ambang pintu ruang rapat yang tak lagi tertutup, salah seorang designer pasti lupa menutup pintu itu tadi. Arga menatap wajah cantik itu. Menguasai dirinya. Bersiap tidak akan bertengkar. "Apa ruangan ini telah berubah menjadi toilet?"

Pak Deny menunduk, dia memang tadi berpamitan pada Dee dan Aksa untuk ke toilet. Sebenarnya dia hanya ingin melapor pada Pak Arga dengan menelpon, tapi karena rapat, Pak Arga menon aktifkan ponselnya dan terpaksalah dia bertatap muka langsung dengan Pak Arga untuk masalah urgen satu ini.

"Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaanku sendiri. Aku hanya sedang bersikap baik dan sopan. Kak Aksa akan menjadi bagian perusahan ini, kalian suka atau tidak." Arga dan Pak Deny bisa melihat bagaimana pria itu menarik ujung bibirnya dengan senyum merendahkan keduanya. Arga dan Pak Deny menguasai diri.

"Tentu saja, dia akan menjadi bagian dari Perusahaan sesuai keinginanmu." Arga menimpali, "Pak Deny hanya memastikan keputusannya benar." Arga menatap Pak Deny. "Lakukan semua sesuai keinginan Bu Dee Cantika Pramudya."

"Benar, Bu Dee. Niat saya juga cuma memastikan, sebenarnya dari tadi saya manut saja pada Anda." Dee malas mendengar ucapan cari muka. Dia melangkah, Arga merapikan berkasnya lalu beranjak setelah Pak Deny berlalu sepeninggal Dee.

***

Surprise! Arga menemukan Dee tengah duduk di kursi direktur yang dia gunakan dan tengah berbincang dengan Aksa.

"Pagi, Cantik." Arga menyapa Dee dan Aksa menoleh dengan wajah tak senang.

"Bisakah kau sedikit sopan? Gunakan kata yang tepat 'Bu Dee'. Kau terlalu lihat seperti sedang berusaha menggodanya." Pria itu terlihat sedang dilanda cemburu.

"Kakak, dia tidak sedang menggodaku. Dia memang memanggilku dengan nama tengahku," Dee berbisik. Sebenarnya tidak terlalu pelan untuk disebut berbisik. Arga tidak tahu harus senang atau sedih. Dee membelanya, tapi ... Wow, kenapa pujiannya yang memang untuk menaklukan hati Dee itu terlihat jelas di mata pria itu, tapi tidak di mata Dee? Arga menggumam di dalam batin.

"Pak Deny mungkin membutuhkan Aksa untuk melengkapi persyaratan formal bergabungnya dia di sini," Arga merubah topik pembicaraan mereka.

"Bukannya seharusnya data saya sudah ada di data base perusahaan?"

"Perusahaan punya banyak karyawan. Akan lebih mudah dan menghemat waktu jika kamu mau membantu memberikan data dirimu sendiri."

Oke, sepertinya Aksa bisa menerima alasan itu.

Lihat selengkapnya