Kepada pembaca di bawah umur, bab ini berisi sedikit konten dewasa yang sebenarnya sudah diusahakan untuk tidak terlalu vulgar. Namun harap men-skip saja.
Hujan masih turun dengan derasnya ketika Dee tiba di rumahnya dengan tubuh basah kuyup dan Mbak Hanum beserta seorang pekerja rumah berlari menghampirinya dengan sebuah payung untuknya. "Mbak tolong bayarin, ya. Nanti kalau Dee dapat gaji Dee bayar," Dee berujar di sisi pintu taksi pada Mbak Hanum.
Mbak Hanum sebenarnya ingin meledek nonanya itu: 'masak orang kaya ngutang sama orang miskin.' Namun melihat wajah lesu nonanya dia mengurungkan niatnya. Bukan waktunya untuk bercanda. "Nggak perlu dipikirin, Non. Non, masuk gih." Mbak Hanum melirik temannya yang segera memayungi Dee keluar taksi dan melangkah ke dalam rumah, sementara Mbak Hanum membayarkan ongkos taksi yang Dee tumpangi.
Menatap gesturnya di balik dinding kaca ruang depan, Dee merasa tidak jauh berbeda seperti kucing habis kecebur got. Basah kuyup, dekil dan terluka: bukan hanya hatinya, tapi juga lututnya. Dia melakukan ketololan melupakan bahwa di gedung SMP ada tujuh belas anak tangga antara lantai satu dan lantai dua. Dia melompati dua anak tangga terakhir dan berakhir tersungkur di lantai satu depan tangga. Untung wajahnya tidak cedera, hanya lututnya yang robek sedikit. Darah masih mengalir di lututnya yang robek itu. Menenteng sepatunya di tangan kiri dan kanan, Dee melangkah terseok. Tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya meninggalkan jejak panjang di belakangnya ketika dia memasuki rumah.
Baru menjejakkan kakinya di ruang depan, Dee menemukan sosok tinggi dengan tubuh proporsional itu mengunci langkahnya. Mata sehitam black diamond itu menatap sekujur tubuhnya dari bawah hingga atas, mempertemukan iris mereka pada satu titik. Lalu mata Dee sendiri berhenti pada bibir itu. Bibir yang dulu pernah dia cium dengan paksa dan hari ini memberinya ciuman .... Dia tidak akan pernah bisa melupakan rasa ciuman itu.
Arga menatap mata yang kini mengarah terpaku pada bibirnya. Masih semarah itukah Dee pada dirinya? Meneguk ludahnya sendiri. Arga mencoba menetralisir keadaan tak nyaman yang tercipta antara dia dan Cantik.
"Kenapa kamu bisa sebasah ini?" Suara protes itu menyapa telinganya. Dee mencoba mengingat bagaimana dahulu dia membalas ucapan pria ini dengan amarah, terasa lebih hidup baginya. "Kemana dia? Apa dia meninggalkanmu di jalan? Berapa kali harus kukatakan, dia bukan pria baik." Suara rewel Arga Utama terdengar sambil membalutkan handuk pada punggungnya, sementara Dee menebak-nebak apakah kini pria itu dan Kimy telah resmi berpacaran? Dee ingin tahu. Ingin bertanya, tapi merasa tak sanggup untuk mendengarnya. "Kamu bisa sakit."
Demi Tuhan, Dee tidak merasa sanggup menerima perhatian itu dan sebelum pria itu menyadari bagaimana kencangnya debaran jantungnya, Dee meraih handuk dari tangan Arga.
"Aku bisa mengeringkan tubuhku sendiri." Dee berujar sambil melangkah terus menaiki anak tangga diantara suara Arga yang memastikan pekerja rumah sudah menyiapkan air mandi yang hangat buat Cantik.
Arga memandangi langkah Dee dalam diam. Kaki gadis itu terseok, ada luka di tumit kanan dan kirinya, kalau dia tidak salah lihat di lutut gadis itu juga ada luka baru yang menganga. Apa sebenarnya yang dialami oleh Cantik? Siapa yang menyakitinya seperti itu? Batin Arga menebak satu nama. Lihat saja Aksa Brandon Salim kalau aku tahu kau yang melakukan hal ini padanya aku akan menghajarmu kembali, Arga berjanji pada dirinya sendiri.
***
Dee sudah duduk manis di depan kaca riasnya walaupun, masih dengan piyama mandi. Mbak Hanum membantu mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Aroma shamponya mengular memenuhi ruang tidurnya.
"Non kenapa?" Mbak Hanum bertanya, "Pergi kerja senang kok pulang kerja jadinya begini? Apa Non bertengkar lagi dengan Pak Arga?" Mbak Hanum bicara dengan hati-hati takut malah bakal memperparah suasana hati nona nya itu. Dee menggeleng lebih karena merasa Mbak Hanum tidak perlu mengetahui insiden kecil yang terjadi siang tadi di kantor.
"Dee mau tidur, Mbak. Kalau Mbak keluar nanti pastiin nggak ada yang boleh menganggu aku, ya."
"Tapi, Non belum makan malam. Makan dulu, ya, Non." Mbak Hanum membujuk gadis itu.
"Nggak usah, Mbak. Dee nggak selera. Mau tidur aja."
"Kalau begitu minum susu, ya? Mbak buatin." Mbak Hanum berlalu secepatnya sebelum Dee berubah pikiran. Beberapa menit kemudian saat Dee masih memandangi diri di depan cermin, pintu kamarnya terkuak kembali. Membalikkan badan, Dee menemukan Arga Utama muncul di ambang pintu kamarnya dengan kotak P3K. Dee beranjak dari tempat duduknya. Berdiri menatap lelaki yang kini telah berganti pakaian dari dandanan resmi kini berganti mengenakan pakaian santai berupa kaos dan short pant selutut. Pakaian itu mencetak tubuh Arga yang sempurna. Rambut Arga masih sedikit basah oleh air mandi. Aroma sabun mandi pria itu segera merasuki penciuman Dee.
"Ada apa? Kenapa kesini?"
"Duduk di sini."
"Aku baik-baik saja. Keluarlah." Arga meletakkan kotak P3K di tangannya pada sofa hitam di kaki ranjang, bergerak menuju ke arah Dee lalu jemari tangan itu menyusup diantara jemari tangan Dee, melahirkan gelombang panas di sekujur tubuh Dee.
"Apa kamu sadar kalau kakimu terluka?"