Mereka tiba di rumah Kimy yang nampak sepi ketika jam telah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Membuka pintu gerbang rumahnya, Kimy bergegas hendak masuk lebih dalam ke pekarangan rumah ketika suara Mario terdengar memanggilnya. Kimy membalikkan tubuhnya menatap Mario.
"Boleh saya minta kembali helm dan jaket saya? Udara malam agak dingin."
"Ohh ... Iya.. " Kimy tersenyum kikuk saat menyadari bahwa dia membawa kabur kedua benda itu. Dengan perlahan Kimy mencoba membuka helm yang ada di kepalanya, tapi gagal. Mario lah yang kemudian terpaksa turun dari atas motornya dan membantu Kimy membuka helm itu. Aroma tubuh Pak Mario menyusup di penciumannya, maskulin banget. Pak Mario bahkan sempat-sempatnya merapikan anak rambutnya yang acak-acakan setelah pria itu membuka helmnya. "Bapak nginap saja di sini." Kimy menahan gerak Mario yang hendak menghidupkan kembali motornya. Mario melirik telapak tangan yang menempel di lengan kanannya itu. Dilirik begitu membuat Kimy buru-buru menurunkan tangannya. "Maksud saya, ini sudah malam. Kita beruntung begal-begal tidak menyasar kita, tapi keberuntungan tidak datang dua kali. Lagi pula kedua orang itu juga mengancam akan memanggil teman-temannya, kalau mereka menyisir jalanan ... dan jika Bapak terluka, saya akan menyalahkan diri saya. Bapak nginap saja di sini, ya? Saya janji nggak akan ngapa-ngapain Bapak ..." Kimy mengangkat kedua jarinya. "Janji pramuka malah."
Mario tertawa. Ganteng. "Memang ngapa-ngapain apa yang kamu maksud?" pertanyaannya membuat Kimy mengingat kembali hasil penguntitan yang dia lakukan di kamar 504 lantai sepuluh Grand Hotel, suara Dee dan Pak Arga- wajah Kimy bersemu merah. Dee mencumbu Om Arga like grazy. Ya, malam ini rasanya Kimy ingin gila juga agar dia bisa melupakan rasa sakit akibat patah hati dan penghianatan ini. Dua orang yang begitu berarti baginya melukainya dengan sangat sempurna. "Memang kamu nggak takut kalau sayalah yang malah ngapa-ngapain kamu?" Mario menggoda.
"Aa???"
"Saya laki-laki loh." Mario menghentikan pandanganya pada wajah Kimy yang sedikit berantakan akibat air mata. Gadis itu menangis karena sahabatnya- Arga Utama, bahkan nyaris kenapa-kenapa jika dia telat datang. Dia harus menjitak kepala sahabatnya itu besok. Kimy masih gelagapan. Tawa Mario terdengar pelan. "Nggak perlu khwatir, saya nggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Saya terima tawaran kamu." Mario melongos mendorong motornya masuk ke dalam pekarangan rumah saat Kimy masih tercenung di depan pagar yang menganga lebar. "Saya masukkan motor saya dimana? Rumah atau garasi?" Mario bertanya. "Motor saya harganya sama dengan mobil loh."
"Garasi, Pak." Kimy menjawab dengan kaget lalu bergegas mengunci pagar dan berlari ke depan garasi untuk membuka pintu garasi. Menunggui Mario memasukkan motornya dan mengunci kembali pintu garasi itu.
***
Mario tak bisa memejamkan matanya. Dia tergolek di atas sofa besar di ruang keluarga Kimy. Di depannya tepat kamar Kimy berada. Pintu kamar itu tertutup rapat. Rumah ini hanya memiliki dua kamar dewasa, milik Kimy dan orang tuanya yang dapat datang tiba-tiba, lalu dua kamar anak-anak dengan ranjang seusia anak-anak, yang satu usia enam tahun dan satu lagi kamar bayi dengan ranjang bayi. Dia enggan menempati kamar orang tua Kimy jadi di sinilah dia terdampar.
Menerawangkan pandangan ke langit-langit rumah, Mario mengingat kembali saat Arga menelponnya.
"Kau dimana? Sedang apa?"
"Kau sadar ini sudah jam berapa? Kalau ini soal pekerjaan, aku sudah tidur."
"Ini bukan soal pekerjaan."
"Jadi maksudmu .., kau merindukanku? Apa Dee mematahkan hatimu lagi di acara reunian?" Tawanya terdengar keras. "Aku masih straight."
"Ini bukan waktunya bercanda. Kau dimana?"
"Di rumah Kak Larasati."
"Great. Aku butuh bantuannu untuk menjemput Kimy dan mengantarnya kembali ke rumahnya. Sekarang juga."
"Memangnya kau dimana? Kau pergi ke reunian bersamanyakan? Kenapa bukan kau sendiri yang mengantarnya pulang?"
"Aku menjaga Cantik."
"Apa?! Kau bersama Dee dan menelantarkan Kimy?! Kau tahu itu sangat ..."
"Seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minumannya dan membuat dia tidak terkendali."
"Maksudmu? Dia mengamuk dan marah padamu?"
"Lebih parah, jadi aku tidak bisa meninggalkannya ... Sekarang tolong jemput Kimy." Arga buru-buru menutup telpon saat samar-samar dia mendengar suara Dee.
Di dalam kamar tidurnya, Kimy juga tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya berkelana pada kejadian di kamar 504 lantai sepuluh. Membayangkan hal itu membuat dia makin tak nyaman. Beranjak dari tidurnya, Kimy menguak pintu dan melangkah keluar kamar, dia butuh minum. Di ambang pintu matanya bersua dengan mata Mario yang segera bangkit dari posisinya.
"Bapak belum tidur? Kenapa? Apa sofanya kurang nyaman?"
"Kamu juga nggak bisa tidur? Kenapa?" Mario balik bertanya, "Apa tempat tidur kamu kurang nyaman? Atau karena saya ada di sini?" Senyum Mario mengembang. "Kamu takut saya bakal ngapa-ngapain kamu?"
"Bapak bercanda ..."
"Jangan panggil saya Bapak. Saya bukan bapak kamu."
"Ya kali. Kalau Bapak jadi Bapak saya bisa-bisa saya bakal kerepotan dikejar fans Bapak." Kimy tertawa kecil.
"Duduk di sini. Kita ngobrol dari pada bengong." Kimy menurut duduk di sofa. Lalu kemudian kesunyian tercipta diantara mereka.
"Kita hidupkan televisi?" Kimy bertanya.
Mario menarik sudut bibirnya, "Ya. Televisi. Jawaban dari permasalahan komunikasi di era modern."
"Kalau Bapak tidak suka ..."
"Suka. Tidak masalah. Dan satu lagi. Jangan panggil saya Bapak. Saya bukan bapak kamu." Kimy yang tengah menghidupkan televisi menoleh memandang Mario yang kemudian berdiri menghampirinya. Jantung Kimy nyaris meloncat saat tubuh Mario berdiri di belakang punggungnya. Hembusan nafas Mario menerpa sisi wajahnya. "Kita nonton ini saja." Mario mengangkat sebuah kepingan DVD dari bawah bufet televisi. Menyingkir, Kimy memberi Mario kesempatan memasang sendiri DVD itu, Compac disk itu batu dia beli satu bulan yang lalu dan belum sempat dia tonton, itu atas anjuran penjaga toko CD yang dia kunjungi.