I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #41

41. Back Street

"Sejak kapan kamu kenal Arga?" Wanita cantik itu bertanya saat mereka terkurung berdua di kamar mandi ini. Dee melirik sesaat ketika mantan pacar Arga Utama itu menarik turun resleting gaun cokelat muda yang ia kenakan. Mereka akan bertukar pakaian.

"Tujuh tahun yang lalu." Dee bisa melihat keterkejutan di wajah itu atas informasinya. Namun dia benar-benar tidak bohong. Dia dan Arga sudah saling mengenal sejak tujuh tahun yang lalu, saat kesalah pahaman pertama kali terjadi diantara mereka.

"Wow cukup lama juga, ya? Tapi, maaf, jangan tersinggung wajahmu nampak sangat muda. Berapa usiamu?"

"Apa itu penting?" Dee balik bertanya sambil memandang Ayunindia serius.

"Tidak juga." Ayunindia berkata cuek sambil berusaha menurunkan resleting gaunnya dengan susah payah. Menyadari tangannya tidak sampai pada resleting, dia meminta bantuan pada Dee. "Bisa bantu aku melepasnya?" Tanpa kata, Dee menurut. Menurunkan resleting itu hingga punggung Ayunindia yang halus terekspos bersama belakang bra yang dia kenakan. "Kau bisa melepas bajumu sekarang."

Dee mengangguk lalu memilih masuk ke dalam tirai shower mandi. "Apa harus seperti itu? Kita sama-sama wanita."

"Jangan pernah berpakaian seperti ini lagi. Aku tidak suka siapapun melihat tubuhmu seperti ini." Suara amarah Arga saat menemukan dia di pool party mengusik hati Dee. Dan tak sedikit pun Dee ingin membantah ucapan itu. Tapi untuk mengatakan itu dengan jujur dia agak enggan. Jadilah dia hanya menjawab singkat: "Aku hanya kurang nyaman."

"Terserah lah. Nih, baju gue." Dee melirik tangan yang terjulur dari luar gorden shower mandi. Ayunindia menjulurkan pakaiannya kepada Dee. "Cepetan dikit adek kecil." Suara wanita tak sabaran itu menganggetkan Dee. Dia meraih pakaian Ayunindia dan menyodorkan pakaiannya.

Ayunindia, sepertinya begitu nama wanita itu yang Dee dengar. Badannya sedikit lebih berisi dari Dee dan lebih pendek beberapa centimeter, nyatanya kini pakaian wanita itu agak sedikit longgar di badan Dee, tapi gaun itu kini terlihat atas lutut Dee. Dee yakin kemejanya yang slim fit terlihat makin sempit ditubuh Ayunindia dan roknya terlihat lebih panjang.

Namun bukan itu yang memenuhi benak Dee, Ayunindia kembali ke roof top karena seorang ajudan papa Arga menghampirinya di parkiran dan menanyakan mengapa dia tidak bersama Arga Utama. Ayunindia berhasil berkelit bahwa Arga menginginkan makan luar rumah sakit. Dan luar biasanya pria itu memastikan diri akan membeli makanan tersebut dan menyuruh Ayunindia kembali menemani Arga. Bukan hanya itu, seorang bodyguard lain ada di luar sana mengawasi mereka.

Sebentar saja Ayunindia telah keluar dari kamar mandi. "Cantik ..."

"Ya, ya, ya ... gue tahu gue emang cantik. Seksi."

Arga menarik nafas kesal melihat wajah Ayunindia. Wanita itu telah menghempaskan tubuhnya di sofa ruang yang ada di sisi jendela kaca ruang rawat inap. "Dee, kok lama?"

"Menurut lu?" Arga menaikkan bahu tak paham. "Mungkin dia harus mencerna semuanya. Ya, kali baru pacaran malah harus main umpet-umpetan sama bodyguard papa pacarnya. Dan menyadari dia pacaran dengan pria yang punya status calon suami orang." Ayunindia tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari jendela kaca. Dia menatap jauh keluar sana. Arga menarik nafas dalam. Bergerak ke depan pintu kamar mandi. Mengetuk pintu itu dengan cemas.

"Pacar aku lagi ngapain di kamar mandi?" Suara lembutnya terdengar membuat Nindya melirik dengan ekor matanya. Arga baik, lembut banget ... dan dulu begitu setia padanya walaupun banyak cewek sekolah yang mengejarnya. Cowok itu lurus banget hidupnya. Terlalu lurus bahkan sampai dua tahun pacaran Ayunindia tidak pernah berciuman dengan cowok itu. Jadi sangat mengejutkan ketika dia melihat Arga mengecup kedua kelopak mata gadis yang diakui Arga sebagai pacarnya itu, apalagi saat Arga hendak mencium bibir gadis itu. Gadis itu benar-benar merubah Arga Utama menjadi manusia, bukan hanya manusia, tapi seorang pria dewasa.

Dee menutup layar google. Bagaimana bisa dia tidak mengenali kedua orang dihadapannya ... Ayunindia adalah putri tunggal Pak Huda Yang, pemilik Bintang Sembilan. Pengusaha minuman berenergi yang telah merambah keberbagai usaha. Dalam deretan pengusaha Indonesia, Huda Yang berada pada posisi Pengusaha terkaya pertama dan Keluarga Utama berada di posisi kedua. Pernikahan mereka akan mengukuhkan posisi bisnis mereka dan kedudukan sosial mereka di strata teratas.

Dee menepis segala pikiran buruk yang berkecamuk di benaknya. Suara Arga terdengar dari balik pintu toilet kamar rawat dan jelas sekali cowok itu mencemaskannya. Berdiri dari posisi berjongkoknya di bawah shower, Dee berjalan dan membuka pintu. Menemukan wajah Arga Utama menatapnya dengan hangat. Lalu Dee merasakan telapak tangan Arga mengucek ubun-ubunnya seakan menyalurkan sebuah ketenangan untuknya

"Aku pinjam kunci mobilmu." Arga meminta pada Ayunindia yang berdiri dari duduknya. Arga yang punya rencana untuk pelarian ini. Dia dan Dee akan menggunakan mobil Ayunindia sehingga mata-mata ayah Arga tidak akan curiga. Mata-mata itu akan berpikir yang pergi adalah Arga dan Ayunindia. Mereka hanya perlu melewati satu mata-mata sebelum satu mata-mata lain tiba di rumah sakit dari membeli makanan yang merupakan kibulan Ayunindia. Ayunindia menyodorkan kunci dari dalam tasnya. "Supir Dee sudah menunggu di parkiran Utara. Dia akan mengantarmu kemana pun kau mau. Aku akan kembalikan mobilmu ..."

Lihat selengkapnya