Ibet

Dicky sidiq
Chapter #1

pertemuan pertama


Bandung, Mei 2000


“Hai,” sapanya lirih, nada suaranya ragu namun penasaran. “Dimas?” tebaknya, matanya menyelidik seraya menunjuk ke arahku.

“Hai,” balasku, berusaha menyunggingkan senyum ramah. “Iya, betul. dengan Ibet?”

Ia mengangguk, senyumnya merekah—kelegaan yang entah kenapa menular padaku.

“Boleh aku duduk?” tanyanya, sedikit canggung.

“Tentu saja.” Aku menggeser tangan, mempersilakan kursi di hadapanku.

Ibet menarik kursi pelan, lalu duduk dengan anggun. Tatapannya sulit kubaca—campuran antara rasa ingin tahu dan sedikit gugup.

“Akhirnya… ketemu juga ya.” Ucapnya.

“Iya, akhirnya.” Aku mengulangi kata itu, merasakan keanehan yang sama.

Bertemu seorang perempuan dengan cara seperti ini benar-benar di luar zona nyamanku. Otakku berusaha keras untuk tidak terjebak dalam ekspektasi dan rasa penasaran yang berlebihan. Rasanya seperti berjudi, membeli kucing dalam karung—aku tak tahu apa yang akan kutemukan. Naluri memperingatkanku bahwa situasi ini bisa jadi jebakan, dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Karena itulah, aku memilih tempat yang ramai, menjadikannya perisai terhadap segala kemungkinan buruk.

Semuanya bermula dari acara radio—program kencan unik yang menjodohkan para lajang di Bandung. Sejujurnya, aku tak berharap banyak dari pertemuan ini. Niatku sederhana: bersikap ramah, mencoba menjalin pertemanan yang baik, dan melihat ke mana obrolan ini akan membawa kami.

“Eh, kita belum kenalan resmi,” serunya, mengulurkan tangan dengan riang. “Kenalkan, aku Ibet.”

Aku menyambut uluran tangannya. “Dimas. Senang bertemu denganmu, Ibet,” ujarku, berusaha terdengar seramah mungkin.

Genggamannya hangat, auranya penuh semangat.

Harus kuakui, Ibet sangat menyenangkan. Senyumnya seolah tak pernah luntur dari wajahnya, membuat suasana terasa lebih hidup dan ceria. Rambutnya sebahu, ditata sederhana namun manis. Ia mengenakan kaus putih polos yang dipadukan dengan jeans biru cerah, dan sebuah tas selempang hitam kecil yang menggantung santai di bahunya. Ada semacam keceriaan alami yang terpancar darinya—aku langsung terpikat dengan energi positif itu. 

“Kerja atau kuliah?” tanyaku, mencoba memulai percakapan.

“Aku kerja di rumah sakit, daerah Bandung atas,” jawabnya, sambil memainkan tali tasnya di atas meja. “Aku perawat.”

Aku mengangguk, menahan senyum. “Pantas saja auranya menenangkan,” celetukku, setengah bercanda.

Dia terkekeh, lalu sebelum sempat aku melanjutkan, suara tangis seorang anak kecil memecah suasana. Kami menoleh bersamaan. Seorang balita merengek, sementara ibunya tampak kerepotan menenangkannya.

“Kasihan, mungkin capek ikut belanja,” gumam Ibet pelan.

“Iya, tempat ini memang ramai kalau pagi begini. Menjadi tempat tunggu yang berbelanja disamping.” seruku sambil menunjuk gedung sebelah yang merupakan swalayan.

Anak itu akhirnya terdiam setelah dipeluk ibunya. Kami kembali saling menatap, lalu aku memberanikan diri.

“Aku sendiri masih kuliah,” kataku.

“Oh, mahasiswa?” Senyumnya mengembang lagi. “Wah, pasti sibuk ya, antara kuliah sama tugas-tugas.”

“Lumayan. ” jawabku sambil terkekeh.

Sejenak, ada jeda hening yang terasa canggung. Aku menoleh ke jendela.

“Cuacanya enak hari ini ya, cerah, nggak terlalu panas juga.”

“Iya,” sahutnya, matanya ikut melirik keluar. “Kalau cuaca begini, sepertinya cocok untuk jalan-jalan”.

Aku mengangguk, setuju sepenuhnya, meski dalam hati, suasana sejuk itu lebih banyak datang dari orang yang duduk di depanku.

 Aku menatapnya sejenak, lalu dengan sedikit ragu aku bertanya,

“Ngomong-ngomong, Ibet itu… nama asli, atau panggilan?”

Dia tersenyum, seperti sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

“Itu panggilan waktu kecil,” jelasnya. “Nama ku Elizabeth. Tapi entah kenapa, dari dulu semua orang kayaknya senang panggil aku Ibet. Aku tidak bisa meminta orang untuk memanggilku apa, selama bukan sesuatu yang jelek, aku kira bukan masalah, lagi pula nama Elizabeth bukan nama yang umum juga.” senyumnya kembali menghiasi.

Lihat selengkapnya