Aksa berhenti mencak-mencak. Pemberitahuan yang dikatakan Arga Utama jelas membuat dia bukan hanya terkejut, tapi terancam. Arga Utama menyukai Dee Cantika Pramudya sedari dulu. Alasan pria itu menjagai Dee dan seluruh harta wanita itu selama ini adalah karena perasaan itu. Aksa menatap kembali ponselnya. Dia tidak bisa membiarkan Dee jatuh cinta pada makhluk itu. Dee adalah miliknya. Dee adalah asetnya: wanita yang dia idam-idamkan selama ini, kaya raya, pintar, tapi tetap menjaga kesuciannya. Dee adalah bayangan wanita yang akan dia nikahi. Dee tidak bisa dihubungi. Hari ini dia merasa lebih baik cabut kerja setelah pertengkaran yang berakibat dengan berdatangannya orang-orang kantor untuk melerai mereka dan berakhir dengan memplototinya. HRD bahkan terdengar menanyakan pemecatannya pada Arga Utama. Pria bernama Denis, kepala HRD itu siap mengeluarkan surat pemecatannya untuk yang kedua kalinya andai Arga Utama memerintahkan, sepertinya seluruh kantor tersinggung karena dia berani melayangkan tangan pada Bos Ikdee Furniture itu. Tanpa seorang pembela, Aksa tidak merasa harus menghabiskan waktu kerjanya hari ini, lagian juga waktu kerja hari ini tinggal empat jam. Mungkin berbeda jika Dee ada di kantor saat itu. Namun entah dimana kini gadis itu berada. Dia hilang bagai di telan Bumi.
Berputar-putar di jalanan untuk beberapa waktu, deretan pesan singkat berdentang mengusik Aksa. Meraih ponsel di saku jasnya, dia dihujani berpuluh notif dari sebuah nama.
Km dimn sih?
Kl punya suami mcm km, wkt lahiran, bayinya dah brojol km blm nongol.
Sesibuk apa sih km? Kerja. Kerja. Dihubungi jg gak bisa. Krj di perusahaan bokap gue aja. Blng sm aq brp gaji yg km mau? Brp x sih harus aq minta ke km?
Awas kalau km sama cewek lain.
Aq keburu tua, baru km dtg.
Km dimn?
Ada puluhan PING di deretan pesan Aksa menuh-menuhi memori ponselnya saja.
And so Saly cant wait
She's know it's to late
As we"re walking on by
Baru membaca pesan-pesan itu, suara Oasis Don't look back in anger yang jadi back song panggilan ponsel Aksa yang dibuat wanita itu untuk dirinya sendiri terdengar. Aksa menatap nama di layar dengan sedikit acuh. Membiarkan lagu itu berbunyi beberapa saat lebih lama sebelum dia mengangkatnya.
"Uhh, akhirnya kamu angkat juga." Suara cewek terdengar dari seberang sana. "Masih sibuk?"
"Hmm."
"Bukan mau menghindarikukan? Atau aku perlu minta Om Sagita bicara sama Om Mardani?'" Aksa menarik sudut bibirnya kesal. Mardani itu ayah tirinya dan Om Sagita adalah pejabat tinggi di kementerian luar negeri yang punya chanel bahkan ke kepresidenan untuk menentukan nasib seluruh atase dan duta besar negara Indonesia dan sialnya orang itu adalah Om kandung Sharone.
"Bisa nggak sih kamu berhenti ngancam aku? Kamu sadar nggak kalau hubungan yang kita rajut ini bukan hubungan yang sehat?"
"Kamu sih yang slalu cari masalah. Kamu udah janji sama aku, sama ke ..."
"Ini aku lagi di jalan tau. Bawel," Aksa memotong ucapan itu dengan cepat. "Nanggapin telpon kamu terus malah memperlambat aku sampe di rumah kamu tau."
"Iya deh." Gadis itu tertawa pelan. Lalu menyambung usai tertawa, "Emang kamu udah di jalan mana, Sayang?"
"Bentar lagi juga nyampek. Tungguin aja." Aksa mematikan panggilan telponnya dan kembali berkonsentrasi menyetir. Niatnya tadi ingin mencari Dee, tapi sepertinya dia harus menunda hal itu. Sharon memiliki sifat pengadu. Sedari awal hubungan mereka gadis itu mengekangnya dengan ancaman-ancamannya. Terutama mengancam kedudukan ayah tirinya, ancaman yang bisa membuat dia berakhir dengan kerepotan karena bawelan mama dan suami barunya itu yang akan menelponnya berulang kali tanpa henti bahkan mengancam akan menghentikan seluruh fasilitas yang dia peroleh dari ayah tirinya itu.
***
Arga meringis kesakitan saat Mario mengobati luka memar di sudut bibirnya. Setelah mendengar penjelasan darinya, bukannya menerima empati, Mario nyaris memaki kebodohannya. "Mau membuat skandal lebih besar di depan seluruh karyawan kantor?" Mario mendumel kesal, "kenapa kau tidak sekalian membawa kabur Dee? Menculiknya dan lakukan pernikahan paksa."
Arga menatap Mario takjub seakan sahabatnya baru memberikan ide yang sangat bagus dan cemerlang yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh satu makhluk pun di dunia ini. Lalu dia berkata dengan senyum jahilnya, "Woow, darimana kau dapat ide yang sangat cemerlang itu? Terima kasih dan akan kupikirkan. Mungkin akan kulakukan saat aku setengah sadar."
"Dasar sinting." Arga tertawa lebar mendengar makian sahabatnya itu yang segera melemparkan kantong es kepadanya yang segera ditangkap Arga dengan tepat dan segera meletakkan kantong es itu sesaat di sudut bibirnya. Pikirnya melayang tentang keberadaan Cantik. Kemana gerangan gadis itu pergi usai kebodohan yang tidak sengaja dia lakukan pada gadis itu. Seluruh karyawan berlarian ke ruangannya karena pertikaian antara dia dan Aksa dan andai dia tidak mengusir pergi semuanya- ruangan ini pasti masih dipenuhi oleh para karyawan yang kepo. Namun tak ada Cantik diantara mereka. Semarah itu kah gadis itu padanya?