Sudah satu tahun aku menjadi penonton paling setia dalam hidupnya. Sayangnya, aku hanya penonton. Bukan pemeran utama.
Aku hafal suara tawanya, jadwal latihan teaternya, bahkan kopi favoritnya. Yang tidak pernah dia tahu hanyalah satu hal... aku mencintainya.
Namanya Ardhaniarta. Aku biasa memanggilnya Dhani. Teman satu kampus yang selalu eksis di dunia hiburan bidang teater. Orangnya supel, baik, kocak dan terkesan cuek. Sifat kocaknya itu yang aku suka darinya, satu tahun ini tanpa dia sadari.
Seusai kelas Dhani tak pernah absen latihan teater. Pentas dari panggung ke panggung. Mulai dari pementasan di sekolah-sekolah, kampus-kampus bahkan tampil di hotel berbintang. Aku tak pernah sekalipun mendengarnya mengeluh. Bahkan dengan penuh tawa dia berujar,
"Aku ingin jadi pemain teater profesional. Jadi apapun yang merintangi pantang menyerah." ucapnya kala itu dengan binar dimata penuh obsesi.
"Kalau urusan cinta, itu nomer sekian." ujarnya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum tipis, menyembunyikan sesak yang tiba-tiba memenuhi dada.
Aku memendam perasaan terhadap Dhani hampir setahun ini. Aku bukan karena tidak barani mengungkapkan atau tidak ada pengakuan sedikitpun tapi karena kesempatan yang kurang berpihak padaku.
Masih ku ingat waktu awal bertemu dengan Dhani, bukan- tapi awal mengenal Dhani. Tepatnya satu tahun yang lalu sewaktu awal semester tiga. Aku tertawa sendiri mengingatnya. Kejadian konyol yang yang membawaku mengenal apa artinya cinta.
Setahun yang lalu.....
Aku terperanjat bangun dan berteriak histeris ketika waktu sudah menunjukan pukul enam pagi. Tanpa komando aku langsung berlari ke kamar mandi dan mengguyur badanku sekenanya. Jadwal perkuliahanku jam setengah delapan dan ada tugas yang harus aku presentasikan.
Bergegas aku berpakaian dan bermake-up secukupnya, kemudian dengan tergesa pamit berangkat ke kampus- tanpa sarapan.