Aku melajukan mobil angkot ini dengan kecepatan agak tinggi. Kulirik kaca spion melihat kebelakang, terlihat si abang supir teriak-teriak seraya berlari mengejar angkotnya yang aku bajak.
Ya, pembajakan angkot. Kalau ditanya apa yang ada di otakku hingga membuatku sampai nekat membajak angkot ini? 'tepat waktu '.
Mungkin dua kata itu yang membawaku pada kenekatan ini. Kulirik jam tangan. Lima belas menit lagi perkuliahan akan dimulai. Sedangkan rute dari halte ke kampus biasanya ditempuh dalam waktu sekitar lima belas menit, kini aku targetkan harus ditempuh dalam waktu sepuluh menit, sehingga masih ada sisa waktu lima menit dari jam masuk untuk membebaskan aku dari kata 'absen nol'.
Aku terus melajukan angkotnya dengan kecepatan tinggi. Suasana jalan yang tidak terlalu padat memudahkan aku untuk ber-on the road ria tanpa hambatan. Tak aku gubris ocehan para penumpang yang memprotes atau pun yang mendukung kenekatan aku ini.
"Neng.... Berhenti!! Jantung bapak bisa copot kalau angkotnya ngebut begini. Bapak masih sayang nyawa." suaranya agak gemetar, panik.
"Kasihan tiga wanita dirumah bisa jadi janda..." lanjutnya lagi.
What? Poligami, pak? Sudahlah, tidak aku gubris.
"Gaaassss teruuusss, neng. Majuuuuu...!!" timpal penumpang lain yang 'exited' dengan kenekatanku.
Tetap tak aku gubris.
"Neng, tolong pelankan sebentar angkotnya, nenek mau update status dulu..."
Hah? Aku melirik kaca spion depan. Kulihat si nenek asyik memainkan ponsel.
"In eksen. Kayak di pilem fes tu ferius klik sher..."
Hah? Aku nge-lag. Oh, Fast to furious, nek.
"Sini giliran kakek update status." ujarnya seraya meraih ponsel dari si nenek.
"Dari menikah berubah menjadi lajang." ujarnya.
Si nenek langsung cemberut dan ngomel-ngomel.
Aku terkekeh. Ada-ada saja.
Aku terus melajukan angkotnya. Tinggal beberapa meter ke depan kampusku terlihat.