Pletak ... Pletak ... Arga Utama berlari sekencang yang dia bisa melintasi koridor demi koridor rumah sakit setelah mendengar kabar tentang papanya.
"Arga." Dee berlari menghampiri tubuh itu. Masuk ke dalam dada Arga yang bidang, tapi baru saja ingin membagi duka, Dee merasakan tangan kekar Arga mencengkram keras kedua lengannya. Memberi jarak jauh bagi tubuh mereka.
"Apa yang kau lakukan?! Apa yang kau lakukan?!" Arga mengguncang tubuhnya. Itu bukan kali pertama Arga memekik marah dan kesal padanya, tapi ini kali pertama hati Dee ciut seciut-ciutnya. Mata itu tak lagi menatapnya dengan cinta, tapi kemarahan. "Bukankah aku sudah mengatakan padamu: papa sakit?"
"Maaf, tapi aku sungguh tidak bermaksud ..."
"Maaf? Aku tidak bermaksud katamu?" Arga tertawa sinis tanpa suara. "Apa maafmu akan mengembalikan nyawa Papaku jika sesuatu menimpanya? Kau tidak memahami posisiku karena semuanya terasa mudah bagimu, karena kau tidak perlu memikirkan kebahagiaan siapa pun selain kebahagiaanmu sendiri. Dari dahulu seperti itu. Aku ... Aku yang terus memikirkan kebahagiaanmu, tidak denganmu. Kau tidak punya Ayah atau Ibu dan kau anggap itu sebagai keberuntunganmu. Papaku memang benar, kau sungguh kekanak-kanakan."
Pipi Dee terasa merona seakan Arga baru saja menamparnya dengan begitu keras. Gelombang kesedihan memenuhi Dee, membentuk emosi yang keras dan tak tertahankan di dadanya.
Bagaimana bisa Arga Utama, orang yang selama ini memahaminya kali ini sedikit pun tak memahaminya ...
Bagaimana bisa ini mudah baginya? Setelah memberinya cinta dan harapan ..., bagaimana bisa mudah baginya menjalani kehidupan ini tanpa Arga Utama yang akan segera melangsungkan pernikahan dalam beberapa hari. Andai pria itu tahu, pria itu adalah satu-satunya pria yang dia harapkan menemani hidupnya hingga mati, orang yang dia harapkan akan ada di sisinya saat dia terbangun di pagi hari dan memeluknya di malam hari, orang yang akan berbagi suka dan duka bersamanya seumur hidupnya.
Setiap hari dia berharap ada keajaiban yang akan merubah keputusan papa Arga atau jika tidak, dia berharap mati di tempat sepi dan gelap sebelum pernikahan itu terjadi hingga dia tidak perlu melihat momen itu, saat Arga Utama melingkarkan cincin pada wanita lain yang bukan dirinya.
"Aku tahu aku salah, tapi ini tidak pernah mudah bagiku untuk kehilangan dirimu. Dan kupikir bagimu kebersamaan kita juga hal yang penting. Namun sepertinya aku salah. Mungkin hanya aku yang menganggap kau penting bagiku ..."
"Jangan membuat aku merasa bersalah karena memarahimu! Kau selalu tahu kau penting bagiku, tapi tindakanmu ini bukan hal yang bisa ditolerir! Kau benar-benar egois."
"Aku egois? Ya, aku egois. Tapi bukan hanya aku yang egois disini! Kau juga egois. Kau tidak memutuskan aku, tapi kau akan tetap melanjutkan rencana pernikahanmu demi membahagiakan Ayahmu," Dee membalas dengan keras, "kau ingin meletakkan aku dimana? Sebagai kekasih simpananmu? Kesepakatan itu yang kau dapat dengan Kak Ayu? Dare you! Beraninya kau!" Air mata Dee berlinang. "Beraninya kau memperlakukan aku sebagai wanita ja*a*g." Tubuh Arga terhuyung. Ya, Cantik benar: dia memang baji*ga*. Dia tidak bisa kehilangan Cantik, tapi dia juga tidak punya keberanian untuk mengatakan tidak pada permintaan papanya. Menyeka air matanya yang tak juga mau berhenti, Dee memandang tajam mata Arga. "Baiklah, Bapak Arga Utama aku akan membantumu menyingkirkan wanita egois ini dari hidupmu." Dee sesenggukan. Air matanya jatuh lebih deras lagi. "Ayo, kita putus hari ini dan jangan saling menyapa saat bertemu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal."
***
Pak Utama buru-buru membaringkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit saat pembicara Dee dan Arga selesai. Di ujung sofa, isterinya nampak menatapnya dengan tatapan tajam penuh kekesalan.
Bagaimana dia tidak kesal saat tahu ternyata suaminya hanya berpura-pura sakit demi memuluskan jalan memaksa putranya menikah dengan putri kolega bisnis. Seberapa pun sukanya dia pada Ayunindia, dia tidak berniat melarang hubungan putranya dengan wanita lain yang dicintai putranya. Menguping pertengkaran Arga dan gadis di luar pintu kamar rawat suaminya itu membuat hatinya terluka.
"Apa sih yang Papa kejar di dunia ini lagi? Putra kita cuma Arga, Pa. Kebahagiaannya seharusnya adalah tujuan hidup kita. Dan beraninya Papa juga membohongiku. Kalau aku tidak memaksa Hosanna bicara pada Dokter Robbie ... Kau dan Dokter Robbie akan tetap memainkan sandiwara inikan?" Berdiri dari duduknya, isterinya itu menghampirinya. "Sekarang juga batalkan pernikahan itu."
"Bagaimana bisa aku membatalkannya? Semua sudah disiapkan dan hanya dua hari lagi pernikahan ..."
"Aku tidak perduli. Kau biasanya punya beribu cara untuk melakukan hal itu. Kalau Arga menderita dalam pernikahannya ... Mama tidak akan pernah memaafkan Papa." Wanita itu memukul keras lengan tangan suaminya berkali-kali.
"Mama, Papa pakai infus nih ..." pria itu memekik. "Sakit tau."
"Biarain." wanita itu membalas sewot, "Memangnya kamu pikir waktu ngelahirin Arga aku nggak kesakitan? Juga waktu harus kehilangan adik Arga dan rahimku karena kecelakaan itu ..." Mama Arga terisak. Dia selalu bersedih saat mengenang accident yang terjadi dua puluh tujuh tahun lalu, saat papa Arga melajukan mobil usai menjemputnya dari bandara karena dia menyusul ke New York atas permintaan suaminya itu. Kalau saja dia masih di rumah orang tuanya bersama Arga yang dititipkan bersama orang tuanya di Indonesia, semua akan baik-baik saja. Papa Arga memilih mengebut agar tidak ketinggalan dalam acara penghargaan bergengsi para pengusaha dunia di New York dan akhirnya mereka bukan berada di Hall Convention WTC, tapi di rumah sakit dengan pengangkatan pada calon bayinya yang mati dalam rahimnya dan kerusakan berat yang mengakibatkan rahimnya juga harus diangkat.
"My sweet heart, sorry. Please don't cry again. Don't make me feel guilty." Mama Arga menepiskan sentuhan suaminya itu, tepat saat itu pintu kamar membuka dan Arga Utama muncul di ambang pintu dengan wajah kusut.
"Sayang, kau sudah datang?" Mama Arga langsung melotot saat mendengar suaminya memanggil putra mereka dengan sebutan: 'sayang'. Arga Utama hanya mengangguk. Dia tidak melihat ekspresi aneh mamanya karena tingkah papanya, yang ada di benaknya hanya Cantik. Bagaimana keadaan gadis itu kini.
Dia sudah mencoba menghubungi Nando, tapi sepertinya Cantik bahkan tidak mengizinkan Nando menerima telepon darinya.
PING