I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #37

37. Diluar Rencana 1

Suara sirene mobil ambulans memecah keributan di gudang. Arga masih diam seperti tak sadarkan diri diantara suara tangis terisak dari bibir Dee. Air mata gadis itu jatuh membasahi seluruh wajah Arga, bahkan ketika para medis membawa Arga menuju ke ambulans sedikitpun Dee tak mau berpisah dari Arga. Jemarinya terjalin terus di genggaman tangan Arga. Gadis itu menemani Arga di dalam ambulans.

Dada Arga terasa nyesek. Dia ingin terbangun. Tapi tidak bisa ... Aroma antiseptik terasa memenuhi penciumannya, menyadarkan Arga mereka telah tiba di rumah sakit. Suara brankar yang di dorong keras menuju ruang IGD membuat Cantik dan berpuluh anggota gudang ikut berlari di sisinya. Arga berharap Dee sedikit menjauh darinya.

"Bu, Ibu minum dulu, ya," Bu Fera menyodorkan se-cup teh manis hangat pada Dee yang nampak terpukul. Tepat saat dokter jaga IGD memeriksa Arga Utama.

"Tolong agak menjauh sedikit, Mbak-mbak dan Mas-mas. Kita butuh sedikit ruang untuk memeriksa pasien. Jangan berkerumun seperti ini." Si dokter jaga membuka pakaian Arga. Dan seorang perawat IGD menarik gorden kasur hingga kasur Arga menutup.

Arga membuka matanya lebar. "Ba ... pak .. ?" Buru-buru Arga memberi isyarat tangan yang menempel di bibirnya membungkam mulut si dokter jaga dan seorang perawat. "Saya mau dirawat DR. Hosana."

"Tapi, Pak, prosedurnya kami akan memeriksa ..."

"Saya baik-baik saja. O ..." Arga meringis sedikit saat merasakan sakit di punggungnya. "Mungkin sedikit lembam pada punggung saya, tapi saya baik-baik saja."

"Tapi Anda sepertinya mengalami benturan ..."

"Sedikit." Arga meraih ponselnya. "Biar saya yang hubungkan dengan Doktor Hosana. Minta dia datang kemari. Katakan Arga Utama sakit." Kedua ahli medis itu terdiam, membiarkan si pasien mengambil alih prosedur. DR. dr. Hosana Sp.B adalah pemilik rumah sakit itu sekaligus direktur rumah sakit, siapa yang bisa menentang kalau pasien memiliki kedekatan hubungan dengan petinggi rumah sakit mereka. Ponsel Arga baru terhubung ketika sebuah langkah kaki tergesa terdengar dari bilik kasur ruang IGD. Arga meletakkan ponselnya dengan buru-buru ke tangan sang dokter lalu pura-pura tak sadarkan diri lagi.

"Dokter bagaimana keadaannya. Dia baik-baik saja kan?" Suara Dee terdengar. Matanya menatap pada Arga yang masih diam tak bergerak. Sesekali dia masih menyeka air matanya yang keluar seenaknya.

"Permisi sebentar, saya harus menghubungi dokter lain."

"Apa keadaannya separah itu?"

"Kami masih harus melakukan diagnosa kepada dokter yang lebih ahli dalam kasus trauma ini." Dee menahan langkah dokter muda itu.

"Berapa lama saya harus menunggunya? Siapa ahli yang akan kalian hubungi? Kenapa kalian cuma membiarkannya disini? Lakukan scanning pada kepalanya atau apa saja! Dia pingsan sedari tadi dan tidak sadar sampai saat ini ... Apa Anda sadar ini soal hidup dan mati?! Kenapa tidak sedari tadi kalian menghubungi orang itu?! Kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku akan menuntut kalian ..." Dee nyaris bicara tanpa jeda. Ini sudah tiga puluh menit dari kedatangan mereka ke rumah sakit ini dan Arga belum mendapatkan penanganan apa pun. Dada Dee sesak, air matanya jatuh lebih deras lagi. Fera, Pak Adam dan beberapa pegawai pergudangan yang ikut ke rumah sakit menghampiri Dee dan beberapa orang yang tengah berada di rumah sakit segera berkerumun menonton kejadian itu. Kebiasaan orang Indonesia banget. Fera memeluk erat tubuh Dee yang terguncang dalam tangis. Dada Arga terasa nyesek mendengar amarah Dee demi dirinya. Kalau dia bangun sekarang apakah Cantik akan jujur pada hatinya? Atau Cantik akan mendustai diri lagi begitu juga mendustainya dengan berkata air matanya karena rasa bersalah atas luka yang dia alami karenanya? Dia sudah bertekad gadis itu akan mengatakan sendiri perasaannya bahwa Cantik mencintainya: sekarang atau tidak sama sekali.

"Kemarahan Anda hanya makin memperlambat kami melakukan pertolongan padanya." Dee menurunkan tangannya dari lengan sang dokter jaga yang bergegas pergi dari hadapan Cantik.

"Saya akan ambilkan antiseptik dan salep dulu untuk mengobati luka dipermukaan kulitnya." Si perawat berlalu. Kedua para medis itu bergegas berlalu.

***

Doktor Hosana menarik keras selimut yang menutupi tubuh Arga setelah mereka masuk ke ruang operasi. CT-SCAN, MRI-SCAN telah dilakukan. Bagaimana pun Doktor Hosana tak ingin melewatkan kemungkinan terburuk, setelah menyingkirkan diagnosa terburuk dia menuruti permintaan Arga. Tangan Doktor Hosana memukul keras tubuh keponakannya yang kemudian meringis sambil tersenyum.

"Sakit, Om. Punggung aku benaran terluka." Arga bangkit dari tempat tidur, menggerakkan tangan dan tubuhnya yang terasa kaku karena pura-pura pingsan.

"Ini belum seberapa. Kamu itu ... gara-gara kamu keributan terjadi di rumah sakit. Gadis itu ... Galaknya nggak ketulungan." Arga tertawa ngakak. "Siapa dia?" Doktor Hosana terlihat ingin tahu. "Dia pacar kamu ..?"

"Calon."

Lihat selengkapnya