I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #30

30. Tawaran Aksa

Aksa mengerang geram. Ada lima puluh panggilan dari Mamanya. Ada deretan message di WhatsApp, short message sistem bahkan di email nya. Semua memintanya untuk meminta maaf pada Sharone. Ouch, dia tidak berniat minta maaf sedikit pun dan merendahkan harga dirinya di hadapan Sharone.

"Ada apa, Kak?" Dee bertanya saat Aksa terlihat sibuk dengan ponselnya. Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hari ini mereka memilih makan di luar daripada di cafetaria kantor.

" Makan apa?"

"Samain aja dengan pilihan Kakak." Dee tak berniat melongok pada booklet menu toh dia makan di sini juga bukan untuk mencari rasa makanan, dia hanya sedang enggan menatap keakraban sikap Arga dan Kimy. Uuh, belum jadian aja mereka sudah macam perangko dan amplop surat apalagi setelah benar-benar jadian kemarin. Dia menebak Arga dan Kimy bukan lagi bagai amplop dan perangko, tapi bagai kalimat di atas kertas dan si kertas, tak terpisahkan kecuali menghancurkan si kertas. Yah, Dee lupa di zaman ini ada yang namanya Tipe-X.

Keduanya mengobrol hal-hal ringan yang terjadi di kantor sampai waiters datang dan membawa pesanan mereka. Nyaris tiga puluh menit kemudian mereka menyelesaikan perbincangan singkat ini dan Aksa bergerak untuk membayar makanan yang mereka santap.

Seorang waiters berlalu sambil membawa nota bon dan kartu ATM Aksa menuju kasir. Tidak lama kemudian si waiters muncul kembali.

"Maaf, Mas bisa menggunakan kartu yang lain? Mbak kasir bilang kartu ini diblokir." Wajah Aksa mengeras. Dia jelas tahu siapa pelaku di balik semua ini.

"Biar aku aja, Kak." Dee bergegas membuka tasnya.

"Nggak perlu, Dee. Biar Kakak aja." Aksa mencegah niat baik itu. Meraih dompetnya dari balik saku jas, Aksa menyerahkan beberapa kartu lain sambil mencoba tersenyum pada Dee. Waiters kembali berlalu, meninggalkan keduanya yang mencoba menikmati sisa jus terakhir dari gelas mereka. Tentu saja Aksa dengan wajah harap-harap cemas.

Sepuluh menit kemudian waiters yang sama kembali, kali ini Dee jelas melihat ada perubahan kecil di wajah wanita itu. "Maaf, Bapak, bisa pakai uang tunai saja?"

"Maksud kamu semua kartu ini ...?" Si waiters mengangguk tanpa kata. Matanya yang hitam bundar menatap keduanya. Dee berdiri dari duduknya.

"Biar aku yang bayar, ya, Kak." Dia bergerak ke kasir bahkan sebelum Aksa menjawab. Menyerahkan kartu pentium itu pada si kasir yang dengan cekatan segera menyelesaikan pembayaran dan berakhir dengan memberikan sebuah kertas bukti pembayaran dan kartu itu kembali pada Dee.

"Thanks, Dee nanti pasti Kakak bayar." Aksa bicara.

Dee tersenyum manis. "Nggak usah dipikirin Kak. Selama ini juga Kakak udah bayarin semua yang kumakan. Kita akan jadi teman yang menyenangkan."

"Teman?" Dee melangkah dan Aksa mengikuti.

"Kita temanan aja, ya, Kak."

"Apa?'

"Kakak teman yang menyenangkan dan aku nggak mau kehilangan kenyamanan itu karena hubungan nggak penting bernama cinta."

"Apa?" Aksa menahan tangan Dee. Mereka berdiri berhadapan di sisi mobil Aksa yang terparkir di pelataran parkir resto. "Apa kamu mencoba menghindari Kakak?"

Dee menggeleng. "Aku cuma nggak mau pacaran Kak. Dan aku nggak mau Kakak nunggu aku. Kakak berhak bahagia dengan wanita mana pun."

"Tapi gue maunya sama lu, Dee." Aksa bersikeras, "Gue bahkan sudah berhayal lu bakal jadi ibu dari anak-anak gue."

Deg. Dee menelan ludah sendiri yang terasa menyangkut keras di tenggorokannya. Kenapa yang berhayal seperti itu Kak Aksa? Andai yang berharap itu adalah Arga mungkin dia akan lebih bahagia.

Ahh, apa sih yang ada di pikirannya? Dee menggerutu pada dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya