"Dee, lu baik-baik aja?"
Suara lembut itu menyentuh gendang telinga Dee. Matanya yang terpejam membuka sedikit. Lalu terkekeh. Tangannya menepuk-nepuk pipi pria yang ada di hadapannya itu. Arga Utama, batinnya menyebut nama itu lagi.
"Ngapain lu disini? Bukannya besok lu mau nikah?" Ia terkikik lagi, "Lu pikir gue bakal mati karena lu tinggalkan? Gue nggak akan mati. Walau gue pengen mati." Dee terisak. Kedua lengan tangannya tergeletak di pundak pria itu lalu dengan telapak tangan kanannya menepuk-nepuk pipi Arga Utama. "Jadi pacar lu nggak enak banget tau. Baru pacaran ..." Dee menghitung dengan jarinya. "lima hari ... Gak ada happy happy nya sedikit pun ..."
Pria itu tertawa kecil. Lalu tangannya mengusap lembut ubun-ubun kepala Dee. Satu minggu sudah dia tidak melihat wajah cantik itu. Merindukannya sebesar rasa benci di hatinya sejak gadis itu mengusirnya dari Ikdee Furniture. Kini bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Takdir kembali memberinya kesempatan untuk menaklukan hati wanita itu lagi. Dee Cantika Pramudya terlihat lemah dan patah hati. "Tapi gue bakal bahagiain lu, Dee."
Dee tertawa sinis. Lalu bangkit berdiri, bertopang pada bahu pria itu. Sempoyongan. "Gue udah bilangkan: ayo kita putus dan jangan pernah saling menyapa saat bertemu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Lu ingat itukan? Lu nggak jadi begokan?"
"Gue nggak keberatan bego karena lu." Dee terkikik karena kalimat itu. Arga berkata semanis itu. Dia membiarkan pria itu meletakkan lengannya pada bahu pria itu. Matanya menatap wajah itu. Bibir manis pria itu.
"Mau lu bawa kemana dia?" Winne berdiri dari kursinya. Dee sudah cukup membuat huru-hara dan dia sudah cukup merasa bersalah pada Quinn akibat membawa Dee pada pesta ini, tapi membiarkan gadis itu dibawa orang lain dalam keadaan teler begitu, Winne tidak tega. "Dia datang bareng gue dan dia juga bakal pulang bareng gue."
"Lu bakal tanggung jawab kalau dia buat kerusuhan lebih hebat lagi?" Winne terdiam. "Lu udah buat Quinn Farah bete abis begitu. Lu urusin aja Quinn, gue bisa nanganin Dee."
"Tapi lu bukan orang yang bisa gue percaya." Winne menarik tubuh Dee mendekat padanya. Aksa menahan tarikan itu. Dee merasakan sakit saat kedua tangannya tertarik ke kiri dan kanan.
Baru saja dia bahagia akibat kalimat manis Arga Utama ... lalu calon isteri Arga yang cantik dan direstui Pak Utama hadir. Dee terkekeh.
"Gue bukan tali tambang yang bisa lu tarik ke kiri ke kanan sesuka lu berdua." Dee protes, "Calon isteri lu datang tuh ..." Aksa menatap Dee. Yakin seribu persen Dee benar-benar mabuk berat karena pria bernama Arga Utama.
Sebegitu cintanya lu sama dia, Dee, batin Aksa menjerit. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Dee.
"Lepasin tangan lu Aksa!" Winne memekik.
"Maksud lu? Kenapa nggak lu aja yang ngelepasin tangan lu?"
"Terus biarin lu bawa Dee?! Semua juga tahu rekam jejak lu. Gue wanita yang masih punya hati tau dan nggak akan biarin lu ngapa-ngapain Dee!"
"Kak Aksa??" Dee menatap lekat-lekat wajah itu. "Lu Kak Aksa?? Bukan Arga???" Dee menghentakkan tangan keduanya. Lepas. Kini Dee memandang wajah Aksa lekat-lekat. "Lu taruh apa diminuman gue waktu itu?" Aksa gelagapan. " Gak usah sepucat itu hheeh ... Gue nggak bakal laporin lu ke polisi kok. Gue cuma mau tanya kenapa lu tinggalin gue waktu itu? Apa gue kurang cantik gitu? Kurang seksi di mata lu?" Dee melambaikan tangannya, berjalan mundur sempoyongan menjauhi Aksa. Tepat saat itu handphone Dee berbunyi dan Winne segera menyambar ponsel itu dari saku jas Dee yang malah tertawa cekikikan kegelian karena rogohan Winne di sakunya.
Kimy Calling ...
"Arga Utama juga nggak ngapa-ngapain gue padahal gue kan lagi hot-hotnya." Dee terkikik tanpa tahu malu padahal kini semua mata tamu ultah Quinn memplototi dirinya dan Aksa. " Gue emang gak menarik sama sekali ... sehingga bahkan enggak layak untuk lu perjuangin ... Sekali aja, Arga Utama, gue mau lu tau nggak pernah mudah buat gue melalui semua ini!!!!!" Dee terisak kencang. "Gue cinta sama lu walau Papa lu ngelarang! Lu orrrang yang gue harapin ada di waktu gue membuka mata dan tertidur. Lu orang yang gue mau berbagi suka dan duka bersama gue sampai maaati! Kenapa lu jahat sama gue?! Lu nggak seharusnya mengetuk hati gue kalau sebenarnya lu nggak mau menetap di sana."
"Dee lu ...??"
"Kim, cepetan lu kemari. Dee mabuk tau. Nanti gue share loc sama lu." Winne segera membagikan lokasi discotik pada Kimy. Dia harus bergegas mengejar Dee yang cabut dari tempat itu dengan Aksa yang terus mengikutinya bagai kucing mengikuti ibu-ibu yang membawa plastik ikan asin.
***
Dee bergoyang ke kiri dan ke kanan bagai layang-layang yang ditiup angin. Sepatunya tertenteng di tangannya entah sejak kapan. Kepalanya mulai pusing dan perutnya mual. Dia lupa, dia bahkan tidak makan siang tadi apalagi malam dan tiba-tiba mengisi perutnya dengan shampage. Aksa dan Winne masih mengikutinya melangkah di luar diskotik. Sulit mengajak Dee masuk ke dalam mobil.
"Dee, Kakak antar kamu pulang, ya," Aksa membujuk lagi.
"Pulang? Kemana?"
"Rumah kamu, Dee."
"Rumah aku ... dimana?" Dee memegangi kepalanya yang makin sakit. " Amerika ... Amerika lewat mana??? Gue mau balik ke Amerika ..."