Raymond melangkah memasuki ruangan Pak Huda Yang. Pria itu nampak mondar-mandir di depan jendela kaca besar, wajahnya sedikit gelisah beliau terlihat tengah menanti telepon.
"Raymond, darimana saja kau?" Pria itu bertanya saat melihat Raymond memasuki ruangannya.
"Maaf, saya baru saja ke toilet, Pak. Untuk pertemuaan dengan Pak Utama tentang penggabungan beberapa saham di perusahaan.... Sepertinya itu akan mengalami sedikit penundaan. Pak Utama tiba-tiba terserang penyakit jantung ...."
"Aku sudah tahu itu. Kau sudah memberitahukan itu tadi." Raymond mengangguk. Dia hanya berpikir mungkin Pak Yang butuh laporan langsung karena tadi dia memberitahukan hal itu dari telpon. "Dimana Kasanova?"
"Saya, kurang tahu, Pak. Akan saya coba menghubunginya." Raymond buru-buru meraih ponselnya.
"Saya sudah menghubunginya berkali-kali. Ponselnya non aktif." Raymond memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya. "Sekarang kamu pelajari perjanjian kerjasama dengan pihak Pemkot Jakarta tentang penyediaan sepeda gunung kita yang katanya ditender kemarin kita melakukan penawaran dengan harga termahal. Beritanya ada masalah dalam pelaksanan perjanjian itu. Kasanova bekerja sama dengan salah seorang Kabiro untuk mendapatkan keuntungan dengan janji win-win solution. Kabarnya BPK sudah turun untuk melakukan penyelidikan. Hanya kamu harapan saya untuk menyelesaikan masalah ini. Saya akan menaikkan posisi kamu jika kamu bisa menyelamatkan nama baik perusahaan ini." Pak Huda Yang menepuk-nepuk pundak Raymond dengan penuh keyakinan. Raymond... andai saja Kasanova punya setengah dari kemampuan Raymond, dia tidak perlu cemas pada keadaan usahanya.
Raymond mengangguk paham. Tepat ketika itu pintu terkuak dan Ayunindia muncul di ruangan kerja papanya. Menatap Ayunindia, Raymond memantapkan hatinya. "Tapi sebelumnya, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Pak." Pak Huda telah beranjak kembali ke mejanya.
"Katakan saja." Suara pria itu terdengar. Raymond memandangi punggung ayah dari wanita yang dia cintai itu. Berdoa semoga Pak Yang merestui hubungannya dan Ayunindia. Menarik nafas, Raymond mulai angkat suara:
"Saya jatuh cinta pada Putri Anda dan saya ingin melamarnya …."
"Kau bilang apa?!" Pria itu bahkan tidak jadi mencapai kursinya. Tubuhnya sontak berbalik. Mata tajamnya segera menatap Raymond dengan mengerikan. Raymond yakin jika mata itu bisa mengeluarkan api, sekarang dia pasti sudah jadi abu. "Lancang sekali kau!" Pak Yang memekik keras. "Kau pikir dirimu siapa?!"
"Papa ... ini bukan kesalahan Raymond. Kami sama-sama saling mencintai, bisakah Papa memahaminya dan cukup merestui kami?"
"Nindya! Jaga ucapanmu! Apa kau tidak menyadari posisimu?! Kau adalah calon isteri seorang Arga Utama! Kalian akan segera menikah!"
"Aku sudah mengatakan pada Papa, aku tidak akan menikah dengan Arga Utama!"
"Beraninya kau membangkang Papa karena makhluk rendah ini!" Tangan Huda Yang melayang cepat hendak menampar wajah putrinya itu, tapi Raymond Alfaro telah bergerak lebih cepat dan menampung tamparan itu di pipinya. Nindya menyentuh pipi Raymond, tangan Raymond meraih jemarinya dan menggenggam tangan itu dan membawanya di sisi tubuhnya. Matanya menghujam tajam pada bos sekaligus papa dari wanita yang dia cintai itu.
"Saya tahu Anda adalah Papa Dia. Namun mulai hari ini, saya tidak akan pernah membiarkan Anda menyakitinya."
"Beraninya kau... Kau pikir siapa dirimu?! Tanpaku kau bukan siapa-siapa dan beraninya kau menyamakan dirimu dengan kami!" Pak Yang menarik keras tangan putrinya, tapi Raymond nampaknya tidak berniat menurutinya lagi. "Lepaskan tanganmu dari putriku!"
"Maaf, Pak Yang, untuk kali ini saya menolak perintah Anda."
"Beraninya kau! Tidak tahu diri! Mulai hari ini kau dipecat!" Beranjak kembali ke depan meja kerjanya, Pak Yang meraih telpon yang terletak di atas meja. "Panggil para satpam untuk ke ruangan saya, cepat!"
"Ayo, kita pergi dari sini." Raymond menarik tangan Ayunindia yang menatapnya dalam penuh rasa percaya. Ketika mereka melangkahkan kakinya keluar dari ruangan papa Ayunindia, suara teriakan papa Ayunindia yang meminta para karyawan prianya menahan keduanya terdengar mengelegar.
***
Nando baru saja tiba di lobby gedung PT. Bintang Sembilan untuk mengembalikan ponsel dan dompet Kasonova Yang. Seorang receptions gedung menyapanya hangat, menanyakan keperluannya ketika keributan itu terlihat sepasang kekasih sedang diburu oleh beberapa satpam dan pegawai laki-laki.
"Ada syuting film, ya, Mbak?" tanya Nando pada sang resepsionis yang kemudian saling berpandangan dengan rekannya yang lain.
"Itu Pak Raymond sama Bu Nindya kan?" Salah seorang resepsionis berbisik tapi cukup keras untuk bisa di dengar seluruh orang yang ada di depan meja resepsionis termasuk Nando. Yang lain manggut-manggut. "Kenapa diuber?" Yang lain angkat bahu seakan berkata: entah.
"Brengsek, kalian! Lepaskan aku!" Nindya berteriak keras saat para satpam berhasil memisahkannya dari Raymond Alfaro bahkan salah satu satpam berhasil mendatangkan pukulan ke ulu hati Raymond. Pria itu membungkuk kesakitan. "Brengsek, jangan pukul dia!" Nindya menjerit-jerit histeris saat pukulan you bersarang telak di tubuh Raymond. Air matanya berlinang jatuh.
"Aku tidak apa, Dia. Mereka tidak bisa melukaiku." Raymond mencoba menenangkan Nindya yang meronta-ronta dari pegangan para satpam kantor.
"Anda bisa pergi baik-baik dari sini Pak Raymond dan jangan kembali lagi atau Anda akan kami seret dengan sangat kasar jika Anda berkeras kepala." Kepala keamanan PT. Bintang Sembilan mengultimatum Raymond. Sesungguhnya pria itu menaruh rasa hormat pada Raymond hanya saja kali ini tugas menempatkan dia harus bertindak tegas pada pria itu.
Raymond melangkah mendekati Ayunindia. Seluruh satpam bergegas hendak menangkapnya. " Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal."
"Hanya itu dan jangan lama." Suara kepala keamanan terdengar lagi. Raymond menghapus bulir air mata yang jatuh di pipi Nindya. Tangan gadis itu di cengkram keras oleh dua satpam di kanan dan kirinya.