I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #32

32. Anugrah atau Cobaan

Aksa muncul agak lama setelah sukses terbebas dari tatapan curiga mata Davina, menyodorkan segelas jus jeruk dingin yang telah sukses dia masukan pil terakhir dari Roxy ke tangan Dee yang saat itu tengah berbincang dengan beberapa teman. Band di depan tengah memainkan musik nge-beat dan beberapa orang telah berada di depan sana siap menari tik tok.

"Kok lama, Kak?" Dee bertanya sambil meneguk minuman yang diberikan Aksa ke tangannya hingga habis setengah gelas.

"Ikutan yuk, Dee." Tangan Dee ditarik beberapa teman membuat Dee terpaksa menurut, memberikan gelas itu kembali ke tangan Kak Aksa.

"Dee, tapi lu bilang lu haus?"

"Nanti aja, Kak." Dee melambai sambil bergerak menjauh. Aksa menahan rasa kesal yang menggelayuti hatinya. Malam ini sepertinya bukan malam yang baik untuknya sejak kemunculan Davina. Perasangka Aksa makin besar saat melihat sosok yang muncul secara tiba-tiba dihadapannya. Wanita itu juga bisa melihat keterkejutan di wajah Aksa.

"Aku belum menjadi hantu seperti mantanmu itu. Kenapa kau seterkejut itu melihatku?"

"Kenapa kau disini?" Aksa bertanya sinis. Bibirnya tak bergerak, tapi rahangnya terlihat mengeras.

"Bagaimana kukatakan ... Panitia meminta keluargaku menyumbang dalam Charity even dan kami dapat satu undangan. Kau tidak lupa siapa keluargaku kan?" Sharone menyentuh wajah Aksa dengan lembut. Darah Aksa terasa bergejolak seperti letupan magma di dapur vulkanik. Sentuhan sekecil itu membuat dia nyaris terbakar jadi debu. Namun dia harus waras. Dia menginginkan Dee bukan Sharone. Waras ... Dia harus waras ... "Apa dia gadis bernama Dee?" Mata Sharone yang kini berwarna emerald itu menatap ke barisan penari dadakan di depan sana.

"Hubungan kita sudah berakhir."

"Seperti cinta yang dimulai dari persetujuan dua pihak, putus juga butuh persetujuan kedua belah pihak atau kau akan kena pinalti. Apa kau punya cukup uang jika aku meminta ganti rugi?" Sharone tertawa. Lalu meraih gelas di tangan Aksa yang mencoba mempertahankan gelas itu. Namun gagal saat isi gelas itu menyumpahi jasnya dan mengakibatkan dia lengah. Gelas itu berpindah ke tangan Sharone.

"Itu bukan buatmu."

Bukan mendengar Sharone malah meneguk habis isi gelas di tangannya. "Mary me."

"Nonsense. You knowing from beginning you and me it's just having fun."

"But this baby doesnt know." Sharone menyentuh perutnya yang untungnya belum membuncit.

"I don't care. It's all your problem, not my."

"Brengsek, aku tidak mau bayiku lahir tanpa ayah." Sharone memekik tertahan. Wajahnya telah memerah menahan amarah dan perasaan aneh yang menggebu-gebu di dadanya saat menatap bibir Aksa. Damn, dia tahu dia sangat menyukai Aksa, tapi dia harus waras ... "Kau ingin semua orang tahu apa yang sudah kita lakukan? Termasuk gadis bernama Dee itu? Kau tahu aku orang yang nekat. Dan coba pikirkan jika saat ini aku berlari ke depan panggung, mengambil mikrofon dan membicarakan semua. Coba jika orang-orang tahu Aksa Brandon Salim ..."

"Kau yang akan mempermalukan keluargamu."

"Dan keluargaku benar-benar akan menghancurkan keluargamu hingga ibumu sendiri tak akan menganggapmu sebagai anak."

"Sialan, kau!' Aksa menarik tangan Sharone dengan keras, nyaris seperti menyeretnya dan Sharone tidak keberatan mereka keluar dari party menyebalkan itu.

***

Pesta masih berlangsung ke acara hiburan. Para tamu pria tampak makin merapat ke panggung dengan acungan ponsel mahal saat pembawa acara meneriakkan dua nama artis luar negeri MLTR dan dari Korea Selatan Hyorin dari grup Sister yang nampak berani dalam penampilan panggungnya yang identik dengan sensualitas dan keseksian. Rupanya panitia menyimpan dua artis luar ini untuk performa di dua jam akhir acara reuni.

Saat para tamu disibuki performance of Hyorin, Arga malah diam-diam mencari Dee. Dia tidak menemukan Dee dan Aksa dalam kerumunan orang-orang di ballroom. Dalam kecemasan, kakinya bergegas ke luar ballroom.

"Mbak, Anda baik-baik saja?" Suara khwatir itu terdengar dari lorong luar ballroom. Dari kejauhan Arga bisa melihat Dee telah mencegat dua orang waiters food and beverage yang hendak menuju ke dalam ballroom. Dia menuangkan minuman ke atas kepalanya dan menimbulkan protes dari sang waiters.

Arga bergegas menghampiri Dee yang telah basah kuyup. Tangannya bergerak meraih botol keempat equals water yang sedang disiram Dee ke dadanya, menarik botol itu dan menyodorkannya kepada waiters yang memandangnya takzim.

"Pak Arga."

"Biar saya yang urus gadis ini. Salah satu dari kalian segera ke dalam ballroom. Mereka kehabisan air minum dan kamu tolong segera keringkan lantai ini."

"Baik, Pak." Arga menggerakkan tangannya sebagai isyarat meminta kedua waiters itu berlalu. Waiters itu bergegas mendorong meja dorong berisi aneka minuman menuju ke ballroom setelah memberi hormat takzim pada Arga dan yang lain segera turun dengan lift pegawai hotel untuk mencari alat pembersih lantai. Arga agak lega ketika keduanya telah berlalu.

Lihat selengkapnya