Dee duduk manis di sisi Arga yang berada di belakang setir. Mengamati wajah itu dalam diam, semua terasa kaku setelah pernyataan cinta Arga dan jawabannya. Saat lampu hijau berubah menjadi merah, kali ini pria itu hanya memilih diam dan disibuki ponselnya. Membalas beberapa pesan yang bahkan Dee tak tahu dari siapa. Lalu saat memasuki kawasan gedung Ikedee Furniture, Arga menekan tombol panggil.
"Tahan Papa supaya jangan sampai ke ruanganku. Aku akan segera tiba." Arga menikung ke depan lobby gedung Ikedee Furniture lalu berhenti. "Turunlah. Pergilah bekerja lebih dahulu. Aku ada urusan pribadi sedikit."
"Urusan apa?"
"Kau bukan pacarku untuk harus mengetahui apa yang aku kerjakan." Arga berucap ketus, bahkan tanpa memikirkan betapa sakitnya hati Dee karena ucapannya. Dia akui dia memang mendustai perasaannya. Arga jelas tahu itu, tapi kenapa pria itu tidak bisa memahami dilemanya? Berkeras kepala, Dee balas berargumen:
"Tapi aku pemilik Ikdee Furniture dan kau pergi pada waktu kerja."
"Kalau begitu, jangan bayar gajiku. Atau pecat aku."
Dee menarik nafas. Ini akan jadi pertengkaran panjang antara dia dan Arga. Tak ada guna dia berkeras kepala saat Arga memilih menjadi kepala batu. Dee menarik handel pintu mobil. "Maaf, jika kau kesal pada ..."
"Kau berhak menjawab apa saja. Aku berhak mencintaimu dan kau berhak menolakku. Masalah kita sudah clear. Tolong turun. Aku benar-benar ada urusan." Dee tidak pernah melihat Arga Utama bicara sepanjang itu dan melewatkan waktu memandangnya. Dulu mata itu selalu mencari cara untuk memandanginya. Menyadari mungkin kehadirannya membuat pria itu tak nyaman, Dee mendorong pintu yang telah terbuka agar lebih lebar lagi lalu bergegas turun dari mobil Range Rover berwarna putih itu. Tepat saat dia menutup pintu, Arga Utama langsung melajukan mobilnya bahkan sebelum Dee sempat menyelesaikan ucapannya:
"Hati-hati."
Ada luka yang terasa di hati Dee. Ternyata dicuekin Arga itu rasanya menyakitkan. Baru saja akan memasuki lift, Dee merasakan tangannya terseret seseorang.
"Kimy. Lepasin tangan gue, Kim!' Kimy tak menggubris ucapan itu. Dia harus bicara empat mata dengan Dee, sahabat yang menjadi musuh dalam selimut bagi hubungannya dan Om Arga Utama.
Kimy menghempaskan tangannya saat mereka tiba di gedung belakang Ikdee. Dee memegangi pergelangan tangannya yang terasa sedikit sakit akibat tarikan tangan Kimy yang cukup keras. Wajah Kimy jauh dari gestur bersahabat.
"Murahan." Kata itu membuat Dee kaget seketika. Dia punya harga diri untuk tidak membiarkan siapa pun seenaknya menghinanya termasuk juga Kimy.
"Lu nggak punya hak nghina gue, Kim."
Sudut bibir Kimy terlihat menurun menciptakan senyuman merendahkan. " Lu tahu gue suka Om Arga dari awal gue lihat dia .... Gue juga pernah tanya sama lu kan? Apa lu suka dia? Lu bilang apa? Walau di dunia ini hanya tinggal dia satu-satunya lelaki-lu nggak akan pernah jatuh cinta sama dia! Tapi ... apa yang lu lakuin kemarin?! Lu sampe nawarin tubuh lu buat dia!"
"Gue nggak sebejad yang ada di otak lu!" Dee memekik emosi.
"Gue lihat sama mata kepala gue! Lu goda dia di lorong ballroom!"
"Nggak semua yang lu lihat itu adalah kebenaran." Dee menyadari kebenaran dari ucapannya. Dahulu dia melihat bagaimana senangnya mamanya saat keluar rumah atau saat menerima telpon dan membalas massage sembunyi-sembunyi. Pengalaman matanya membuat dia mengambil kesimpulan sendiri tentang Arga Utama. Lalu bersikap tidak adil dengan menyalahkan pria itu dan membencinya. Andai dia menyadari dahulu bahwa tidak semua yang dia lihat adalah sebuah kebenaran. Andai dia menyadari hal itu dahulu.... "Seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minuman gue dan Arga nolong gue sebelum gue bertindak mempermalukan diri gue sendiri."
"Oh .., lu pingin gue percaya gitu? Lu yang nelpel terus di dekat Kak Aksa ngalami itu?" Dor! Kak Aksa. Arga dan Kimy punya pemikiran yang sama, hanya Arga menuduh jelas Kak Aksa-lah yang ada di belakang keadaannya kemarin sedang Kimy berpikir tidak ada kesempatan orang bisa berbuat jahat padanya karena Kak Aksa terus menempelinya. "Bagusnya kalau lu sadar nggak semua orang bakal bisa lu bego-begoin terus percaya aja sama yang lu omongin."
"Gue nggak pernah bohongin lu, Kim. Gue akui gue salah ... waktu gue ngomong bahwa kalau pun dia satu-satunya pria yang tinggal di dunia ini- gue nggak bakal jatuh cinta sama dia ... Gue lupa bahwa nggak ada yang pasti di dunia ini termasuk perasaan gue ... karena sekarang gue sadari gue suka dia. Gue suka Arga Utama. Gue cinta dia, Kim."
"Lu munafik!" Kimy menggigit bibirnya yang gemetar emosi. Dia tahu jelas kemarin habis sudah kesempatan yang dia miliki buat memiliki Om Arga Utama. "Memang ini sifat lu dari dulu. Dari awal, lu cuma ingin merebut semua yang gue suka. Pertama Kak Aksa- lu nggak pernah nganggap Kak Aksa sampe gue bilang gue suka dia dan minta lu ngasih surat gue ke dia. Lu pikir gue nggak tahu apa yang lu lakuin sama Kak Aksa hari itu? Gue lihat lu, Dee jalan sama Kak Aksa di toko buku, makan berdua ...Gue bahkan lihat gimana lu biarin Kak Aksa cium lu! Sekarang Pak Arga ..."
"Gue nggak pernah merebut Kak Aksa dari lu!" Dee memekik. "Apalagi membiarkan Kak Aksa mencium gue! Lu salah lihat! Lu salah sangka! Kenapa nggak dari dulu lu tanyain itu sama gue kalau lu lihat gue bareng dia?! Lu udah denger cerita gue waktu dulu. Sekarang juga masih sama: gue mau kasih surat lu ke Kak Aksa dan Kak Aksa minta gue temani cari buku buat kado OSIS SMA di acara perpisahan buat para guru. Demi lu- gue ikut Kak Aksa ke toko buku, makan bakso bareng dan diserang fans berat Kak Aksa. Rambut gue ditarik, sakit tahu dan itu yang buat gue minta lu lebih baik jauhin Kak Aksa. Kalau gue tahu lu gitu kepengennya jadi pacar playboy seperti Kak Aksa dulu, gue biarin lu sama dia." Nafas Dee sampai tersengal karena bicara cepat agar Kimy tidak bisa memotong ucapannya saat dia menjelaskan semuanya pada Kimy. Menarik nafas panjang. Dee mulai mengatur suaranya. "Arga Utama cinta pertama gue dan ciuman pertama gue."