I Wish You Be Mine

Ade Krismayanti
Chapter #3

Chapter tanpa judul #3

Aku melahap makanan di hadapanku tanpa jeda. Sendok dan garpu bergerak cepat seolah-olah aku baru saja ditemukan setelah berhari-hari tersesat di pulau terpencil tanpa persediaan makanan.

Beberapa pasang mata melirik ke arahku sambil menahan senyum. Mungkin mereka geli melihat cara makanku yang nyaris tak punya jeda.

Aku pura-pura tidak sadar.

Memang begitulah aku. Tingkat cuekku sudah berada di atas rata-rata manusia normal. Bukan berarti aku tidak punya rasa malu, hanya saja rasa laparku sering kali menang telak.

"Tumben, pagi tadi hampir telat ke kampus. Nggak ada angin, nggak ada hujan. Biasanya sebelum azan Subuh kamu udah nongkrong di kelas," celetuk Nuno sambil mengaduk es tehnya.

Aku mendengus pelan.

"Nggak usah nyindir, ya."

Nuno terkekeh.

"Tumben itu bagus, No. Lagian soal angin sama hujan kan bisa kita bikin sendiri lewat mekanisme tubuh."

"Maksudnya?"

"Angin ya kentut. Hujan ya bersin."

Seketika Nuno terbahak-bahak.

"Kamu tuh emang... cuek kebangetan. Tomboy nggak, feminin juga nggak. Makhluk nanggung."

Aku mengangkat bahu santai.

"Nggak masalah dibilang makhluk nanggung. Yang penting jangan dibilang makhluk ciptaan Tuhan yang gagal."

Nuno menggeleng sambil tertawa.

"Makanya punya pacar."

Aku mengernyit.

"Loh, apa hubungannya?"

"Katanya orang-orang, cinta bisa ngubah sifat seseorang. Siapa tahu kalau kamu jatuh cinta, kamu jadi cewek yang lebih feminin. Nggak kayak sekarang, tomboynya setengah-setengah."

Aku menopang dagu.

"Feminin itu pilihan. Tomboy itu keputusan. Yang bukan pilihan itu disuruh bayar tugas kelompok sendirian."

Nuno kembali tertawa.

"Soal cinta..." lanjutku. "Buat aku, cinta nggak bisa dipaksa. Harus datang sendiri. Harus bikin hati bergetar tanpa disuruh. Kalau sampai sekarang aku belum jatuh cinta, mungkin karena hati aku belum menemukan alasan buat berdebar setiap lihat kaum Adam."

Aku berhenti sebentar, lalu tersenyum kecil.

"Lagian... jomblo itu nasib. Single itu prinsip. Semua ada waktunya. Aku cuma berharap nanti, kalau waktunya datang, kisah cinta aku bakal indah."

Nuno mendadak diam.

Ia mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipis.

"Kalau tiap debat sama kamu begini, rambut aku bisa putih semua sebelum lulus."

Aku terkekeh puas.

"Nah, sekarang giliran kamu. Aku nggak pernah dengar kamu cerita soal cewek."

Nuno hanya tersenyum tipis.

Aku baru sadar.

Selama ini yang paling sering bercerita memang aku. Tentang tugas kuliah, ide cerita, cita-cita menjadi penulis, sampai hal-hal receh yang bahkan tidak penting.

Nuno selalu mendengarkan.

Selalu ada. Selalu memberi semangat.

Aku tahu hampir semua hal tentang diriku sendiri karena sering menceritakannya pada Nuno. Tapi tentang Nuno? Nyaris tidak ada.

Aku bahkan tidak tahu perempuan seperti apa yang ia sukai. Apa aku terlalu egois? Atau... terlalu terbiasa menjadikannya tempat bercerita tanpa pernah benar-benar bertanya tentang hidupnya?

"Ada."

Suara Nuno mematahkan lamunanku.

"Ada cewek yang aku suka."

Aku langsung menatapnya.

"Dia orangnya asyik. Cuek. Kadang kelihatan kayak hidup di dunianya sendiri kalau lagi pegang pena sama buku harian kecil."

Aku mulai merasa deskripsi itu tidak asing.

Lihat selengkapnya