I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #40

40. Hei, Mantan

Sepeninggal Dee- Arga memilih kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu. Menarik laptopnya sedikit mendekat dan sebentar kemudian dia telah kembali disibuki oleh pekerjaan kantor.

Matahari pagi makin menghangat, tapi tak membuat Arga berniat meninggalkan tempat itu. Sesekali dia menatap ke arah tangga rooftop menanti kemunculan Dee, tapi yang ditunggu belum juga muncul. Arga milih melanjutkan pekerjaannya.

"Apa yang terjadi padamu?" Suara bariton itu membuat Arga mengangkat wajahnya dan terlihat kaget saat menemukan sosok yang ada di depannya. Entah bagaimana papanya bisa mengetahui keberadaannya. Mungkinkah Om Hosana yang memberitahukan? Kedatangan itu membuat Arga segera mencium bau-bau masalah dalam hidupnya.

"Papa." Dia berdiri dari duduknya.

"Kenapa kau tidak menghubungi kami? Apa kau pikir kau hidup sebatang kara di dunia ini?!" Alih-alih menanyakan keadaannya, Papa Arga terbiasa mencercar Arga dengan pertanyaan-pertanyaan. Seperti itulah cara papanya mendidik seorang putra sejak remaja. Tidak dimanjakan. Selalu dipertanyakan tentang keputusan yang berani Arga ambil dan diingatkan akan konsekuensinya hingga dia menjadi pribadi mandiri seperti ini. "Apa kau memikirkan bagaimana Papa dan Mamamu saat mendengar kabar tentangmu?! Tinggalkan Ikedee Furniture! Kau nyaris mati ..." Diantara sikap tegas papanya, Arga selalu tahu pria baya itu mencemaskannya.

"Papa, aku baik-baik saja."

"Wow, entah bagaimana mereka mencuci otakmu. Kau menjadi pelayan setia bagi Ayah dan anak itu. Bekerja keras bagi mereka bagai kuda perahan dan melupakan statusmu sebenarnya sebagai pewaris keluarga Utama."

Deg.

Mata Dee terpaku dan langkahnya terhenti.

"Ini tidak seperti itu, Papa. Aku baik-baik saja. Tak ada luka berat apapun. Aku tidak benar-benar menjalani operasi tulang belakang karenanya aku tidak merasa kalian perlu mengetahuinya." Langkah Dee masih terpaku di tempatnya. Tangannya masih memegang nampan berisi sarapan pagi Arga Utama. Segalanya berputar di benak Dee. Papa. Pria berperawakan bule itu adalah papa Arga Utama. Dan pria itu masih nampak marah. Lalu apa tadi ..??? Arga Utama tidak benar-benar mengalami luka itu??? Tidak ada operasi tulang belakang kerena itu Arga bisa dengan mudah mengangkat tubuhnya tadi. Juga berlarian mengejar langkah Kimy kemarin. Apa yang ada di kepala pria itu hingga melakukan hal ini??? Lalu siapa yang dituduh pria setengah baya itu telah mencuci otak Arga Utama?

Kedua pria itu masih saling beradu argumen tanpa menyadari ada seorang pengamat diantara mereka.

"Berhenti membela mereka. Jika kau begitu menyukai mainanmu itu: Papa akan mengakusisi perusahaan itu buatmu. Menjadikannya bagian dari Valley Corp."

"Papa sudah kukatakan berkali-kali, aku tidak sedang bermain-main dengan Ikdee Furniture. Dan aku tidak akan membiarkan Papa melakukan hal itu."

Deg.

Mainanmu ... Akusisi. Akusisi. Akusisi Ikdee Furniture. Valley Corp. Keluarga Utama. Kata-kata itu berpendaran di benak Dee. Dee pernah mendengar nama itu, membacanya di suatu tempat ... Dee masih bergelut dengan pikirannya ketika sejurus kemudian dia merasakan sentuhan lembut kulitnya bergesekan dengan kulit lain. Seorang gadis cantik muncul di roof top ini. Melemparkan pandang sejenak padanya yang berada di sisi tempat masuk roof top. Dee menggeser tubuhnya sedikit yang menghalangi pintu.

Entah siapa wanita itu. Dia cantik dan anggun. Rambutnya hitam sepundak dibiarkan tergerai dengan tubuh langsing. Kakinya panjang dengan high heels lima centimeter. Wanita itu mengenakan stelan gaun sederhana, tapi Dee bisa memastikan gaun itu bermerk internasional.

"Nindya sudah datang. Dia putri Pak Huda Yang, pemilik Bintang Sembilan dan Papa yakin kalian sudah saling mengenal. Jadi Papa tidak perlu memperkenalkan kalian lagikan? Papa tinggalkan kalian. Dan pikirkan semua ucapan Papa." Pria itu berlalu meninggalkan Arga yang masih dengan keterkejutan dan entah mengapa Dee memilih bersembunyi. Dia butuh waktu mencerna rivalnya. Makhluk yang ingin merebut Ikdee Furniture darinya. Bersembunyi adalah caranya menjadi kasat mata agar si rival tak tahu apa pun tentang dirinya ... Namun kemudian Dee menyadari pemahamannya salah. Rivalnya tentu telah tahu segalanya tentang dirinya. Valley Corp telah menempatkan seorang mata-mata sempurna di sisinya, lebih sempurna dari spionase Inggris bernama James Bond- si zero zero seven itu. Pria itu bahkan telah membuat dia jatuh cinta. Keluarga Utama, pemilik saham Valley Corp ... juga adalah pemilik dua puluh persen saham di perusahaannya, Ikdee Furniture. Dee ingat dia membaca nama itu di akta perusahaan dan dia ingat saat itu Arga pura-pura tidak tahu.

Dee merasa dirinya benar-benar bodoh.

"Hai, Mantan." Gadis itu menyapa Arga.

"Kenapa kau ada di sini? Bagaimana bisa kau bersama Papaku?"

Gadis itu menatap layar laptop Arga dengan santai. "Tidak ada sedikit basa-basi untuk mantan?" Ayunindia bertanya. Ayunindia, satu-satunya mantan pacar Arga Utama. Kekasih masa SMA nya yang cantik dan populer, tapi memilih berselingkuh dengan kapten tim basket SMA dan meninggalkannya. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau adalah pewaris keluarga Utama?"

"Apa ada bedanya?"

"Mungkin." Ayunindia menggumam lalu duduk di bangku panjang. "Mungkin aku akan bertahan denganmu karena tahu bahwa kita berjodoh. Karena kau adalah calon suamiku." Mata Arga mendelik tak paham. "Keluarga kita menjodohkan kita. Pernikahan bisnis. Aku pikir Papamu sudah memberitahumu dan aku kemari untuk membesukmu, Mantan, eh maksudku Calon suami." Ayunindia menyengir. Nindya selalu begitu. Tidak pernah terlihat menanggapi apa pun dengan serius. Satu perbedaan mendasar antara dirinya dan Nindya. Mungkin itu juga yang membuat Nindya meninggalkannya dulu. Dia yang serius, memperjuangkan cinta dengan sibuk belajar keras demi mengejar cita-cita dan Ayunindia menganggap dia kaku, dingin dan membosankan.

"Lalu kau menyetujuinya?"

"Apa aku harus menolaknya?"

"Apa kau jomblo setelah berpisah dari Rama? Sampai kau seputus asa itu untuk rela dijodohkan?" Ayunindia terkekeh.

"Ayunindia jomblo? Rama hanya satu dari seribu pria yang berada di belakangku dan selalu mengejarku. Kau yang menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan sebagai kekasih. Kau baik, perhatian bahkan pada semua perempuan yang minta tolong padamu, tapi kau bukan kekasih yang baik tau ... Jadi aku pikir buat apa aku mempertahankan hubungan kita. Kau tidak dendam padakukan?"

Lihat selengkapnya