Kimy bergelayutan mesra di tangan Pak Arga saat mereka memasuki ballroom hotel Grand Canyon Hotel yang telah berubah nama menjadi Grand Hotel itu. Arga tidak bisa mencegah dirinya melirik jam tangan Rolex-nya sekali lagi. Kerumunan tamu tampak menikmati cooktail. Kimy telah berbaur dengan sempurna menyalami beberapa kakak sekolah yang dia kenal dengan akrab begitu juga Arga, dia terpaksa ikut menyalami antrian orang-orang yang tanpa akhir yang bahkan tidak dia kenal lalu lambat-laun Arga bisa merasakan senyumnya berubah kaku. Dia tidak melihat Cantik dimana pun.
***
Aksa menelan salivanya berkali-kali. Sejak menjemput Dee di salon perasaannya mulai tak terkendali. Gadis itu makin cantik dengan rias wajah yang dia gunakan dan yang paling menggugah selera Dee mengenakan gaun backless yang memamerkan hampir seluruh punggungnya. Ahh, kini pikiran Aksa menjelajah kesana-kemari dan mengingat kembali ucapan Roxy, sahabatnya- tempat kemarin dia menginap karena mamanya benar-benar membuktikan ancaman untuk memblokir password masuknya ke apartemen.
"Kalau nggak bisa mendapatkannya dengan cara lembut sedikit trik akan membuatnya menjadi milikmu. Bagaimana mungkin seorang playboy semacam Aksa Brandon Salim tidak mengetahui hal itu?"
"Maksudmu?"
Roxy meraih sesuatu dari dalam porselin bergambar kincir angin di nakas yang ada di atas kepala tempat tidurnya. Lalu menyerahkannya pada Aksa. Aksa memandangi bungkusan itu dengan serius.
"Apa ini? Narkoba?" Dia memekik. "Lu gila?! Gue nggak akan pernah menyentuh benda haram itu! Apalagi ngasihnya sama perempuan yang benaran gue suka."
Roxy terkekeh. "Itu bukan narkoba, bilang saja itu mantra pengasih dan cewek itu bakal nempel terus sama lu."
"Lu berdukun?"
"Ihhh, lama-lama gue bete juga bicara sama lu, ya ... ini aprodisiak." Aksa meraba pelan kantong jasnya. Melirik pada Dee yang duduk di sisinya sambil mengunyah permen karet di mulutnya. Melihat bibir itu membuat dia ingin menarik tengkuk gadis itu dan melumat bibir itu.
Damn! Gadis ini selalu membuat dia gila!
Mulut Dee berhenti membuat bola balon dari permen karet yang ada di mulutnya. Berganti, matanya yang kini bergerak cepat memandangi areal sekitarnya. Sejak mobil yang dikendarai Aksa bergerak memasuki kawasan Hotel ini, dia merasa tak nyaman lalu menyesali diri karena bahkan tidak memeriksa dimana lokasi reuni ini dilangsungkan. Grand Canyon Hotel. Hotel itu pernah menjadi milik Papanya dan kini telah berubah kepemilikan bahkan berubah nama, itu kenangan menyakitkan demi mempertahankan Ikdee Furniture walau sebenarnya bukan hal itu yang mengganggunya.
Mereka melintasi resto dan masuki elevetor lalu menemukan sepasang insan yang tengah bermesraan di sana dan sama terkejutnya dengan mereka saat mereka memasuki lift itu. Memilih ke sudut belakang, kedua orang itu terlibat pembicaraan tentang hubungan mereka.
"Kapan kau akan menceraikan isterimu?"
Dee menarik nafas sesak mendengar perbincangan itu. Itu jelas bukan tentang dirinya dan hidupnya, tapi deretan kalimat dua penghuni lift selain dia dan Kak Aksa menguak kembali kenangan tujuh tahun yang lalu. Pertemuan pertamanya dengan Arga Utama sebagai selingkuhan mamanya di resto hotel ini .., mengingat hal itu selalu membuat mood nya berantakan. Ia benci karena sampai saat ini satu-satunya pencariannya atas kebenaran perkataan Arga bahwa mamanya mengidap cancer dan pernah dirawat di rumah sakit Internasional Fudda belum berhasil. Pegawai rumah sakit belum menghubunginya untuk memberi informasi tentang penyakit almarhum mamanya.
Saat mengingat bagaimana dulu Arga Utama tertawa bahagia ketika menerima telpon mamanya, dia mulai berpikir mungkinkah dahulu ada masa di mana pria itu pernah mencintai mamanya? Dan saat mendengar pembicaraan kedua orang di belakangnya, pikirannya bagai sebuah bola api yang liar membawanya pada beribu kemungkinan terburuk dan salah satu kemungkinan terburuk itu kini membakarnya .... Pemikiran mungkinkah Arga Utama dan mamanya dulu-sama seperti pria dan wanita yang ada di balik punggungnya itu, pernah berkencan di salah satu kamar hotel ini ...??? Bercumbu di atas ranjang ...
Dee mengepalkan tangannya dengan gemetar.
"Sayang, tenanglah. Kendalikan dirimu, ada orang lain di sini." Pria itu berbisik pada wanita yang ada disisinya itu walaupun, masih bisa didengar orang lain dengan jelas.
Sinting! Dee bisa gila jika memikirkan hal ini terus.
Ting.
Pintu lift membuka. Ada beberapa detik lagi setelah Aksa keluar dari sana, Dee masih berdiri di dalam lift. Membalikkan badannya, dia menatap dua insan itu lalu meraih sisa permen karet di dalam mulutnya dan menempelkannya ke dahi wanita itu. Mirip tempelan kertas jimat sakti di film-film vampir dari Negeri Tirai bambu. Teriakan histeris wanita itu terdengar memakinya, tapi segera hilang tertelan lift yang menutup. Dee menatap Aksa yang terkaget-kaget atas tindakannya dengan tawa cekikikan. Menyusupkan tangannya di lengan Aksa, dia menarik tangan kakak kelasnya itu. Tubuh Aksa menegang. Sentuhan lembut Dee seakan bola api yang membakar tubuhnya.
Damn! Dia tidak pernah begitu mendamba seseorang seperti yang kini dia rasakan pada Dee. Ketika menjejakkan kaki keluar dari lift, pada langkah ke tiga menuju ballroom- dia telah memutuskan Dee harus jadi miliknya untuk selamanya dan malam ini akan menjadi awal hubungan barunya dengan Dee.
Tonight you belong to me, Dee, batin Aksa berbisik.
***
Arga melirik pintu ruang ballroom dengan frustasi karena Cantik tidak juga kunjung datang bahkan kini kecemasan menjalari hatinya. Apakah terjadi sesuatu? Cantik telah pergi dari rumah sedari tadi, jauh lebih cepat darinya. Bahkan sebelum dia sempat melihat bagaimana penampilan gadis itu, tapi kenapa tetap belum tiba di tempat ini? Apa yang dilakukan Aksa padanya ...