I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #45

45. Amarah Papa

"Aku menemukan Raymond sedang bertengkar dengan Arga Utama," Kasanova, kakak laki-laki Ayunindia bercerita di hadapan kedua orang tua mereka. "Pria itu membawa wanita lain dan Putri Papa yang tercinta ini mengencani orang lain. Papa mau tahu siapa orang itu? Dia." Kasanova menegakkan jari telunjukkan ke arah Raymond yang nampak sedikit babak belur.

"Bukan begitu!" Ayunindia berteriak. "Ini tidak ada hubungannya dengan Pak Raymond Alfaro sama sekali. Papa tahu Arga Utama menelponnya untuk pertemuan bisnis." Raymond memandangnya. "Aku jatuh cinta dengan pria lain."

Deg. Apa sih yang sedang ada di pikiran gadis itu? Batin Raymond Alfaro berdebaran. Ayunindia menyelamatkannya dari keluarga gadis itu. Menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Raymond membayangkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya: apakah dia harus menyatakan perasaannya pada Ayunindia di depan Pak Huda Yang, bosnya itu yang juga adalah papa Ayunindia?

"Dan aku ingin bertemu dengan Arga Utama untuk membatalkan niatan kalian menjodohkan kami."

"Nindya!" Papanya memekik. Lalu menahan amarah. Berpikir mungkin putrinya jatuh cinta dengan pewaris kekayaan urutan ketiga, keempat bahkan kelima puluh pun dia masih akan mentolerir. Asal pria itu pintar, baik dan mencintai putrinya. Sejak kehilangan ibunya, Ayunindia tidak pernah menceritakan tentang perasaannya pada siapa pun, termasuk padanya sebagai seorang papa. "Baiklah. Beritahu Papa dari keluarga mana pemuda itu? Keluarganya bergerak di bisnis apa? Dia ada di urutan berapa dalam bisnis dan kewajiban pajak? Papa butuh portofolio perusahaannya."

"Juga laporan keuangan perusahaannya?" Ayunindia bertanya.

"Itu akan lebih baik, Sayang." tawa getir Ayunindia terlihat diantara air mata yang jatuh di pipinya yang buru-buru disekanya dengan punggung tangannya. "Apa aku sebuah aset, Papa? Apa kau hanya akan menikahkanku dengan pria kaya raya yang bisa membuatmu lebih kaya lagi? Bagaimana jika aku jatuh cinta dengan pria biasa? Rakyat jelata dalam kamus bahasamu."

"Kau sadar ucapanmu?! Cinta mungkin membutakanmu, tapi nanti saat kau kekurangan uang, kau akan menyadari cinta saja tidak pernah cukup untuk bertahan dalam hidup ini."

"Jadi biarkan aku melakukannya. Biarkan aku tahu apakah aku memohon di kaki kalian untuk uang dan meninggalkannya atau bertahan karena cinta ini, karena aku yakin aku akan tetap di sisinya sampai mati."

"Kau benar-benar memalukan!" Plak. Pipi Ayunindia terasa panas. Tapak tangan papanya menyinggahi pipinya dengan keras. Dia terhuyung hampir jatuh. Raymond nyaris berlari menangkap tubuh itu, tapi tidak jadi. Sesuatu dalam dirinya menahannya. Egoisme. "Banyak orang yang bermimpi hidup sepertimu dan kau hanya ingin hidup seperti orang miskin di luar sana?!" Ayunindia membuang wajahnya. Namun sialnya matanya dan mata Raymond bertemu. Membuang wajahnya, Ayunindia membalas:

"Paling tidak jika Papa mau menghukumku jangan di depan orang asing." Papanya melemparkan pandang pada Raymond yang masih berdiri tegang di tempatnya dengan tangan terkepal. "Bukankah hubungan di keluarga ini hanya dibagi atas dua hal? Hubungan darah dan hubungan bisnis? Dia tidak berada diantara keduanya." Ayunindia beranjak pergi. Dan hati Raymond terluka atas sindiran itu. Jelas Ayunindia menunjukkan amarahnya padanya.

"Nindya berhenti!" Raymond kemudian masih menjadi penonton dari kejadian selanjutnya, saat Pak Huda Yang menarik tubuh putrinya itu dengan kasar diantara rontaan keras Ayunindia yang ingin melepaskan diri. "Bantu Papa, Nova."

"Lepaskan Nindya, Papa! Koko!" Nindya meronta saat kedua pria dalam hidupnya itu menariknya ke dalam kamar tidurnya dan menguncinya.

"Kamu akan menikah dengan Arga Utama suka atau tidak suka. Itu sudah keputusan Papa!" Nindya masih mendengar papanya berteriak di depan pintu kamarnya.

"Arrrggghhhh!" Nindya memekik histeris. Menendang pintu kamarnya dengan perasaan emosi dan melemparkan segala barang yang bisa dia raih. Membiarkan kamarnya seperti kapal pecah hingga semua emosinya tersalurkan dan dia kelelahan. Mencoba menenangkan diri, dia memandang jauh ke luar jendela kamarnya. Menatap jauh pada kolam renang di bawah sana dan kemudian manik matanya menemukan Raymond di bawah sana, tepat di sisi kolam renang, juga sedang menatapnya. Mungkin kasihan pada nasibnya.

Memandang wajah tampan itu kembali membuat hati Nindya terasa remuk. Tangan Ayunindia bergerak cepat menarik gorden, memunggungi jendela yang terbuka lebar dan telah tertutup gorden tipis. Dibalik gorden itu dia menangis. "Pengecut. Kenapa gue harus jatuh cinta pada seorang pengecut seperti lo?!"

***

Pagi masih terlalu pagi, Arga Utama telah disibuki pekerjaannya di belakang meja Dirut Utama. Membalas email telah selesai sedari tadi bahkan saat karyawannya belum tiba, kini dia disibuki membaca tumpukan perjanjian bisnis yang telah menggunung di atas meja kerjanya yang kemarin ketika hari kerja dia lupakan sejenak untuk pengurusan balik nama sero Ikdee Furniture yang sempat dimiliki Valley Corp. Kini tak ada lagi saham Ikdee Furniture atas nama Valley Corp dan Papanya tak punya hak sedikit pun menyentuh perusahaan itu.

Lihat selengkapnya