Cafetaria itu terletak di lantai bawah sebuah hotel. Dee meremas jemarinya berkali-kali lalu nenanarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafetaria. Siang itu untungnya cafetaria tak nampak ramai. Seorang wanita cantik melambaikan tangannya dari pojok ruangan. Ayunindia Yang. Dee bergegas melangkah menuju meja yang di isi Ayunindia.
"Hai." Sapa Nindya dengan ramah. Dee membalas sapaan itu dan segera meletakkan dirinya di sofa panjang yang ada di hadapan Ayunindia. "Mungkin Arga Utama sudah menceritakan segalanya padamu ..."
"Aku mohon batalkan pernikahan itu." Dee tak merasa perlu berbasa-basi.
"Minum. Aku pesankan capuccino untukmu tadi. Arga bilang kau penyuka makanan Italia." Ayunindia mendorong satu cup minuman yang ada di hadapannya. Dee tidak meraih minuman itu, dia tidak terlalu haus. Lekat dia memandangi wajah ayu yang ada di hadapannya itu dengan resah, Ayunindia menyesap minumannya beberapa saat. Menghentikan minumnya, dia angkat suara: "Aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Papaku akan menikahkanku dengan pria lain jika tidak dengan Arga."
"Aku mohon."
"Aku tidak akan merebutnya darimu. Kau dan dia masih boleh berhubungan usai pernikahan kami."
"Apa maksudmu?! Bukan seperti itu yang kumau!" Dee memekik keras. "Kau tidak bisa menjadikan aku perebut suami orang, kau yang merebut kekasihku!"
"Hanya itu yang bisa kulakukan." Ayunindia berdiri dari duduknya. "Aku rasa tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Selamat siang." Dee menahan langkah itu, tangannya mencengkram erat lengan Ayunindia. Dee ingin memaki wanita itu, tapi dia menurunkan intonasi suaranya,
"Aku mohon, biarkan dia untukku."
Ayunindia menurunkan pegangan itu tanpa mencoba menatap Dee sedetik pun. "Aku akan meninggalkannya jika Om Utama memintaku. Sekarang terserah padamu apa kau berani bicara padanya?" Hanya itu yang dia katakan sebelum berlalu pergi meninggalkan Dee seorang diri. Sesaat Dee masih tertegun di tempat duduknya, lalu kemudian dia berlari mengejar Ayunindia.
"Kau mau kemana?" Raymond Alfaro menghentikan langkah Ayunindia yang baru saja akan memasuki mobilnya. Tangannya menahan pintu mobil Ayunindia.
"Itu bukan urusanmu."
"Aku akan mengantarmu."
"Kau bukan supirku. Kau bukan kekasihku. Kau bukan siapa-siapa lagi di hidupku jadi kau tidak perlu melakukan hal itu."
"Dia, aku mohon jangan bersikap sedingin ini padaku." Raymond menahan tangan Ayunindia. Wanita itu merlirik sentuhan itu dengan ekor matanya.
"Jaga sikapmu. Aku calon isteri orang lain."
"Tapi kau mencintaiku."
"Itu beberapa hari yang lalu dan aku menyesal memberi perasaanku padamu. Pada orang yang bahkan merasa aku tidak pantas diperjuangkan." Nindya menepiskan sentuhan itu dan segera memasuki mobilnya, lalu melaju pergi meninggalkan Raymond Alfaro yang diam mematung.
"Semua gara-gara kamu." Suara kecaman yang muncul dari belakang punggungnya itu membuat Raymond berbalik. Gadis itu masih terlihat begitu belia, cantik dengan tinggi nyaris setinggi dirinya. Kulitnya putih bersih, rambutnya di cat blonde, matanya coklat dan nampak sendu, tapi memancarkan kemarahan padanya. Raymond ingat gadis inilah yang berada bersama Arga Utama di lapangan ice skating. Dan dia telah mencari tahu siapa gadis itu sedari pertemuan itu: Dee Cantika Pramudya, Putri Pramudya Johnson-pemilik saham mayoritas di Ikdee Furniture, sebuah perusahaan yang kini sedang amat menguntungkan. Saham Ikedee Furniture dihargai lebih dari IHSG (indeks harga saham gabungan), para pemantau pasar saham alias pialang saham meyakini dalam tiga atau empat tahun lagi, Ikdee Furniture akan berada di kelas perusahaan teratas di negeri ini dan pemilik saham mayoritas akan menggeser salah satu orang terkaya dalam urutan sepuluh sampai dua puluh. Dan gadis ini masih sangat muda. "Kalau kau tidak memutuskannya kemarin dia tidak akan menjadi sebodoh ini dan merebut kekasihku. Pria macam apa kau yang bahkan tidak berani memperjuangkan orang yang kau cintai?"
"Kau tidak berada pada posisiku." Suara pria itu terdengar parau dan pedih seakan berasal dari lorong gelap dunia antah berantah. "Menyatakan cinta akan menempatkan dia pada masalah serius. Pak Yang tidak akan pernah merestui hubungan kami dan sampai kapanpun kami tidak akan bisa bersama."
"Bodoh, bawa lari dia."
Raymond Alfaro tertawa seakan Dee baru saja menceritakan lelucon paling lucu. "Kau pikir siapa yang bisa lari dari keluarga Yang? Apalagi sampai membawa putri tunggal keluarga Yang? Bukan hanya aku, Dia juga bisa mati."
"Bagaimana jika kubilang aku akan membantumu? Mereka tidak akan tahu dimana kalian berada sampai kalian siap untuk pulang sendiri setelah situasi tenang dengan satu atau dua anak? Aku kira seorang Papa tidak akan bisa marah seumur hidup pada putrinya." Mata Raymond berkilat senang, sebuah harapan muncul di hatinya. Orang-orang kaya negara ini jelas punya chanel untuk membantunya. Dia bisa berharap untuk kabur bersama Ayunindia tanpa terendus Pak Huda Yang atau putranya yang sombong Kasanova.
"Kau yakin akan membantuku?"
Dee mengangguk mantap. Apa saja agar dia bisa menjauhkan Ayunindia dari Arga Utama dan membatalkan pernikahan yang akan segera berlangsung itu. Dia tahu harga pelarian ini akan mahal, tapi semua pantas diperjuangkan untuk mendapatkan Arga Utama. Dia tidak akan kehilangan pria itu dengan mudah karena dia Dee Cantika Pramudya.
"Bawa saja dia pergi jauh. Aku akan mengurus semua."
"Bantu saja kami lepas dari negara ini tanpa terendus keluarga Yang." Raymond memandang Dee serius. Lalu melirik pada dua pria yang berjalan memasuki pelataran parkir hotel Vilton dan Raymond bergegas menghampiri kedua pria itu.
Salah satunya seorang pria baya dan pria lainnya beberapa tahun lebih tua dari Arga Utama. Terlihat gagah dan tampan hanya tatapan matanya saat mata mereka bersua ketika pria itu menatapnya saat Raymond berpamitan, segera membuat Dee menyadari siapa diri pria itu: seorang player. Dee memilih menatap sosok baya itu lekat-lekat. Papa Arga Utama. Pria itu memang terlihat mirip dengan Arga Utama di beberapa bagian termasuk senyumnya. "Selamat siang, Pak Utama. Pak Yang meminta saya menemui Anda karena beliau ada pertemuan penting di Hongkong."
"Nova sudah memberitahuku."
Dee melirik pada ponselnya yang terdengar meraung dari balik tas sandangnya. Beberapa panggilan dari sekertaris kantornya dan Arga Utama. Ya, hari ini adalah rapat istimewa pemegang saham, dimana rencananya Arga akan mengundurkan diri dari posisinya sebagai Dirut Ikdee Furniture dan melakukan penunjukan langsung padanya. Klausul khusus di peraturan dasar pendirian Ikdee Furniture yang dibuat papanya menyematkan bahwa posisi Dirut pelaksana ditempati pemilik saham terbanyak kecuali pemilik saham menyerahkan secara sukarela kepada pelaksana lain. Dia akan menyingkirkan jadwal itu. Ada yang lebih penting. Memastikan papa mertuanya maksud Dee calon papa mertuanya menerimanya dengan senang hati. Memantapkan hati Dee melangkah menuju ke arah papa Arga Utama.
***
"Pak Utama. Pak Utama." Dee berlari-lari kecil mengejar ketiga pria itu yang telah memasuki hotel. Untungnya ketiganya segera berhenti. "Selamat siang, Pak Utama." Dee menjulurkan tangannya dan pria itu menerimanya. Dee mencium tangan pria itu dengan takzim. Punggung tangan calon mertuanya, Dee berbisik dalam hati. Ini kali pertama dia bertemu pria yang mengambil andil akan keberadaan pacarnya-Arga Utama di dunia ini. Senyum Dee mengembang memikirkan hal itu. Dan jika dilihat-lihat pria itu tidak terlihat berbahaya atau galak. Biasanya bahkan terlihat lembut seperti Arga Utama. Dee merasa yakin dengan bicara dia bisa meluluhkan hati pria itu dan membuat pria itu berbalik merestui hubungannya dan Arga Utama-putra pria itu. "Saya Dee Cantika Pramudya, Pak." Ada sedikit kekagetan yang Dee tangkap di wajah matang itu. Ya, Papa Arga tak pernah menyangka gadis itu berani menemuinya dan berkonfrontasi langsung dengannya. Keberanian yang tak semua gadis belia punyai. Dan intuisinya mengatakan dia harus berhati-hati pada gadis ini. Usia muda dengan keberanian sebegitu besar berpotensi pada kecerobohan. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda ..."
"Apa masalah bisnis?" Utama menatap lekat Dee dari ujung kaki hingga ujung rambut. Harus dia akui putranya punya selera cukup bagus. Gadis itu cantik secantik isterinya saat masih belia.
"Sebenarnya ..."
"Saya tidak membicarakan hal diluar bisnis."
"Ini jauh lebih penting dari kesepakatan bisnis."