"Dee, I'm so sorry for that." Kak Aksa muncul di meja kantin kantor tepat saat Arga berniat hendak menuju meja itu. Langkahnya terhenti, berbelok, tepat saat Kimy muncul dengan tatakan makan siang dan mengajaknya ke makan di sudut ruangan.
"Saya rasa kapan-kapan,ya. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Arga bicara. Dia memang telah selesai makan siang sedari tadi. Tak kembali ke ruangannya hanya untuk menunggu Dee agar mereka bisa kembali bersama. Namun saat melihat Aksa, Arga memilih kembali ke ruang kerja.
Dee menatap langkah Arga sambil menyuap sesendok salad ke dalam mulutnya. Dengan ekor matanya Aksa menatap arah manik Dee. "Aku benar-benar hanya mencemaskanmu, Dee."
"Aku tahu." Dee mengalihkan pandangannya menatap wajah tampan itu. "Terima kasih karena telah mencemaskan aku, Kak."
"Syukurlah, kamu paham perasaan Kakak." Aksa tersenyum. "Kakak balik kerja dulu. Kakak nggak akan membuatmu malu karena telah membantu Kakak diterima disini." Kak Aksa berdiri dari duduknya dengan wajah begitu bersemangat untuk bekerja. Dee menganguk. "Kita akan pulang kerja bareng dan makan malam bersama. Oke?"
Dee mengangguk. Berharap saat makan malam nanti dia bisa meminta Kak Aksa bicara tentang hal yang sebenarnya pada Kimy dan Rara. Lalu hubungan persahabatan mereka akan kembali baik-baik saja. Dee melanjutkan makan siangnya lalu kembali ke ruangan kerja Direktur dimana Arga telah terbenam dengan tumpukan pekerjaannya.
"Bagaimana makan siangmu? Apa makanan kantin kantor cocok untukmu?" Arga menyapa tanpa mengalihkan pandangannya dari kesibukannya dengan tumpukan data-data di lembaran kertas.
"Lumayan." Dee menjawab singkat sambil menghempaskan tubuhnya di kursi manager. Meraih buku yang belum dia selesaikan ketika Arga menjulurkan se-file berkas yang kemudian diterima Dee.
"Itu laporan keuangan perusahaan tahun lalu sampai bulan lalu." Arga menyerahkan berkas lain masih tanpa mengalihkan pandangannya dari kesibukannya di depan komputer dan berkas-berkas di hadapannya. "ART dasar perusahaan termasuk kepemilikan modal perusahaan terbaru. Saham Ikdee Furniture akan mengalami fluktuasi saat kau pertama kali mengambil alih pimpinan. Tapi semua akan baik-baik saja saat kau mampu meyakinkan pasar bahwa perusahaan akan berjalan dengan baik dan lancar. Pelajari itu."
"Apa saat kau mengambil alih perusahaan dulu, itu juga terjadi?" Dee bertanya serius.
"Tentu saja."
Dee menatap lembaran kertas di depan wajahnya dengan malas. Mengalihkan pandangannya pada Arga, eh, cowok itu tetap tidak menatapnya. Sibuk pada rutinitasnya. Dan saat seperti itu, Dee bisa diam-diam memandangi wajah itu. Wajah pria yang membuat Kimy dan Rara tergila-gila.
"Apa kesulitan yang paling besar yang kau alami saat kau mulai memimpin perusahaan?" Pertanyaan Cantik membuat Arga menghentikan kesibukannya. Menatap mata indah Cantik yang selalu memerangkap hatinya.
Kau, bisik hati Arga, kesulitan terbesar saat aku mulai memimpin perusahaan adalah segala kekacauan yang kau lakukan untuk menjatuhkanku dan malah membuatku makin mencintaimu.
"Jangan khwatir, kau tidak akan pernah mengalaminya." Arga memilih jawaban itu, lalu memilih kembali menekuni tugas-tugasnya dan Dee mulai membuka lembaran-lembaran laporan keuangan yang membuat kepalanya harus ekstra bekerja keras melihat angka-angka miliaran dalam kertas kerja selebar meja kerjanya itu.
"Kurasa aku akan melihatnya di file komputer saja."
"Mmmm." Arga mengeluarkan suara itu.
"Aku butuh password untuk membuka komputermu."
Permintaan itu membuat Arga menghentikan pekerjaannya. Berdiri lalu melangkah ke belakang tubuh Dee dan meraih mouse komputer. Tangan Arga mengurung seluruh tubuhnya seperti yang dilakukan pria itu tadi.
"Kau hanya perlu memberi tahukan password nya padaku." Dee berucap di sisi wajah Arga, hembusan nafasnya membentur permukaan wajah pria itu dan membuat pria itu memalingkan mata menatapnya. Untuk kedua kalinya Dee merasa de javu seperti ini. Arga tidak berucap sepatah kata pun. Sekilas Dee kembali bisa menghirup aroma parfum khas Arga Utama yang khas lelaki itu memenuhi seluruh rongga penciumannya, masuk hingga memenuhi paru-parunya seperti udara dalam tarikan nafasnya. Dee merasakan wajahnya menghangat begitu juga dadanya. Namun dia tidak bisa memahami alasan dibalik itu.
Lalu layar komputer muncul dengan peringatan password dan foto-foto dirinya dan kedua orang tuanya. Dee menatap bingung pada layar itu. Di sana ada sebuah foto dari masa lalunya: foto mama, papa dan dirinya yang nampak bahagia. Itu foto tamasya terakhir dia dan kedua orangtuanya bersama-sama. Jika melihat foto itu semua orang pasti berpikir bagaimana sempurnanya keluarganya dulu. Lalu foto dirinya dengan seragam putih birunya, beberapa foto saat dia study tour di beberapa negara Eropa dan foto saat dirinya di wisuda yang tentunya diperoleh pria itu dari mata-mata yang ditempatkan pria itu untuk mengawasinya.
Tapi kenapa makhluk ini menempatkan seluruh foto-foto pribadinya pada komputer kerja makhluk ini? Apa sih yang ada di pikiran makhluk ini?
Kalau ada orang yang melihat semua ini mungkin orang itu akan berpikir pria ini jatuh cinta padanya. Tapi tidak mungkinkan seorang Arga Utama jatuh cinta padanya?
Deg.
Pemikiran yang muncul tiba-tiba di benaknya itu membuat jantung Dee berdegup tak beraturan. Dia menatap wajah itu diam-diam.