Dee memejamkan matanya sesaat ketika menatap kedua insan itu di pojok meja kafetaria kantor. Dee duduk dengan Kak Aksa di meja sudut kafetaria setelah Kak Aksa menjemputnya ke ruangan direktur dan meninggalkan Arga Utama yang memplototi kepergiannya. Kak Aksa bercerita banyak hal dan dia malah sibuk melihat tawa Arga dan Kimy yang duduk beberapa meja di depan meja mereka. Kimy dan Arga nampak sangat-sangat menikmati cerita-cerita mereka seakan mereka dua orang yang telah lama dekat dan baru berjumpa kembali setelah perpisahan panjang. Dee ingat bagaimana dia menebak-nebak dalam hatinya tentang apa yang sedang kedua orang itu ceritakan berhari-hari, tapi pembicaraan mereka tetap terlihat begitu menyenangkan. Seharusnya dia bahagia akan keakraban itu. Seharusnya sebagai seorang sahabat yang baik dia ... ba ... ha ... gi ... a ...
Ahhh, tidak. Dia tidak bahagia sama sekali. Mungkin dia memang bukan sahabat yang baik. Namun kini dia membayangkan bagaimana dia melewati hari bekerja sama di ruangan yang sama dengan pria itu, merasakan aroma nafas Arga menyentuh pernafasannya, merasakan saat mereka tanpa sengaja melakukan skin to skin (kulit bertemu kulit) dan berakhir dengan kaburnya dirinya mengambil kopi atau bahkan beralasan memfotokopi berkas, sebuah alasan yang sangat mengesalkan. Bagaimana dia mencoba memahami semua penjelasan yang diberikan Arga padanya dan berakhir malah membuat pria itu terpaksa mengulang-ulang penjelasannya akibat keinkonsistenan otak dan telinganya. Tiga hari mencoba profesional dan hari ini dia benar-benar gagal. Dia telah berusaha pergi ke kantor lebih cepat, menghindari Arga yang mengajaknya pulang bersama, meminta pria itu menjaga jarak darinya. Namun tetap saja dia tidak bisa lari. Gosip tentang Arga dan Kimy mengusiknya, tentang keakraban sepasang insan itu saat tiba di kantor pagi ini, pagi kemarin dan kemarin lalu atau saat acara perkenalannya bagaimana Kimy menanyakan keadaan luka di pelipis Arga Utama karena lemparan ponselnya- bagaimana Arga mencondongkan keningnya agar dapat dilihat Kimy. Entah bagaimana makan siang di kafetaria kantor ini berubah tidak menyenangkan selama tiga hari ini. Makanannya buruk hingga Dee tidak berselera memakannya, tapi ketika Kak Aksa mengajaknya makan di luar lebih anehnya dia menolak.
"Kamu tidak apa-apa?" Kak Aksa bertanya saat Dee masih mengaduk-aduk makan siang yang ada di hadapannya.
Jangan pikir Aksa tidak tahu. Sesekali dia melirik pada arah pandang Dee. Tiga hari ini Dee berubah. Dee ingin pulang lebih cepat. Walaupun dia mengajak, Dee tidak ingin pergi kemana pun. Tidak ada diskotik. Tidak juga sekedar berjalan-jalan keliling kota berdua saja. Tidak juga mau dia ajak makan di resto luar kantor padahal seperti kali ini Dee hanya mengaduk-aduk makanannya dan terlihat tak berselera makan dan yang paling mengesalkan Dee telah melepas cincin yang dia berikan sedari tiga hari yang lalu. Ada apa dengan Dee??? Beribu tanya menggelayuti hatinya karena sikap gadis itu. Namun dia tidak pernah mendapat jawaban dari bibir gadis itu. Dee selalu berkata dia baik dan tanpa masalah.
"Ayo, balik ke ruanganmu kalau kamu tidak mau makan." Aksa berkata sambil berdiri dari kursinya. Dee menatapnya lalu bangkit berdiri. Itu ide bagus, untuk apa juga dia tetap duduk di kafetaria tanpa makan apa pun. Dee melangkah dan Aksa mengikut di sisinya. "Aku pesankan makanan dari aplikasi daring?" Aksa bertanya. Dee menggeleng.
"Nggak lapar, Kak."
"Tapi ..."
"Kakak nggak perlu khwatir. Nanti kalau aku lapar, aku janji pasti makan kok."
Aksa mengangguk. Dia menatap Dee dengan serius memastikan gadis itu baik-baik saja. Sejak pertemuan mereka di diskotik, mendengar cerita sedih Dee tentang kehancuran keluarganya, dia merasa kasihan. Namun juga nyaman bersama gadis ini. Mungkin karena mereka memiliki nasib yang sama. Mama mereka jatuh cinta pada pria lain selain papa mereka. Mamanya memilih pergi dan menikah bersama ayah tirinya dan memulai hidup baru di luar negeri. Butuh waktu baginya untuk kemudian dia bisa menerima ... sebenarnya bukan menerima takdir menjadi putra dari keluarga broken home, mungkin hanya menikmati keuntungan dari menjadi anak tiri seorang atase pendidikan yang punya peluang belajar dimana pun di seluruh dunia bahkan dengan hak istimewa berupa kekebalan diplomatik yang tidak dimiliki teman-teman asingnya. Sementara keluarga Dee mengalami hal yang lebih naas ketika mama dan papa Dee malah berakhir dengan kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Dee. Tidak ada perceraian, tapi kematian itu memaksa Dee hidup bersama selingkuhan mamanya, Arga Utama. Mereka kembali ke lantai lima belas, ruangan direktur. Ruangan itu tentu saja masih sepi. Dee duduk di kursi direktur, tepat di depan meja kerja Direktur berleter L dan Kak Aksa duduk di sisinya.
"Apa dia memberikan pekerjaan yang begitu banyak padamu?" Aksa bertanya dan Dee hanya tertawa lebar. Mengetik password dan segera komputer menampakkan background foto keluarga bahagia Dee beserta foto-foto pribadi Dee. Aksa menebak bahwa Dee sudah merubah background komputer itu. "Oya, Kakak hampir saja lupa untuk menyerahkan ini." Kak Aksa meraih sebuah kartu berwarna krem dari balik jas hitamnya, menyodorkan kartu itu pada Dee yang menatap kartu yang baru saja diulurkan Kak Aksa. Acara reunian SMA Van de Boshco.
"Kakak dapat dari mana?" Dee membaca kartu itu. Acara akan diselenggarakan akhir minggu ini, tepat di hari Sabtu depan.
"Dari Rania. Kemarin jumpa dengan dia di ..." Ahh, Aksa tidak merasa perlu menjelaskan kalau kemarin sehabis mengantarkan Dee pulang bekerja, dia terdampar di Laguna Disc and bar milik Hotel Greck untuk bertemu teman-temannya dan berakhir .... Dee tidak perlu tahukan? Namun intinya dia tanpa sengaja bertemu dengan Rania di basement hotel.
"Kakak jemput kamu dan kita datang bareng ke sana. Oke?" Aksa memastikan tepat saat Arga Utama memasuki ruangan itu dan menatap keduanya.
"Waktu istirahat sudah selesai. Berhenti menggosip dan mulai mengerjakan tugas masing-masing."
Aksa menatap sinis pada wajah yang muncul di ruangan itu. Makhluk itu selalu menjadi pengganggu antara dia dan Dee.