I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #42

42. Backstreet- Pindah Rumah

Arga membuka pintu kamarnya ketika Cantik juga muncul dari balik pintu kamarnya. Mata mereka bersidekap. Malam kemarin adalah kencan pertama mereka, mereka pulang terlalu larut. Namun kurang tidur tak mengurangi kecantikan Dee sedikit pun. Dee tetap nampak cantik. Bibirnya di sapu lipstik pink dan aroma parfum tercium dari tubuhnya. Kali ini rambut Dee dibiarkan lepas tergerai. Cantik.

"Pagi, Pacarku yang Cantik." Arga menyapa sambil melempar senyum termanis.

"Pagi, Pacarku yang tampan." Dee menjawab sapaan Arga dengan berbisik di sisi telinga pria itu. Arga tertawa.

"Masih malu mengakui hubungan kita?"

"Siapa bilang?"

"Kok jawabnya pakai bisik-bisik begitu?"

"Jadi maunya gimana? Apa harus teriak-teriak gitu?" protes Dee sambil melirik dasi Arga Utama yang nampak kurang rapi pagi ini. Jelas pria itu nampak buru-buru pagi ini. Ya, Arga harus kedua tempat: ke gedung Ikdee Furniture lalu ke kantor Valley Corp. Kemarin Arga sudah memberitahukannya.

"Nggak juga sih."

"Tuhkan. Kamu sendiri ngomong gitu. Berarti aku nggak salahkan?"

Arga tertawa tanpa suara. "Kapan sih Dee Cantika Pramudya salah?" Dee mencebikkan bibirnya disambut senyuman lebar dari Arga Utama. "Peraturan pertama: Dee Cantika nggak pernah salah. Peraturan kedua: Kalau Dee Cantika salah, ingat peraturan pertama. Jadi yang waras wajib ikut."

"Ihhh ... Kadang kamu itu ngeselin, ya." Jemari Dee bergerak hendak mencubit pinggang Arga yang kali ini sukses mengelak dan bukan hanya mengelak, bibirnya sukses mencium pipi kanan Dee.

"Arga!"

"Jangan marah. Nanti kamu cepat tua."

"Bodo! Kan aku pacarannya sama orang tua." Dee berceloteh sarkastik, tapi disambut Arga dengan tawa. Lama-lama dia bisa awet muda, Dee awet tua. Hahaha. "Dilarang ketawa sendiri, nanti pindah rumah ke RSJ." Dee menarik keras dasi Arga hingga pria itu bukan hanya tertarik ke arahnya juga nyaris tercekik.

Saat mereka berhadapan tanpa jarak, Arga memegangi lehernya. Dee hanya tertawa, bahkan tanpa rasa bersalah- sekalian sebagai pembalasan karena Arga berani mengata-ngatai dia tadi. "Dasimu kurang rapi," Dee membuat alasan logis untuk menghindari pertengkaran. Lalu dengan telaten dia merapikan dasi yang terkalung di leher Arga dengan sempurna, lengkap dengan memasangkan jepitan dasi bersepuh emas itu diantara dasi dan kemeja Arga. Kemudian meraih jas hitam Arga yang berada di tangan pria itu. Belum dikenakan sama sekali. Dia memakaikan jas itu ke tubuh Arga. Kemudian memandangi sosok itu dengan rasa takjub. "Pacar aku, udah tampan banget." Arga tertawa. "Udah sana turun lebih dulu ke bawah." Dee mendorong tubuh Arga menuju anak tangga.

"Trus kamu?"

"Ada yang ketinggalan." Arga mengangguk lalu melangkah menuju lantai bawah. Hari ini dia juga harus ke Kantor pusat Vallye Corp untuk menemui papanya. Baru saja menjejakkan kaki di lantai bawah, Arga menemukan seseorang telah masuk ke dalam rumah diantara kejaran dua satpam rumah Dee.

Pria itu memberi hormat padanya. "Pak Arga, Pak Komisaris Utama ingin Anda berada di Valley Corp pagi ini. Saya diminta menjemput Anda dan membawa seluruh barang-barang Anda dari sini."

"Selamat pagi, Pacar aku! I love you, Arga Utama!" Suara teriakan Dee terdengar dari atas balkon lantai dua. Arga mendongakkan kepalanya, mencoba tersenyum manis diantara wajah-wajah pengurus rumah yang tersenyum-senyum geli melihat kelakuan Nona mereka hanya suruhan papanya yang berwajah dingin.

"Keluar ataupun tetap di sini adalah keputusan saya. Jangan sentuh apa pun dari barang-barang saya atau kalian akan menyesal dan anggap kau tidak melihat dan mendengar apa pun yang terjadi di sini. Tunggu saya diluar. Saya akan sarapan dulu."

"Saya hanya akan menjawab pertanyaan Pak Komisaris Utama sesuai apa yang saya ketahui. Anda tahu intimidasi tidak pernah mempan pada kami." Pria itu memberi hormat lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar rumah dengan diiringi dua satpam. Arga memandang sekilas kepergian itu sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke atas balkon lantai dua. Dia tahu ancamannya tidak akan berdampak apa pun pada pekerja setia papanya. Arga menarik nafas pelan. "Cantik, ayo, turunlah. Kita sarapan." Arga meminta diantara tatapan mata Dee yang tak lepas mengikuti langkah pria asing yang baru saja keluar dari rumahnya.

Siapa pria itu? Pertanyaannya hanya menimbulkan gelenyar ketakutan di benaknya.

"Cantik." Arga memanggil kembali. Dan langkah kaki Dee tergesa menuruni anak tangga. "Jangan berlari seperti itu, nanti kamu terjatuh!" Arga memperingatkan.

"Siapa dia?" Nafas Dee masih ngos-ngosan saat tiba di sisi Arga.

"Jangan menuruni tangga seperti itu lagi. Jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dirimu sendiri. Oke?" Arga tak menjawab pertanyaannya. Dee mengulangi sekali lagi. "Kita sarapan."

"Arga," Dee menarik kembali tangan yang kini terjalin diantara jemarinya. "Kenapa mengacuhkan pertanyaanku?"

"Aku jawab di meja makan. Setelah sarapan kamu habis."

"Jadi?" Cantik menatapnya dengan tatapan mata intens, menggugat jawaban dari pertanyaannya. Gadis itu menghabiskan makanannya membabi buta, melupakan persoalan bahwa dia gadis cantik yang seharusnya berlaku anggun. Keanggunan memang hanya ditunjukkan Cantik pada orang asing, padanya Cantik lebih sering urakan, emosian dan seperti sekarang tidak sabaran. Namun dia suka. Arga melirik setitik noda saos dari burger yang dimakan Cantik pagi ini dan masih menempeli bibir atasnya. "Apa dia suruhan Papamu?" Dee menebak sendiri. "Apa yang dia sampaikan?"

"Papa ingin bertemu denganku pagi ini. Jadi aku tidak bisa bersamamu ke kantor. Tidak apa kan?"

"Hanya itu?" Dee tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang mulai merambati hatinya.

"Hanya itu. Kita ke kantor?" Arga bangkit dari duduknya, Dee melakukan hal yang sama. "Jangan lupa untuk produk yang diingini PT. Randra Railink, kau harus memastikan hari ini kesepakatan pertama selesai. Semua produk harus sudah dikirim hari ini."

Lihat selengkapnya