Seperti malam-malam biasanya, meja makan telah dipenuhi oleh berbagai hidangan yang tertata rapi. Uap tipis naik perlahan, memenuhi ruangan dengan aroma lezat dan hangat yang menenangkan.
Arin baru saja mematikan kompor untuk masakan terakhir, ketika ponselnya bergetar di atas meja dapur.
Ia masih berdiri di sana, tatapannya berhenti sejenak saat melihat nama bibinya muncul di layar.
Kening Arin berkerut, ada perasaan tak enak yang langsung mengendap dalam dadanya. Tak seharusnya wanita itu menelepon, keluarga itu tak pernah datang tanpa membawa masalah untuk dilimpahkan kepadanya.
Ia membiarkan ponsel itu bergetar beberapa detik lebih lama, seolah berharap panggilan itu menghilang dengan sendirinya.
Meskipun ia tahu, itu tidak akan berhenti.
Dengan tarikan napas pendek, Arin mengangkatnya.
Namun, belum sempat ia menyapa, suara panik lebih dulu menyergap telinganya.
“Ayahmu baru saja dibawa pergi ke kantor polisi!”
Untuk sesaat, dapur terasa sangat sunyi.
Mendengar kata ayah saja, sudah cukup untuk menyeret Arin pada kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam, tentang seorang pria yang gemar menyakiti, lalu pergi tanpa menoleh saat ia membutuhkan perlindungan. Kini sosok itu muncul kembali, seperti biasa, membawa satu hal yang tak pernah berubah: masalah.
Detik berlalu tanpa reaksi, Arin tidak bertanya, tidak pula menangis. Yang ia rasakan bukanlah kesedihan atau kasihan, melainkan rasa waswas yang membuatnya membeku.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, jika ini sampai bocor dan menjadi perbincangan publik, tidak hanya namanya yang akan terseret, tapi juga semua usaha yang ia bangun susah payah selama ini juga akan hancur.
Arin menutup panggilan tanpa mengucapkan kata. Tangannya yang bergetar melepas apron dari pinggangnya, dan menaruhnya begitu saja di atas meja dapur.
Tak ingin membuang waktu, Arin bergegas menuju kamar. Langkahnya sempat goyah, tetapi ia tak berhenti.
Ia segera meraih mantel dari gantungan dan memakainya.
Namun, sebelum Arin sempat melangkah keluar, pintu kamar terbuka dengan hentakan keras.
Ryan berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang dan napas memburu. Sebuah amplop cokelat yang tampak kusut tergenggam erat ditangannya.
Amplop yang Arin bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu apa isinya.
Tanpa basa-basi, Ryan membuka amplop itu dan menarik selembar kertas, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Arin.
Surat Cerai, tulisan besar itu terpampang jelas di bagian atas kertas.
“Tanda tangani ini sekarang juga!” kata Ryan tajam.
Arin menghela napas pelan, memutar bola matanya dengan lelah. “Sayang,” panggilnya lembut, nyaris tanpa emosi. “Aku tidak punya waktu untuk ini sekarang,” lanjutnya sembari merapikan mantelnya.
Ia melangkah keluar kamar, melewati Ryan begitu saja. Tangannya dengan cepat menyambar kunci mobil dan ponsel yang tergeletak di atas meja makan.