Suasana kamar inap Arga Utama yang VIP masih ramai ketika seorang pegawai rumah sakit bagian dapur dan gizi datang dengan senampan makan malam bagi pasien. Makanan diletakkan di atas meja di sisi sofa panjang yang bisa diubah menjadi tempat tidur. Letaknya di sisi jendela kaca dan dua meteran dari ranjang tempat Arga berbaring.
"Bapak belum lapar atau bagaimana? Jangan ditahan laparnya, Pak karena kita-kita di sini. Makan aja walaupun kita kelaparan, kan yang sakit Bapak." Suara riuh menyambut Gilbert yang memang nggak punya sopan santun.
"Kalau lapar, kamu beli makanan di bawah sana, Gil. Di bawah ada cafetaria." Gilbert mengangguk dengan bersemangat, matanya melirik pada Pak Arga yang menggerakkan tangannya meraih sesuatu di atas nakas samping ranjang. Di sana ada dompet dan ponsel Arga. Gilbert udah siap sedia saat Pak Arga bergerak untuk membantu mengambil dompet. "Ngapain kamu ...?" Arga bertanya.
"Lah bukannya Bapak mau mentraktir kita-kita??"
"Siapa bilang? Saya cuma menjelaskan di lantai satu rumah sakit ada cafetaria kalau kalian-kalian mau makan." Gilbert manyun sambil menerima sorakan memalukan dari teman-temannya.
"Eh, kalau gue sukses yang ditraktir bukan cuma gue. Lu-lu semua pasti nebeng." Gerutunya membuat tawa Arga terlihat. Lalu kemudian tanpa tahu malu perut Arga berbunyi. Damn. Dia baru ingat dia melewatkan waktu makan siang gara-gara pura-pura pingsan di depan Dee dan yang lain dan kini waktu makan malam tidak bisa ditolerir. Seharusnya dia makan.
"Tuhkan Bapak lapar," Gilbert memberitahu. Dee bergerak tepat saat Kimy yang ada di barisan paling belakang dari teman-temannya meraih nampan makanan dari nakas yang ada di sisinya. Menarik mundur langkahnya, Dee memilih bersandar ke dinding ruangan rawat inap. Berpura-pura tak peduli.
"Bu Dee." Kimy baru saja akan menyodorkan nampan itu ketika suara Arga terdengar.
"Kamu bisa bantu saya, bawa kemari makanannya. Saya tidak mau menyusahkan siapa pun." Kimy melirik pada Dee lalu pada Arga. Lalu menurut meletakkan nampan makanan ke nakas di sisi tempat tidur. Seorang pegawai Ikdee Furniture membantu memasang meja makan di ranjang Arga.
"Tapi karena saya baik hati, bolehlah. Saya traktir kalian dulu makan sebelum pulang." Suara sorak sorai terdengar. Arga meminta bantuan Kimy sekali lagi untuk membantunya mengambilkan dompetnya. Setelah dompet diberikan, Arga meraih satu kartu dari dompetnya dan menyodorkannya pada Gilbert. "Kembalikan pada saya setelah selesai."
"Iya, Pak. Pasti dikembalikan juga kok, nggak bakal saya ambil. But, thank you very very muuucchhh, ya, Pak Dirut yang baik. You are the best lah, Pak." Gilbert memuji. Disambut ucapan serempak dari rombongan yang tak diharapkan dengan ucapan terima kasih yang berlebihan.
"Ya, sudah. Pergilah makan. Tapi Kimy ..., kamu bisa bantu saya kan?" Langkah Kimy yang ingin ikut nebeng makan malam terhenti. Dia menatap Dee. "Bu Dee harus makan malam. Dia melupakan makan siangnya tadi."
Dan di sinilah Dee berada diantara riuhnya perbincangan para karyawannya di cafetaria. Entah apa yang mereka omongkan, Dee menyadari sedari tadi tak ada kesunyian yang tercipta. Mereka punya begitu banyak stok pembicaraan, sepertinya bahkan lebih banyak dari stok bahan baku kayu di gudang Ikdee Furniture. Namun Dee tak tertarik sedikit pun ikutan dalam pembicaran itu. Bukan sombong, tapi ada hal lain yang kini memenuhi pikirannya sendiri.
Uhh ..., Dee ingin tahu apa yang kini Arga lakukan bersama Kimy di kamar rawat Arga. Dee menghembuskan nafas kasar. Setelah menyantap salad sayuran dia beranjak dari cafetaria dengan alasan pada para rekan kerjanya yang nota bene anak buahnya bahwa dia harus ke toilet.
"Yakin Bu Dee bukan mau ke toilet, tapi mau kepoin Pak Arga dan Kimy. Taruhan ... Taruhan Yuk," Gilbert yang kepo berdiri dari kursinya usai Dee tak terlihat lagi "Pak Arga sebenarnya sukanya tuh sama siapa?"
"Bu Dee dong ... Nggak lihat apa waktu kita masuk ruang rawat Pak Arga mereka lagi ngapain?" Beberapa mengangguk-angguk setuju. "Jadi pengen cepat pulang biar bisa anyang-anyangan sama suami."
"Kimy, ah. Kan Pak Arga kemarin dekatnya sama Kimy."
"Pak Arga itu tinggalnya sama Bu Dee tahu." Salah seorang dari karyawan itu berceletuk dan kemudian mendapatkan seluruh perhatian teman-temannya.
"Maksud kamu satu rumah gitu?" Yang ditanya mengangguk. "Kumpul kebo gittu???"
"Soal kumpul kebo, kumpul kucing atau apa gue nggak bilang. Raisa tuh yang ngomong."
"Seriuuss lu, Montong? Benaran mereka tinggal serumah? Kalau fitnah lu kena dua kali hukuman loh, menghibah sesama dan menghibah bos sendiri. Durhaka lu."
"Terserah kalau lu nggak percaya."
"Ehh, bentar boss. Kata Bu Dee beliau bakal pulang bareng kita. Kita antarin beliau ke rumahnya. Kita bakal tahu omongan Montong benar atau bohong."
"Gue setuju!" Gibah para karyawan terus berlanjut sementara Dee telah menguak pintu kamar rawat Arga yang ternyata kosong melompong.
"Sus, pasien di kamar itu kemana, ya?" Dee mencegat seorang perawat yang melintas dari ruang rawat sebelah. Si perawat tengah membagikan obat untuk di makan para pasien pada malam ini.
"Ohh, tadi sama isterinya ke roof top katanya, Mbak." Dee memandang si perawat dengan kesal. Isterinya .., isterinya. Sok tahu banget, batin Dee merepet.