Dua cangkir kopi itu terletak berdekatan di atas meja. Dee menarik tangannya saat jemari Arga malah secara tak sengaja menangkap jemarinya ketika mereka secara bersamaan meraih kopi masing-masing dan Kak Aksa muncul di ambang pintu ruang Direktur.
Dasar pengganggu, batin Arga mendumel. Dan bisa melihat keterkejutan di wajah pria itu saat mendapati dia dan Cantik duduk bersama di meja kerja yang sama.
"Kamu duduk bersamanya?" Aksa berucap seakan kejadian ini adalah sesuatu yang perlu dikomentari, saat telah berada di sisi Cantik lalu duduk di pinggiran meja yang ada di dekat Cantik. Sungguh tidak sopan dan bukannya ini jam kerja? Arga melirik pria itu dengan ekor matanya. Kalau bukan karena dia memikirkan pendapat Cantik, makhluk itu tidak akan pernah bisa bercokol di perusahaan ini lagi. Pria yang bahkan nyaris pernah sukses menyabotase perjanjian kerjasama antara Ikdee Furniture dengan Hotel Indonesia. "Dia bisa meminta OB menyiapkan meja baru buatnyakan?"
"Bukankah seharusnya dia mulai bekerja?" Arga bertanya pada Cantik yang kemudian menoleh padanya. "Perusahaan ini tidak dibangun Papamu dengan duduk santai dan menghabiskan waktu dengan berbincang. Aku mengatakan itu pada semua karyawan yang kedapatan membuang waktu kerja bukan untuk bekerja. Namun kalau Anda punya pikiran berbeda, Bu Cantik, saya akan ikuti. Saya pekerja Anda di sini, tapi tolong kalau mengobrol jangan menggangu konsentrasi bekerja saya. Saya mencintai perusahaan ini."
Mulut Dee terkunci. Arga telah kembali membenamkan diri dalam kesibukannya. Mungkin memang mereka mengusik ketentraman seorang Arga Utama yang tengah sibuk bekerja. Dia berdiri dan menarik tangan Aksa sedikit menjauh.
"Kak, ini waktu kerja. Kakak harus pergi ke bagian kerja Kakak."
"Aku tahu aku harus bekerja, Dee. Aku hanya memastikan keadaanmu di sini dan juga memastikan makhluk itu memberikan hak-hakmu. Bukankah bagian awal sebelum bekerja selalu ada perkenalan? Kamu harus dikenal seluruh karyawan yang ada dan mereka harus tahu kamu siapa. Itu penting untuk mengukuhkan posisimu. Apa dia sudah melakukan hal itu?" Arga melirik pada Dee tepat saat Cantik juga memandangnya. "Aku tebak belumkan?" Aksa melempar senyum sinis pada Arga Utama yang kini menatapnya. "Aku tahu kau masih berusaha melindungi posisimu sebagai satu-satunya orang nomor satu di perusahaan ini. Kau ingin tetap pada jabatan inikan?"
Cukup! Kesabaran Arga mencapai ambang batas. Dia tidak ingin Cantik mempercayai omong kosong dari bibir pria itu.
"Cantik, dengarkan aku." Arga berdiri dari kursinya, menatap Dee serius. "Aku tidak punya niat memperpanjang jabatanku di sini. Kau selalu tahu ada perjanjian diantara kita dan Tuhan tahu aku selalu berniat menepati janjiku padamu."
Deg.
Dee tidak paham kenapa kalimat itu membuat jantungnya berdetak kencang.
"Aku sudah mempersiapkan waktu dan acara yang khusus untuk penyambutanmu dan perkenalan dirimu dengan seluruh karyawan bukan hanya dari kantor pusat, tapi juga utusan seluruh cabang. Kau harus percaya padaku."
Dee menatap Arga dalam diam. Mata bening itu ... Arga tidak bisa menebak arti tatapan mata itu. Arga salah tingkah. Dia hanya tidak ingin Cantik mempercayai ucapan pria br*ngs*k yang ada diantara mereka yang seperti biasa kini tersenyum menyeringai padanya seperti yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis di film-film Disney yang dulu Cantik gemari di waktu SMP.
"Baiklah, aku akan membawamu dari lantai ke lantai dan memperkenalkanmu pada seluruh divisi kerja di kantor ini. Beritahu aku, jika kau kelelahan." Arga menutup dokumen kerjanya termasuk data komputernya yang hanya bisa dimasuki dengan password. "Ikuti aku."
***
Dee berdiri di tengah-tengah kedua pria itu: Arga di sebelah kanan dan Aksa di sebelah kiri. Perkenalan pada karyawan kantor pusat Ikdee Furniture ini dimulai dari dua divisi yang berdekatan marketing dan promosi, divisi desain.
Karyawan di dua divisi itu berada di lantai yang sama dan kini berkumpul saat melihat Arga dan Dee muncul di lantai kerja mereka. Mata seluruh karyawan menatap serius.
"Selamat ...." Arga melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam dua belas. "Sudah hampir jam dua belas siang, jadi saya harus menyapa selamat siang. Mungkin saya akan sedikit mengganggu jam istirahat dan makan siang kalian. Seperti yang sudah kalian ketahui dan selalu saya katakan: akhir bulan ini akan menjadi akhir jabatan saya di kantor ini. Dan saya akan mengembalikan kelangsungan Ikdee Furniture pada pewaris sesungguhnya Ikdee Furniture, yaitu: Ibu Dee Cantika Pramudya. Beliau ada di samping saya saat ini." Dee memandang wajah itu.
Makhluk itu?
Mungkinkah sebenarnya tidak menginginkan hartanya ..??? Lalu ancaman yang selalu digembor-gemborkan pria itu bahwa makhluk itu akan menguasai seluruh hartanya ...????Bahwa dia dan seluruh hartanya adalah milik pria itu ...??? Apa maksud ucapan yang kini dikatakan makhluk itu ...???
Dee merasa tidak pernah memahami pria itu.
"Mulai hari ini, Ibu Dee Cantika Pramudya akan bergabung bersama kita. Kalian bisa melaporkan apa saja kesulitan kalian dan segala macam urusan pekerjaan pada Beliau." Dee melayangkan pandangan pada seluruh karyawan yang nampak jadi melow atas kabar ini. Arga Utama tetap bicara, tak membiarkan suasana melow ini menguasainya. Dee merasa aneh saat menyadari menjadi orang yang membuat suasana sedih menjalari hati semua orang. Kenapa dia jadi seperti pelaku antagonis? "Ruangan Beliau di ruangan saya, kita berbagi meja untuk waktu yang singkat ini. Saya menitipkannya pada kalian, saya berharap kalian akan menghormati dan menjaganya seperti yang kalian lakukan pada saya."
Pria ini ... Dee menatap Arga intens. Meminta semua orang menjaga dan menghormatinya seperti yang dilakukan semua orang padanya.
"Dan terima kasih untuk kerja sama kita selama ini." Arga mengembalikan pendar matanya pada Dee yang menatapinya. "Bu Cantik, ada yang ingin dikatakan?"
"Saya?" Dee menatap Arga yang mengangguk penuh senyum padanya. Lalu memberi isyarat dengan dagunya. Dee menoleh pada seluruh karyawan yang menanti di depannya. "Saya tahu kalian telah bergabung dengan Ikedee Furniture lebih dahulu dari saya bahkan beberapa karyawan senior telah bergabung sejak Papa saya masih ada. Saya hanya mohon kerja samanya untuk menjadikan Ikdee Furniture sebagai perusahaan furniture terbaik bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia." Dee kembali mengakhiri kalimatnya dengan memandang wajah Arga. Pria itu memberi isyarat tangan untuk mempersilahkan Dee berjabatan tangan dengan para karyawan.