Dee baru saja hendak memasuki gedung utama Ikedee Furniture ketika suara Kak Aksa terdengar memanggilnya dari pelataran parkir depan. Hari ini sepertinya semua mereka yang mengikuti reunian datang telat ke kantor.
"Pagi, Dee." Kak Aksa muncul sambil berlari kecil ke sisi Dee yang tak menghentikan langkahnya sedikit pun. " Kamu dengarkan Kakak manggil kamu. Kok nggak berhenti?" Dee diam saja. "Kamu marah, ya, sama Kak karena nggak ngantar kamu pulang dari reunian kemarin? Kakak ..."
"Kita udah telat, Kak." Dee mempercepat langkahnya. Dia sudah berjanji pada Kimy untuk menjauh dari Kak Aksa dan dia tidak berniat pertemuan ini malah membuat Kimy merasa dirinya pendusta. Namun Aksa tak berniat menjauh. Dia menyeimbangkan langkah menjejal langkah Dee.
"Kemarin ... apa ada yang terjadi pada kamu?" Dee menatap serius pada Kak Aksa. Dipandangi dengan intens membuat Aksa buru-buru melempar pertanyaan baru. "Kamu balik dengan siapa kemarin?"
"Arga Utama." Dee bisa melihat kekagetan kembali tersurat di wajah itu. Dee bisa melihat bagaimana Kak Aksa meremas rambutnya dengan frustasi. Kepala Aksa terasa mau pecah, bagaimana dia yang melakukan trik dan Arga yang menikmati keuntungannya? Damn! Bayangan bagaimana Arga bermesraan dan ber*i*ta dengan Dee sepanjang malam membakar seluruh dirinya. "Kok Kak sekaget itu?"
"Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan? Dia bawa kamu kemana? Ke kamar hotel?"
"Maksud Kakak?" Kepala Dee berputar. Apa yang Kak Aksa tahu dari kejadian kemarin malam? Apa kecurigaan Arga benar?
"Dia nggak sebaik yang lu kira. Lu ada di bawah pengaruh obat..." Aksa menghentikan ucapannya. Amarah membuat dia salah bicara. Tapi Dee terlanjur menggugat ingin tahu.
"Apa yang Kakak tahu? Jawab aku, Kak!"
Kepalang tanggung, Aksa merasa harus berdusta kini, "Aku melihat ... maksudku seseorang memberitahuku melihat dia memasukkan sesuatu di minumanmu. Kau tidak bisa mempercayainya."
"Siapa orang yang memberitahukan hal itu pada Kakak?" Dee bertanya serius. Aksa membelai rambut Dee dengan lembut.
"Ngg ... Bukan itu intinya, Dee kamu tidak perlu tahu, Dee. Kau hanya harus menjauhinya. Dan kamu hanya harus tahu, Dee, apa pun yang terjadi Kakak akan selalu mencintai kamu."
"Hmmm." suara dehem itu membuat Dee dan Aksa menoleh pada asal suara. Pak Hanung ada di hadapan mereka kini. "Maaf, Bu Dee. Saya ada urusan pekerjaan dengan Saudara Aksa. Kita ditugaskan Pak Krisna untuk riset pasar di lapangan." Dee mengangguk.
"Silahkan saja, Pak Hanung."
"Ayo, Saudara Aksa, saya sudah lama menunggu Anda. Bisa malam kita baru selesai melakukan riset jika Anda selalu selambat ini." Aksa berpamitan dan Dee mengangguk. Sepeninggal Aksa yang ada di benak Dee kini hanya mencari tahu kebenaran akan kejadian kemarin malam.
Mengurungkan niat untuk ke kantor, Dee bergegas ke lobby kantor, mendapati seorang supir kantor dan meminta pria itu mengantarnya menuju Grand Hotel. Dia harus tahu apa yang telah terjadi semalam. Dee sangat berharap bukan Arga Utama yang berbohong padanya kali ini.
***
Dee menanti di meja depan lobby hotel di bawah lirikan mata beberapa orang yang seakan diam-diam memperhatikannya ... Ah, mungkin saja dia yang terlalu paranoid karena mengingat kejadian kemarin malam. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Koridor hotel biasanya cukup sepi jika malam dan jika diingat-ingat dari cerita Arga dan kepingan memorinya hanya lima orang yang mengetahui kejadian yang terjadi padanya malam itu, termasuk dia dan Arga: dua waiters food and beverage dan seorang pelayan kamar wanita yang dimintai tolong oleh Arga menggantikan pakaiannya yang ditumpahi muntahan. Mereka keluar dengan sangat hati-hati tadi pagi dari kamar. Arga lebih dahulu lalu dia. Mereka bahkan tidak berjalan beriringan. Arga beberapa langkah di depan. Dan yang lebih penting, mereka tak bertemu satu pun kenalan. Semua aman.
Seorang resepsionis hotel telah menerima pengaduannya dan keinginannya bertemu General manager hotel. Dua puluh menit menunggu, seorang pria berusia setengah baya itu datang ke lobby hotel dan segera di sambut resepsionis hotel yang segera menghantarkannya pada Dee.
"Selamat siang, Bu. Saya Hermawan Ardiansyah, General Manager Grand Hotel. Saya menggantikan Pak Rondman untuk menemui Anda-beliau sedang di luar kota saat ini." Dee menjabat tangan pria itu sementara si resepsionis berpamitan.
"Saya Dee Cantika Pramudya. Saya salah satu tamu di acara reunian SMA Van de Boshco kemarin malam yang diadakan di hotel ini. Ada sesuatu yang ingin saya ketahui tentang reunian kemarin. Dan saya butuh izin melihat cctv hotel." Pria itu mengamati Dee dengan serius. Sekertarisnya menambahkan informasi penting dari resepsionis tentang siapa wanita di hadapannya: wanita yang kemarin menghabiskan malam di kamar pribadi Pak Arga Utama- pewaris Vallye Corp yang menaungi Grand Hotel. Berita itu masih jadi tranding gossip di hotel ini sepanjang hari ini. Pak Arga Utama untuk pertama kali membawa seorang wanita ke kamar 504 yang sejak awal pengakusisian hotel segera dia klaim menjadi kamar pribadinya. "Apa saya boleh ..?"
"Tentu, silahkan ikut saya."
Dee mengikuti langkah pria itu memasuki lift khusus para petinggi hotel, memakai jalur belakang hotel. Dari dinding kaca lift, Pak Hermawan menebak usia Dee yang cukup muda. Gadis itu bukan hanya cantik, tapi nampak manis dengan rias wajah sederhananya.
"Maaf, kalau saya boleh tahu ..., berapa lama Anda telah mengenal Pak Arga Utama?"