Arga menguap panjang. Untung hari ini weekend sehingga dia tidak perlu terburu-buru setelah bangun kesiangan seperti ini.
Drrttt .... Drrttt ...Drrttt .... Drrttt ...Drrttt .... Drrttt ...Drrttt .... Drrttt ...Drrttt ... Drrttt ...Drrttt .... Drrttt ...
Baru juga bangun, telponnya sudah berdering tak henti-hentinya. Arga meraih dengan malas ponsel bermerek nama buah yang dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia mirip dalam pengucapannya. Ponsel itu terletak pada nakas di sisi ranjangnya. Melepas charger dari ponselnya, Arga melirik nama yang baru saja menghubunginya dan sedetik lalu terhenti.
Wow ada lebih lima puluh panggilan tak terjawab dan seratus pesan dari Dee. Iya, dia lupa memenuhi janji makan malam bersama gadis itu dan tak bisa menghubungi karena baterai ponselnya benar-benar habis dan tadi malam dia benar-benar mengantuk usai perjalan panjang ke luar kota pulang balik. Meletakkan ponselnya kembali ke nakas, Arga melompat dari tempat tidurnya. Dia tahu jelas Cantik kini pasti uring-uringan, karenanya tak ada kegiatan lain yang pertama ingin dia lakukan selain meluncur secepatnya menuju ke rumah Dee pagi ini.
Kurang dari satu jam dia telah mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemennya menuju kediaman Dee Cantika Pramudya.
"Pagi, Pak."
"Pagi."
"Pagi, Pak."
Sapaan hangat itu menyapa Arga saat menjejakkan kaki di rumah ini. "Nona kita yang Cantik dimana?" Arga bertanya pada salah seorang pekerja rumah yang ada.
"Sepertinya bersiap-siap untuk pergi, Pak," Mbak Hanum mengambil alih jawaban, "Non Dee uring-uringan sedari tadi karena Bapak nggak pulang ke rumah semalaman."
Arga mengangguk. Dee udah seperti mamanya saja, kalau papanya tidak pulang, bawaannya curigaan dan uring-uringan. Belajar dari hal itu Arga memilih bergegas berlari menaiki anak tangga satu persatu, membuat Cantik menunggu lebih lama biasanya akan membawa masalah lebih besar. Perlahan dia menguak pintu kamar Dee. Gadis itu tengah bersiap menggunakan sepatu high heels nya, duduk dengan kaki bersilang di depan meja rias. Arga mendekap tubuh itu dari belakang. "Pagi, Pacar." Dee menggeliat kecil dan tak menjawab sapaan itu. "Kok nggak dijawab sih? Aku buru-buru kemari waktu terima telpon kamu loh, Pacar aku."
Waktu ngerayu aja baru bilang: pacar. Pacar aku, batin Dee mendumel.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Arga merubah topik.
"Penting, ya, kamu tahu? Bukannya kemarin kamu pergi kemana pun aku nggak tahu?" Dee bangkit berdiri. Arga tertawa.
"Cemburu, ya?"
"Sama siapa? Kamu?"
"Kamu pikir aku pergi bareng Ayu kan?"
"Ngapain sih kamu sebut-sebut nama itu?"
"Tuhkan. Cemburu." Arga terkekeh sambil menarik pipi Dee dan membuat gadis itu protes kesakitan. Cup. Arga mengecup pipi kiri Dee dan membuat semburat merah jambu menghiasi wajah cantik itu, belum hilang kekagetan Dee atas kecupan tiba-tiba yang menyinggahi pipinya, Arga Utama telah menggedong tubuhnya keluar dari kamar.
"Arga! Apa-apaan sih? Turunin aku, semua orang bakalan melihatin kita." Dee meronta memukul dada itu. Namun sia-sia, jika Arga Utama telah berkehendak akan sulit menahannya tak melakukan niatnya. Arga mendudukkan Dee di atas mobilnya. Membungkuk memakaikan safety belt buat gadis itu.
"Kita mau kemana?" Dee bertanya kemudian.
"Ada deh."
**
Dee memperhatikan saat Arga menekan kode pintu unit apartemen yang ada di hadapan mereka dan buru-buru memasuki apartemen itu. Apartemen itu tampak rapi dan bersih. Dee melirik sebuah jas dan bercokol di sandaran sofa, mengenal akrab kebiasaan itu. "Apartemen siapa ini?"
Langkah Arga terhenti. Dia kembali ke sisi Dee. "Papa memintaku keluar dari rumahmu dan kembali ke rumah Papa."
"Tapi kau sudah berjanji tidak akan pergi ke mana-mana." Dee mengungkit persetujuannya. Wajah gadis itu manyun.
"Maaf, tapi jika semua masalah ini telah selesai, aku janji akan benar-benar kembali ke rumahm ..., rumah kita maksudku. Aku tidak ingin Papa merecokimu saat ini." Dee mendesah. "Jangan cemas, aku akan menemukan waktu yang baik untuk memberitahukan kepada Papa dan Mama tentang kita dan saat mereka mengetahui tentangmu dan tentang hubungan kita, mereka tak akan ada alasan menolakmu." Arga merapikan anak rambut di kening Dee. "Siapa yang bisa menolak pacar aku yang cantik, baik, dan pintarnya nggak ketulungan ini."
"Merayu terus." Arga tertawa mendengar kata yang diucapkan Dee.
"Aku rasa Papa hanya sedikit kesal karena aku terlalu sibuk dengan Ikdee Furniture dan melupakan kewajibanku pada Valley Corp selama tujuh tahun ini, tapi semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku. Oke?"
Dee mengangguk. Arga mengelus rambut Dee bak seorang ayah mengelus rambut putri tercintanya. "Lapar." Suara Dee terdengar manja, tapi tidak lupa menambahkan arogansinya, "Aku nggak makan malam gara-gara kamu tau."
"Jadi ini salah aku, ya? Iya deh." Arga melangkah ke bagian kitchen. "Aku buatkan kamu sarapan. Spaghetti bolognese or carbonara?" Dee mengikutinya.