I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #44

44. Kencan Ganda

"Cantik. Cantik." Arga menggedor pintu kamar mandi yang terletak di kamarnya dengan perasaan bercampur aduk. Baru akan mengetuk untuk kesekian kalinya, pintu kamar mandi itu terbuka. Untungnya tangannya masih bisa dia tahan sebelum mengenai kepala Cantik. "Kamu ngapain di toilet?"

"Emang orang ke toilet mau ngapain? Tau sendiri kan?" Arga tersenyum kikuk. "Habis rendaman jangan lupa buang air di bathub kalau enggak dibuang nanti jentik nyamuk bisa beranak cucu di sana, terus kamu kena malaria. Tau nggak sih?"

"Kalau aku sakit kan, ada pacar yang ngerawat." Arga menggoda. Dee menarik ujung bibirnya tipis. Bukan karena dia kesal pada sifat Arga yang sedikit berantakan, tapi karena kehadiran mama Arga dan Ayunindia pagi ini membuat dia menyadari tidak akan pernah mudah baginya memasuki keluarga Arga Utama.

"Iya deh. Jangan cemberut gitu. Aku bersihin nih." Dee menahan tangan Arga yang hendak bergerak ke toilet.

"Udah aku bersihin."

"Kamu ...?" Arga melongok ke kamar mandinya. Bersih kinclong.

"Aku lama ngekos di Amrik. Nggak usah mandangin aku seperti itu." Dee beranjak pergi ke luar kamar. Matanya segera bisa menangkap sosok Ayunindia yang tengah asyik bermain gadget nya di sofa dengan tengkurap lagi. Wanita itu tidak ikutan pulang, dia bahkan nampak begitu nyaman di sini, tak ada rasa sungkan sedikit pun. Dee membayangkan bagaimana akrabnya Ayunindia pada keluarga Utama.

"Makan, ya, aku masakin sphagetti."

"Gue mau." Ayunindia berteriak sambil menoleh pada Arga.

"Nggak usah. Aku mau balik." Dee melangkah, tapi langkahnya tertahan oleh cengkraman keras tangan Arga di lengan atasnya. Rasanya sakit dan kebas.

"Cantik. Coba jelaskan apa salah aku?" Dee diam. "Kamu cemburu sama Ayunindia? Makhluk seperti itu tidak akan pernah. masuk dalam tipe aku."

"What?!" Ayunindia bangkit dari tidurannya. Melotot pada Arga. "Ngomong yang sopan dikit, Woi! Orang yang diomongin masih hidup! Punya telinga lagi!"

"Sorry, Kak. Aku nggak maksud ..." Dee yang tak enak hati buru-buru minta maaf walaupun yang bersalah adalah Arga.

"Gue maafin. Asal lu berdua jangan berisik. Kepala gue lagi pusing. Gue mau rebahan bentar di sofa ini baru cabut. Itu aja, bolehkan?" Tatapan tajam mata Ayunindia membuat Dee buru-buru menganguk paham. "Arga nyuruh makan tuh. Makan deh. Dia bakal terus brisik sampe perut lu dia pastiin terisi penuh makanan." Dee mengangguk lagi dan membiarkan Ayunindia kembali pada kegiatan berbaring santai sambil memandangi ponselnya. Dulu, dia pernah punya masa itu. Tidak sering, maybe dua kali-dia ingat Arga pernah begitu mencemaskan dia saat sakit dan tak mau makan. Cowok itu berubah bawel dan akan menyuapi dia walaupun hanya empat-lima suapan. Tentu karena dia sendiri tak selera makan. Seperti yang kini dilakuan cowok itu pada Dee.

Ayunindia membenamkan diri dengan gadgetnya. Sesekali dia melihat bagaimana Arga Utama menyuapi Dee dengan nasi goreng mamanya yang tadi tak dihabiskan Arga. Dee sendiri yang meminta itu. Maksudnya nasi goreng itu. Lalu suara renyai keduanya terdengar saat mereka disibuki dengan piring secuil yang dicuci bersama di wastafel. Ahhh, receh banget. Ayunindia bergumam dalam hati. Kalau dipikir apa sih yang serunya dari bermain busa sabun cuci piring di wastafel? Cinta memang sereceh itu. Bisa bahagia dimana saja dan kapan saja asal dengan orang yang disukai. Dan dia iri untuk itu.

Bangkit berdiri kembali. Ayunindia melangkah. "Gue balik."

"Lahhh kok?"

"Lu pikir gue nggak punya urusan lain di hidup gue selain mantengin lu yang pada kasmaran? Gue juga punya pacar kaleee."

"Lu punya pacar? Serius?" Arga Utama terlihat sumringah, dia berharap Dee tidak lagi cemburu karena Ayunindia yang muncul dihidup mereka. Dia baru saja melap piring terakhir lalu melap tangannya. Begitu juga Dee.

"Gue nggak semenyedihkan itu kalee."

Lihat selengkapnya