Mobil Aksa melaju pelan menyusuri jalanan yang tidak begitu Dee kenal. Jakarta Selatan. Dia menatap wajah Kak Aksa. "Kak, kita mau kemana sih?" Dee bertanya gusar. "Ke apartemenku."
"Ke apartemen Kakak? Uun .. tuk ... a .. pa?" Suara Dee terpatah-patah.
"Membantumu melupakan apa yang tadi kau alami di kantor." Mata Dee membulat menatap Kak Aksa. Jangan bilang kalau Kak Aksa melihat kejadian itu-saat Arga Utama menciumnya. "Aku melihatnya, Dee." Kak Aksa menjawab seakan-akan bisa membaca apa yang ada di pikirannya. "Juga melihat bagaimana kau menamparnya. Si Brengsek itu memang pantas mendapatkannya ..."
Dee mendesah. Dia bahkan tidak bisa memahami perasaannya. Dia benci melakukan itu pada Arga Utama. Dia benci menyakiti pria itu karena hal itu menyakiti hatinya juga. Kenapa hubungan mereka begitu rumit? Kenapa takdir mempertemukan mereka dalam kisah yang membuat dirinya harus terus membangun benteng tinggi buat pria itu?
Dee mengepalkan tangannya, menahan rasa sesak ini sendiri.
"Pejamkan matamu." Kak Aksa bicara lembut. Lalu untuk sesaat Dee menyadari entah sejak kapan Kak Aksa telah menepikan mobilnya.
"Tapi buat apa, Kak?" Dee bertanya bingung.
"Pejamkan saja. Dan Kakak janji kamu akan melupakan kejadian itu." Dee menurut, memejamkan matanya, menebak-nebak apa yang akan dilakukan Kak Aksa untuk membantunya melupakan seorang Arga Utama, seseorang yang dalam hidupnya nyaris sama seperti batu karang di tengah lautan yang bahkan tidak terkikis dan hancur oleh terjangan dan hempasan ombak besar. Beberapa detik memejamkan matanya, Dee membukanya dan menemukan wajah Kak Aksa nyaris tanpa jarak dengan wajahnya. Bibir Kak Aksa siap menciumnya ...
Dee refleks mendorong tubuh itu hingga terjengkang ke jok supir. Lalu membuka pintu mobil dengan cepat.
"Dee, Dee," Aksa memanggil sambil membuka pintu mobil yang terasa macet. "Kakak minta maaf, Dee, tapi itu karena Kakak cinta sama kamu. Biar kakak antar kamu pulang ..." Aksa menarik nafas lega saat akhirnya pintu mobil di sisinya terbuka. Lalu bergegas keluar.
"Nggak usah, Kak. Dee naik taksi saja." Dee menyetop sebuah taksi yang tengah melintas di hadapannya bahkan sebelum Kak Aksa bisa berkata apa-apa, dia telah berlari memasuki taksi dan menutup pintu taksi kembali. Meninggalkan Aksa yang berlari mencoba menggapainya. Namun gagal.
***
"Om, mau lihat-lihat sekolah Kimy yang dulu?" Kimy menawarkan sesuatu yang selama ini menggelitik benak Arga. Jadi tanpa Kimy harus meminta dua kali, Arga menyetujui.
Sudah sangat sore ketika mereka memasuki kawasan Van de Boshco. Sekolah swasta yang cukup bonafid itu nampak megah dan sangat luas. Ada enam lantai bangunan dengan berleter U di sekolah itu berisi kelas, ruang para guru dan kepala sekolah SMP dan SMA, laboratorium kimia, fisika dan biologi, ruang komputer, ruang ekstra kurikuler seperti ruang musik, tari, kolam renang indoor, lapangan basket indoor, walaupun para siswa juga bisa memanfaatkan halaman sekolah mereka yang luas untuk berolahraga di beberapa fasilitas lapangan out door seperti lapangan untuk futsal dan lari.
Seorang penjaga sekolah yang nampak tua tengah duduk ngasoh di bawah sebuah pohon akasia. Arga memandangi pohon berdaun lebat yang terlihat sudah setua pria yang duduk di bawah naungannya itu. Arga bisa meyakini bahwa di bawah pohon rindang itulah Cantik pertama kali menemukan kertas soal matematika yang menghantarkan ke kelas akselerasi.