I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #39

39. Love You so Much

Entah sudah berapa puluh kali, Dee mencoba menghubungi nomor ponsel Arga Utama. Namun akhirnya sia-sia. Malam telah tinggi bahkan telah berubah subuh, jam di dinding menunjukkan angka setengah dua dini hari. Dee belum bisa memejamkan matanya juga. Dee melirik Kimy yang terlelap begitu nyenyak di sisinya. Mata Dee menatap seluruh penjuru kamar, malam ini seharusnya dia menunggui Arga di rumah sakit. Bagaimana kabar Arga? Bagaimana jika lelaki itu butuh bantuan sesuatu? Siapa yang bakal menolongnya? Apa dia sudah tidur di sana? Arga tidak mau mengangkat ponselnya. Mengabaikan pesan-pesannya.

Marahkah?

Dee menyesali diri berulang kali sejak Kimy bercerita tentang apa yang Kimy dan Arga bicarakan di rooftop rumah sakit yang nggak jauh dari seputaran harapan Arga Utama agar dia menyatakan cinta pada pria itu. Haruskah dia mengatakan perasaannya pada lelaki itu kini? Dee hanya menimbang hal itu sesaat sebelum kemudian jemarinya bergerak mengirim pesan.

I love you

I love you, Arga Utama.

Dee membolak-balik tubuhnya ke kanan lalu ke kiri. Matanya menatap kembali pada jarum jam dinding. Lama banget pagi datang. Diraihnya kembali ponselnya yang terkapar di sisinya. Dia harus menghapus beberapa, ah, bukan beberapa, tapi cukup banyak pesan cinta sebelum pagi tiba dan Arga membaca pesan-pesannya. Apa yang pria itu pikirkan nanti tentangnya?

Dee baru menghapus beberapa pesan ketika merasa tangannya lelah. Sedikit beristirahat, lalu dia akan kembali melanjutkan penghapusan pesan-pesan konyolnya.

***

Arga memandang ponselnya. Ada lebih dari empat puluh panggilan tak terjawab: lima dari papa dan mamanya, tiga dari Mario dan dua dari nomor-nomor asing, sisanya dari satu nama yang sama: Cantik. Dan ada seratus tiga puluh pesan dari beberapa sumber dan seperti panggilan masuk yang ada, satu nama mendominasi kotak pesan masuknya: Cantik.

Arga membaca kembali pesan-pesan itu. Wajahnya sumringah. Kalau bukan karena dia menelpon Mario dan diberitahu tentang Kimy yang mendatangi rumah Cantik. Dan kalau bukan karena Mario yang memintanya sedikit tak acuh pada Cantik, sudah sedari tadi dia mengangkat ponselnya yang berteriak tak henti sambil menyampaikan pemberitahuan: Cantik calling atau pesan masuk dari Cantik. Juga sudah sedari tadi dia membalas habis segala pesan-pesan Cantik, memastikan gadis itu tahu perasaannya masih tetap sama bahkan lebih parah, siapa yang bakal percaya dia kini merindukan sosok itu setengah mati saat tak bisa melihat wajah itu, padahal kan mereka baru berpisah beberapa jam.

"Dee akan datang sehabis rapat pagi. Aku meminta dia menggantikanmu memimpin rapat," Mario memberitahu.

"Gantikan dia."

"No way."

"Please, Mario." Arga memohon. Betapa dia berharap bisa melihat wajah Cantik ketika dia membuka mata pagi ini lalu sarapan sambil disuapin Cantik.

"Tidak perlu memohon-mohon. Aku tidak akan melakukannya, tugasku sudah lebih dari berjubel. Aku akan kirim kesepakatan big city sebentar lagi. Kau bisa segera memeriksanya."

"Terserah, tapi siap-siap saja. Cantik bakal meninggalkan rapat dan datang kemari."

"Ehhh, jangan bikin cerita macam-macam, ya. Aku tidak bakal mimpin rapat pagi."

"Siap-siap aja."

"Kalau kau tidak memberitahukan yang aneh-aneh atau pura-pura sakit parah, Dee tidak bakal meninggalkan rapat."

"Aku tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh, tapi dia akan datang. Taruhan, aku yakin saat pagi tiba Cantik bakal lari ke Bandung karena tempat dia berada di pelukanku."

"Sok pede."

"Tidak percaya?" Arga menantang.

"Udah tidurlah. Tidak ada orang sakit yang tidur selarut ini." Mario mematikan ponselnya dengan cepat. Matanya sudah ngantuk berat. Setelah mengirim segala file ke email Arga Utama dia buru-buru merebahkan tubuh dan terlelap.

Sementara Arga telah disibuki memandangi ponselnya. Arga merasa yakin untuk menuruti permintaan Mario menunda bicara dengan Cantik malam ini agar bisa lebih cepat bertemu Cantik, tapi dia tidak tahan untuk tidak mengintip pesan dari Cantik.

Untungnya ada Whatsap memiliki kebijakan merubah centang pesan menjadi belum dibaca, itu membuat dia bisa membaca puluhan massage itu tanpa harus membalas massage dan tanpa Cantik harus tahu dia sudah membaca pesan-pesan itu. Arga tidak bisa menyimpan senyum di wajahnya.

Trm ksh sdh menyelamatkan aq. Maaf, aq plng. Skrng km dgn siapa? Siapa yg menjgamu dsna? Apa kau baik?

Maaf.

Telepon tak dijawab.

Telepon tak dijawab.

Telepon tak dijawab.

Angkat teleponku dan jgn mrh lg.

Telepon tak dijawab.

Lihat selengkapnya