Entah sudah berapa puluh kali Dee mengintip dari balik gorden, memandang jauh ke luar halaman rumahnya yang luas untuk memastikan kepulangan Arga. Namun semuanya berakhir pada kekecewaan. Arga Utama tak mengangkat panggilannya, tak menjawab pesan-pesan yang dia kirimkan.
Ada apa denganmu?
Kau dimana? Kenapa belum pulang?
Bagaimana keluargamu?
Apa semua baik-baik saja? Apa ayah dan ibu sehat?
Malam sudah cukup larut ketika Dee merebahkan tubuhnya di sofa depan. Arga Utama belum juga pulang. Menatap layar ponselnya yang berdering dari Kak Aksa, Dee memilih merejeck panggilan itu. Dia sudah mengatakan apa yang perlu dia katakan pada pria itu tadi dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan kini. Lalu Dee merasakan kakinya menyentuh sesuatu yang tergeletak di atas sofa. Kebiasaan Arga Utama yang buruk, tapi itu tak mengesalkannya lagi kini. Dee meraih jas hitam itu. Mendekapnya. Aroma khas Arga Utama mengular memenuhi pernafasannya. Entah bagaimana aroma itu membantunya terlelap malam ini di atas sofa.
Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari, ketika Arga Utama keluar dari mobil sport Range Rover dengan wajah lelah lalu bergegas memasuki rumah itu. Seperti kebiasaannya dia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke pojok sofa tamu yang dia lintasi. Baru akan melangkah terus, Arga menyadari ada sesuatu di atas sofa yang tengah mengeliat. Melongok ke atas sofa, Arga bisa menemukan Dee yang tengah tertidur lelap dengan gaun tidur biru tua sambil mendekap jasnya dan ditertimpuk dengan jas yang baru saja dia lemparkan ke atas sofa.
Berputar. Arga memilih berjongkok di sisi tubuh itu. Meraih kembali jasnya dan meletakkannya pada tempat lain. Mengamati wajah itu dalam diam, mengukir indah wajah Cantik di hatinya. Rambut Cantik yang selalu wangi, hidungnya mancung, bibir Cantik yang merah dan terasa lembut dan manis saat beradu dengan bibirnya yang bagai candu membuat dia selalu ingin mengulang lagi ciuman-ciuman mereka.
Perlahan Arga menggerakkan jemarinya dengan ragu. Menyentuh kelopak mata Cantik. Menebak-nebak akankah Cantik terbangun karena sentuhannya dan jika terbangun alasan apa yang akan dia buat nanti. Otaknya memaksa untuk berhenti.
Arga menahan nafasnya, membiarkan jari telunjuknya mengikuti naluri, menari di atas permukaan kelopak mata Cantik lalu bergerak ke atas permukaan hidung Cantik yang mancung lalu berjalan ke ceruk mungil di bawah hidung itu, untuk kemudian menyinggahi bibir merah Cantik. Dagu Cantik. Leher Cantik.
"Bapak baru pulang?" Suara itu membuat Arga buru-buru menarik jemarinya dari permukaan kulit Dee. Mbak Hanum berdiri beberapa langkah darinya. Mencoba menguasai diri, dia mengangguk. "Non Dee nungguin Bapak sedari tadi." Suara Mbak Hanum sangat pelan, seakan wanita itu takut Nonanya bakal terbangun.
Arga menatap wajah Dee lekat-lekat. Jelas gadis keras kepala ini menyukainya. Dan betapa dia cemburu pada Kimy yang menerima seluruh loyalitas Dee. Apa aku tidak lebih berharga dari persahabatanmu? Arga jelas ingat bagaimana mereka berakhir dengan pertengkaran setelah dia menyatakan perasaannya. Dan Dee menolaknya.
"Kenapa? Apa ini karena Kimy?" Dia menarik tubuh Dee yang hendak menjauhinya. "Aku tidak mencintainya. Jika kau tidak berani menyatakan hal ini pada Kimy, aku akan bicara padanya. Hanya jujurlah padaku bahwa kau mencintaiku."
"Ini bukan karena Kimy ... Ini karena aku tidak pernah menganggapmu lebih dari sekedar Om."
"Jangan bohong padaku!"
"Kenapa aku harus berbohong? Kau tahu jelas hubunganku dan Kak Aksa serius ..."
"Kau tidak mengenakan lagi cincin pemberiannya." Dia bisa melihat bagaimana Cantik kemudian tergagap.
"Aku meninggalkannya di kamar mandi ketika aku mandi. Aku hanya lupa mengenakannya."
"Lupa sejak aku menciummu?" Dia bisa melihat wajah Cantik yang memerah atas ucapannya.
"Aku tidak mengerti atas ucapanmu. Aku menanggalkannya sejak ..." Dan Dee salah bicara, tapi gadis itu masih tetap berkeras kepala. "Hubunganku dan Kak Aksa baik-baik saja."
"Teruslah menipu dirimu, tapi terima kasih karena sudah bersikap baik padaku. Hanya saja cobalah sedikit waspada pada kekasihmu itu karena mungkin saja dia yang melakukan hal itu padamu."
"Bisakah kau berpikir baik pada orang lain?! Buat apa Kak Aksa melakukan itu lalu meninggalkanku denganmu? Logikanya kita berdua lah yang ada di kamar ini dan mungkin saja kau lah yang melakukan hal itu padaku. Kau punya motif ..."
"Apa motif ku?!"
"Agar kau tidak pergi dari hidupku." Arga jelas ingat bagaimana dia menarik nafas kasar akibat kalimat itu. "Aku ingin mandi." Dan bagaimana Cantik melarikan diri dari kekakuan sikap yang terjadi diantara mereka kemudian karena kalimat itu.