Aku duduk di kursi, di depan meja belajar yang sudah terlalu sering kutatap. Kepalaku kutopangkan di atas lengan yang menyilang di meja, sementara mataku menelusuri benda-benda kecil di atas permukaan kayu itu—buku, pulpen, gelas kosong—semuanya tampak bisu, seolah menertawakan kebosananku.
Tidak ada perkuliahan, hanya hari-hari yang hampa. Sudah tiga hari sejak pertemuanku dengan Ibet, tapi bayangan dirinya masih saja berputar di kepala. Aku mulai yakin, mungkin aku bukan orang yang ia harapkan. Barangkali ia mencari seseorang yang lebih… lebih mapan, yang sudah tahu arah hidupnya, yang bisa menemaninya dengan pasti. Sedangkan aku? Aku hanya mahasiswa, yang bahkan masih gamang dengan masa depan sendiri.
Aku mencoba berkata pada diriku: lupakan saja. Tapi entah kenapa, ia tetap berlari di pikiranku, seakan dia terjebak di dalam kepalaku.
Aku mencoba memejamkan mata, berharap pikiran ini tenang. Tapi justru wajah Ibet muncul begitu jelas, seakan baru saja ia duduk di depanku. Senyumnya, tatapan matanya, yang menyimpan sesuatu yang sulit kutebak, semua itu kembali terbayang. Bahkan cara ia merapikan helai rambut yang jatuh di pipinya pun masih kuingat.
Aku tidak bisa menyangkal, Ibet memang manis. Ada bagian diriku yang diam-diam merasa bangga bila suatu saat aku bisa membawanya berkumpul bersama teman-temanku, ketika masing-masing dari mereka datang dengan pasangan. Namun begitu bayangan itu muncul, aku cepat-cepat menepisnya. Pikiran konyol. Terlalu jauh untuk seseorang yang bahkan belum tentu menaruh harapan padaku.
Yang lebih mengusik, adalah ketidakpastian ini. Sudah tiga hari ia tidak menghubungiku. Mudah-mudahan, bukan karena hal yang sepele, apalagi karena perbedaan keyakinan. Pikiran itu membuat dadaku sedikit sesak, meski aku berusaha menenangkannya.
Dan saat lamunan itu makin dalam, ponselku tiba-tiba bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah nama yang membuatku nyaris tak percaya—Ibet. Jemariku sedikit bergetar saat menyentuh layarnya.
"Hai, apa kabar? Kamu seperti hilang ditelan bumi, nggak ada kabar. Jangan-jangan memang sengaja menghilang," begitu isi pesannya.
Aku menarik napas pelan sebelum membalas.
"Hai, kebetulan baru saja kepikiran kamu, tadinya mau menghubungi, tapi takut ganggu." Terdengar klise, tapi memang itulah kenyataannya.
Beberapa detik kemudian, balasannya masuk.
"Oh ya, aku sempat mikir, mungkin aku bukan seperti yang kamu harapkan."
Aku terdiam cukup lama, menatap layar. Ironisnya, aku pun berpikir hal yang sama—barangkali akulah yang tak pernah cukup untuknya.
Pesan lain kembali muncul. Kali ini ia menyebutkan bahwa booklet voucher makan—hadiah dari radio—sudah ia ambil.
"Kamu mau pakai nggak? Atau aku aja yang pakai?" tulisnya.
Aku buru-buru menjawab, mencoba terdengar ringan.
"Kalau kamu mau pakai sama teman-temanmu, pakai saja. Aku nggak masalah."
Namun jawabannya datang cepat, membuatku tersenyum samar.
"Nggak bisa gitu. Kamu juga punya andil. Rasanya nggak adil kalau aku pakai sendiri. Setidaknya kita harus pakai sekali."
Aku menatap layar, ragu-ragu, lalu jari-jariku mengetik sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja.
“Menurutmu, gimana pertemuan pertama kita waktu itu?”
Ada jeda beberapa menit sebelum balasan masuk.
“Menyenangkan. Cuma sepertinya perkenalannya kurang lama.”
Senyumku merekah tanpa kusadari. Aku pun mencoba mencairkan suasana dengan candaan,
“Kalau begitu, artinya harus ada pertemuan kedua dong.”
Balasannya membuat jantungku berdegup lebih kencang.
“Iya. Mau sekalian manfaatin voucher makan? Jadi tempat ketemunya sekalian bisa ngobrol.”
Wah, tidak basa basi, aku suka. Aku mengetik, agak ragu.
“Setahu aku, di dekat rumah sakit tempatmu kerja ada kafe. Besok, setelah kamu pulang kerja, kita ketemu di sana, bagaimana?”
Butuh beberapa detik sebelum jawabannya masuk, tapi begitu kubaca, rasa lega membanjiri dadaku.
“Iya, aku tahu. Oke. Besok di kafe itu ya, waktunya aku yang kabari ya.”
Aku menaruh ponsel di meja, menarik napas panjang. Prasangkaku selama ini ternyata salah. Ibet masih ingin bertemu denganku. Hati yang tadi murung seketika berubah . Untuk pertama kalinya sejak tiga hari ini, aku benar-benar merasa senang.
—
Hari ini kelas di kampusku terlihat ramai. Aku selalu menanti-nanti suasana kelas, karena bagiku kuliah bukan hanya soal materi, tapi juga kesempatan untuk berinteraksi, bercanda, dan sekadar merasa tidak sendiri. Ada semacam energi yang membuatku betah berlama-lama di kampus. Tapi entah mengapa, kali ini terasa berbeda. Aku duduk di bangku, mendengar dosen menjelaskan, namun pikiranku tidak sepenuhnya tertambat di ruang ini. Ada perasaan ingin waktu melompat lebih cepat, ingin jam kuliah segera bergulir, ingin langit segera condong ke arah sore.
Ada satu alasan sederhana tapi kuat: aku ingin segera bertemu Ibet. Entah mengapa bayangan pertemuan itu membuat kuliah hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap menit seolah berjalan lambat, setiap detik seperti menahan langkahku. Aku bahkan jadi kurang fokus pada materi, karena hatiku sudah lebih dulu melangkah ke sore nanti, ke pertemuan yang diam-diam aku tunggu.
—
Sore akhirnya datang juga. Aku duduk di kursi meja belajarku, mencoba membuka buku, tapi sulit sekali fokus. Pikiran melayang, menunggu sesuatu yang sebenarnya sederhana—sebuah pesan di ponsel.
Getaran singkat itu akhirnya datang. Ponselku bergetar, layar menyala, nama Ibet muncul. Ia menulis kalau ia akan pulang pukul tujuh malam. Ia sempat bertanya, apakah tidak terlalu malam jika kami bertemu. Aku tersenyum kecil membaca pesannya. Bagiku, waktu bukan masalah. Walau rumahku cukup jauh, masih bisa kutempuh kurang dari satu jam. Yang penting aku bisa bertemu dengannya.
Entah kenapa, membaca pesan singkat itu membuat soreku terasa lebih hidup. Ada sesuatu yang ditunggu, sesuatu yang membuat jarum jam seolah bergerak lebih lambat.
Malam perlahan turun, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan udara terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Aku masih memegang ponsel, membaca ulang pesan terakhir dari Ibet. Dalam perjalanan menunggu waktu, aku sengaja menyiapkan beberapa pertanyaan di kepalaku—hal-hal ringan yang bisa kutanyakan nanti, agar pertemuan kami tidak jatuh ke dalam hening yang canggung.
Tapi kemudian aku tertawa kecil pada diriku sendiri. Kenapa juga harus kupikirkan sejauh itu? Bukankah pertemuan yang tulus justru mengalir apa adanya? Apa yang terjadi, terjadilah. Yang penting aku hadir, dan Ibet pun bersedia meluangkan waktu. Sisanya biarlah mengalir, seperti percakapan yang tak perlu dipaksa.
Jarum jam bergerak mendekati pukul tujuh. Ada perasaan berdebar yang tak bisa kutolak—campuran antara gugup dan bahagia. Malam ini, akhirnya aku akan bertemu dengannya.
Cafe itu penuh dengan riuh rendah tawa anak muda, suara musik pelan bercampur dengan aroma kopi yang hangat. Setelah memarkirkan motor, aku menarik napas dalam-dalam lalu menaiki tangga menuju ruang utama. Pencahayaan redup berpadu dengan keramaian membuatku harus sedikit menyapu pandangan, mencari sosok yang sudah beberapa jam memenuhi pikiranku.
Di antara meja-meja penuh obrolan itu, mataku akhirnya berhenti. Sesosok yang kukenal duduk di dekat jendela, melambaikan tangan dengan senyum yang khas—senyum yang langsung membuat suasana di sekitarku meredup, seolah hanya ada satu titik cahaya yang menarikku.
Itu Ibet.
Aku mengangkat tangan membalas lambaian itu, langkahku sedikit ragu, menuju meja tempatnya menunggu. Senyumnya mengembang begitu aku mendekat. Sweater putih dengan hoodie, celana pendek cargo, dia tampak begitu santai.
“Sudah lama nunggu?” tanyaku sambil menarik kursi di depannya.
Ibet menggeleng pelan, senyumnya tetap mengembang.
“Nggak juga, aku baru datang.”
Aku menaruh jaket di sandaran kursi samping, mencoba menata ekspresi agar terlihat santai. Padahal di dalam dada, degup jantungku belum juga tenang. Suasana kafe yang ramai justru terasa sayup, seakan hanya percakapan di meja ini yang benar-benar nyata.
“Pulang kerja?” tanyaku lagi, sekadar untuk memecah hening yang mungkin muncul.
Ibet tertawa kecil, menyibakkan rambut yang jatuh ke pipinya.
“Iya, senang bisa ada waktu ketemu lagi.”
Aku terdiam sejenak. Kata-katanya sederhana, tapi efeknya tidak sederhana sama sekali.
“By the way, aku sudah pesankan kamu minum. Kopi panas, nggak apa-apa kan?” Ibet meneruskan ucapannya.
“Gak apa-apa. Aku memang butuh secangkir kopi,” jawabku cepat, berharap membuatnya senang.
Aku menarik napas, mencoba membuka percakapan.
Aku menatapnya, ku hentikan semua gerakku “Apa kabar, Bet?” sapaku berusaha setenang mungkin.
“Aku baik, kamu?”
“Aku juga baik”
Rasa canggung itu mulai merayap.
“Kamu menghilang” serunya seraya membetulkan posisi duduknya,
“Menghilang? Aku ada, menunggu kamu menghubungi” Nada bercandaku aku coba selipkan.
“Harus aku yang duluan yang menghubungi ya?” Dia memperhatikakku tajam.
“Tidak juga, aku merasa kalau perkenalan pertama itu biar si ceweknya yang menilai cowoknya seperti apa, menyenakan kah? Membosakan kah?”
“Jadi, itu alasannya, kenapa kamu nggak ngehubungi aku? Merasa sudah tidak penasaran lagi? Atau aku membosankan?”
Dengan wajah datar tanpa ekspresi, ia memicingkan mata, menunggu jawabanku.