Kak Aksa tak bisa dihubungi. Dee telah menghubungi nomor Kak Aksa berkali-kali setelah meminta Arga Utama membantunya mencari nomor ponsel Kak Aksa dari database karyawan karena Dee baru menyadari dia telah kehilangan ponselnya setelah melemparkan ponsel itu tepat pada wajah Arga.
"Taksi tidak akan muncul malam ini. Ini sudah terlalu larut." Suara Arga terdengar dari belakang punggung Dee yang masih menanti di pelataran kantor. " Ayo, pulang denganku atau ... Aku akan telpon supir rumah atau ... Mario. Apartemen Mario di sekitar sini, dia akan mengantarmu pulang, jika kau tidak mau pulang denganku."
"Aku tidak suka menyusahkan orang lain. Aku akan pulang denganmu jika kau tidak keberatan."
"Dengan seluruh jiwaku, aku tidak akan pernah keberatan untuk kau susahkan," goda Arga untuk mencairkan suasana yang sempat kaku antara dia dan Cantik karena kelancangan tangannya menyentuh bibir gadis itu.
"Berhenti mengatakan kalimat bualan padaku atau aku tidak akan pernah naik ke atas mobilmu." Dee mengancam dan Arga tertawa kecil sambil langsung membuat isyarat di depan bibirnya bahwa dia akan membungkam mulutnya. Saat Arga berlari membukakan pintu mobil untuknya entah mengapa sudut bibir Dee tertarik mengulum senyum diam-diam. Masuk ke dalam mobil, Dee telah dimanjakan lagi saat Arga memasangkan sabuk pengaman bagi gadis itu diantara tatapan mata Dee yang intens menatapnya, kelakuan ini nyaris seperti yang dilakukan papanya selalu kepadanya dan mamanya, terasa sedikit aneh saat perhatian ini malah dia dapat dari seorang Arga Utama. Pria itu lalu kembali ke belakang jok supir dan melajukan mobilnya.
Mereka orang terakhir yang pulang kantor malam ini. Jalanan kota masih sibuk walau telah cukup lengang, tak ada lagi titik-titik kemacetan yang membuat orang-orang merasa menjadi tua di jalanan. Badan Dee terasa penat, juga ngantuk. Tiupan air conditioner makin membelai-belai pelupuk matanya agar terpejam.
Keduanya melewati jalanan dalam kebisuan. Arga melirik Dee yang nampak terkantuk-kantuk di sisinya. "Tidurlah, jika kau mengantuk. Aku akan membangunkanmu saat kita tiba di rumah." Arga berjanji saat mata Dee menatapnya sayu. Terlalu lelah untuk berpikir akhirnya Dee jatuh terlelap.
Empat puluh lima menit akhirnya mereka tiba di rumah Dee yang besar. Dee masih terlelap dan Arga tak berniat mengusik tidur itu. Perlahan dia menggendong Dee menuju ke kamarnya. Membaringkan tubuh gadis itu di ranjang king size nya, membukakan high heels dan stoking coklat muda dari sepasang kaki Cantik yang putih mulus, lalu menarik selimut menutupi tubuh Cantik agar dia dapat tidur lebih nyaman, tapi geraknya malah membangunkan Cantik. Kelopak mata Dee mekar dan pupil coklat itu menatapnya.
"Kita sudah tiba di rumah. Kamu ada di kamarmu sekarang. Tidurlah lagi. Selamat malam, Cantik." Arga mengusap lembut ubun-ubun Dee, mengingatkan Dee pada kebiasaan papa saat memiliki waktu untuk mengantarnya tidur. Dee memandang wajah ganteng itu dengan perasaan gamang. Arga meraih remote AC dan menekan tombol on. Lalu beranjak ketika di detik selanjutnya, suara Dee terdengar dan dia membalikkan badannya.
"Terima kasih karena telah mengantarku pulang." Arga menganguk penuh senyum. Membalikkan badannya dan Arga baru melangkah beberapa langkah ketika suara Dee terdengar memanggilnya. Dia kembali membalikkan tubuhnya. Menatap indahnya mata Cantik yang terasa hangat malam ini. "Selamat malam, Arga Utama." Senyum Arga terlihat lebih lebar lagi saat Cantik menyebut namanya. Dia bahkan nyaris bersorak dan melompat senang karena Cantik menyebut namanya dan bukan memanggilnya oedipus. Kali ini dia bisa memastikan gadis itu benar-benar tahu namanya: Arga Utama. Arga masih tersenyum, berjalan mudur ke arah pintu kamar dan tak berniat sedikit pun melepaskan tatapannya dari wajah Cantik yang memang cantik hingga dia menutup pintu kamar Dee, itu pun setelah Cantik mengingatkannya. Dee menatap pria itu dengan posisi berbaring menyamping. Aneh. Namun entah mengapa rasanya menyenangkan melihat senyuman itu lagi.
Dee memukul kepalanya saat menyadari pikirannya yang aneh. Membalikkan badan. Kali ini posisinya terlentang menatap langit-langit kamarnya, lalu tangan Dee terangkat hingga jari telunjuknya berada tepat di depan wajahnya. Manik indahnya memandangi plester di jarinya. Kemudian bagai tamu tak diundang, seluruh kejadian yang dialaminya di kantor berpendaran di benaknya. Malam ini dia yakin dia tidak akan bisa tidur. Masih karena orang yang sama walaupun, kini dengan alasan yang berbeda yang bahkan tidak dia pahami apa dan mengapa.
Dan andai Dee tahu, dia tak sendirian karena di kamar sebelah pun, Arga tak bisa memicingkan matanya sedetik pun. Masih karena orang yang sama, walau kini dengan alasan yang berbeda. Senyumnya merekah. Dia ingin besok tidak pernah datang dan dia bisa mengulang kembali kejadian hari ini--saat Cantik muncul dengan gaun soft pink di kantornya. Duduk manis di kursi managerialnya dan dia berdiri di belakang gadis itu, mencium aroma wangi shampo di helai rambut pirang Cantik yang berpadu dengan aroma parfumnya atau saat accident kecil di saat bibirnya tanpa sengaja menyentuh lembut kulit pipi Cantik yang halus, tapi reaksi gadis itu tidak marah sama sekali. Atau saat dia menarik jemari Cantik yang berdarah dan mengemut jemari itu ..., ah, tidak. Untuk bagian itu dia tidak ingin mengulangnya, seberapa romantisnya pun momen itu, dia tidak pernah ingin Cantik terluka karena dia selalu tahu hatinya mencintai gadis itu. Dan Arga selalu bisa memastikan perasaan ini bukan rasa sesaat.
***
Arga membuka pintu kamarnya ketika Cantik juga muncul dari balik pintu kamarnya. Mata mereka bersidekap. Dee nampak cantik, aroma parfum tercium dari tubuhnya. Kali ini rambut Dee dibiarkan lepas tergerai. Cantik.
"Pagi, Cantik." Arga menyapa merasa sama seperti aktor di iklan yang pernah dia tonton di televisi. Di iklan itu si cewek sih membalas manis sapaan itu dengan melemparkan senyuman. Dan kini hal yang sama juga dilakukan oleh Cantik bahkan plus dengan menjawab sapaannya.
"Pagi."
Keajaiban memang masih adakan? Arga berceletuk dalam hatinya, dan sepertinya hari ini keajaiban itu masih menjadi miliknya. Cantik tersenyum manis dan lebar membawa hatinya terbang ke awang-awang.
Mereka melangkah bersama menuruni anak tangga di bawah tatapan bingung para pekerja rumah saat melihat tuan besar dan nona rumah yang biasanya layaknya kucing dan anjing itu kini nampak akur. Arga dan Dee cuek saja.
"Pagi, Om." Suara riang itu terdengar dari ambang pintu yang terbuka lebar dan seorang gadis sebaya Dee berjalan anggun menuju ke arah mereka yang baru saja menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Mata Dee dan Kimy bersua, tapi jelas Kimy tak menunjukkan gestur persahabatan. Dee menyadari mata itu menatap keakrabannya dan Arga dengan wajah tak suka. Mereka melangkah ke meja makan.
"Kimy?" Arga menyapa. "Pagi-pagi begini mau ketemu Cantik, ya?"