Sudah dua hari berlalu sejak aku mengantar Ibet ke mes nya malam itu. Sejak itu, hidupku kembali pada rutinitas: kuliah pagi, laporan praktikum, dan nongkrong sebentar di kantin kampus sebelum pulang ke rumah. Tapi ada satu hal yang membuat semuanya terasa berbeda—ponselku kini tak pernah benar-benar sepi.
Nama yang sama selalu muncul di layar: Ibet.
Awalnya hanya pesan singkat seperti, “Sudah sampai rumah?” atau “Kuliahmu jam berapa hari ini?” Namun entah bagaimana, obrolan itu mengalir begitu saja. Aku merasa benar-benar diperhatikan. Sejak aku dan Ibet mulai sering bertukar pesan, ia selalu memberi kesan hangat. Hal-hal sederhana seperti menanyakan sudah makan atau belum atau sudah tidur atau belum saja bisa membuatku salah tingkah. Kadang aku jadi bertanya-tanya, apakah Ibet juga seperti itu pada orang lain, atau hanya padaku?
—
Siang itu aku duduk di kelas, mendengarkan dosen menjelaskan materi teori panjang lebar. Pandanganku sering melayang ke arah jendela, atau ke layar HP yang kuselipkan di bawah meja. Begitu notifikasi muncul, refleks aku tersenyum.
Ibet: Lagi kuliah?
Aku: Iya, kelas paling membosankan.
Ibet: Jangan ketiduran, nanti dimarahi dosen.
Aku: Tenang, ada kamu yang bikin melek.
Aku menahan tawa kecil, buru-buru menunduk agar tidak ketahuan dosen.
“Bro, apaan sih senyum-senyum sendiri?” bisik Raka, teman di sebelahku.
“Enggak, nggak ada apa-apa,” elakku cepat.
“Alah, paling ada cewek.” Ia melirik ponselku dengan tatapan penuh curiga.
Aku hanya menggeleng, pura-pura fokus pada catatan, padahal isi kepalaku hanya satu: balasan dari Ibet.
—
Malam merayap cepat. Seusai shalat magrib aku berniat menyelesaikan tugas kuliah. Namun, setiap kali membuka laptop, tanganku selalu lebih dulu meraih ponsel. Layarnya kosong, dan sebanyak itu pula aku menghela napas. Aku menunggunya—menunggu satu pesan singkat darinya.
Tugas akhirnya kuselesaikan dengan setengah hati. Aku rebah di kasur, lampu kamar temaram, pikiranku melayang entah ke mana. Saat itulah layar ponselku menyala.
Ibet: lagi sibuk?
Pesan sederhana, tapi dunia seakan berhenti. Dia mampu menyita setiap detikku. Perasaan apa ini? Ada dorongan ingin melihat senyumnya, mendengar suaranya, bahkan bertemu dengannya. Tapi setiap kali kami berinteraksi, meski sekadar lewat pesan, selalu ada jarak yang tak kasatmata, seolah ada pembatas yang melingkupinya.
Aku terbuai lamunan sampai notifikasi baru muncul.
Ibet: Kamu sibuk banget ya, kok lama balesnya?
Aku: Tadi ngerjain laporan.
Ibet: Rajin sekali mahasiswa satu ini, aku ganggu ya.
Aku:Tadi iya, sekarang sudah enggak (emoticon senyum)
Ibet: jadi enggak enak.
Aku mengetik cepat:
Aku: Jangan salah, Lagi pula, lebih cepat tugas beres, lebih cepat aku bisa konsentrasi padamu.
Jempolku sempat ragu menekan tombol kirim. Namun akhirnya pesan itu meluncur juga. Layar hening. Detik-detik terasa lama sebelum balasan muncul.
Ibet: Hahaha, bisa aja.
Senyumku merekah. Sesuatu yang baru sedang tumbuh, aku bisa merasakannya—meski belum berani memberinya nama.
—
Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama: kuliah, tugas, lalu malam panjang di kamar. Bedanya, aku selalu menunggu satu hal—layar ponsel yang menyala dengan nama Ibet.
Kadang aku ingin menulis banyak hal, tapi selalu berhenti di tengah. Takut kalau terlalu berlebihan, takut kalau salah kata malah membuatnya menjauh. Ibet juga begitu—aku bisa merasakan setiap pesannya penuh hati-hati, seperti ada jeda sebelum ia memutuskan untuk mengirim.
Aku: Lagi jaga malam?
Ibet: Iya, baru selesai ganti perban pasien. Kamu masih bangun?
Aku: Iya, belum bisa tidur.
Ibet: Jangan sampai besok kesiangan kuliah.
Balasan itu sederhana, tapi aku bisa membayangkan suaranya—nada menegur lembut, tapi ada perhatian di dalamnya.
Aku mengetik:
Aku malah lebih senang kalau bisa ngobrol sama kamu dulu.
Tapi jempolku berhenti di tombol kirim. Setelah menatap layar beberapa detik, aku menghapus kalimat itu dan hanya menulis:
Aku: Oke, aku coba tidur. Semangat jaga malam ya.
Beberapa menit kemudian balasannya masuk.
Ibet: Terima kasih. Semoga mimpimu bagus malam ini.
Aku tersenyum, tapi ada sedikit rasa perih yang tak bisa kujelaskan—seperti menahan sesuatu yang ingin keluar, tapi takut merusak apa yang sedang di bangun.
—
Di siang hari, aku yang sering melongok ponsel hanya untuk memastikan ada pesannya. Kadang Ibet membalas cepat, kadang lama sekali. Saat lama ia membalasku, ada perasaan was-was: jangan-jangan aku sudah keterlaluan, jangan-jangan ia menyesal membuka percakapan denganku. Tapi setiap kali notifikasi itu muncul kembali, semua kekhawatiran seolah lenyap begitu saja.
Ibet: Maaf ya, baru balas. Tadi sibuk banget.
Aku: Gak apa-apa, aku ngerti kok.
Aku ingin menulis, aku kangen ngobrolnya, tapi lagi-lagi hanya berhenti jadi kalimat di kepala.
Hubungan ini seperti benang halus. Aku mencoba merajutnya, pelan dan hati-hati. Satu tarikan yang terlalu keras saja bisa membuat simpulnya lepas.
—
Malam itu aku rebah di kasur, lampu kamar sengaja kupadamkan. Hanya cahaya layar ponsel yang menemaniku. Ibet baru selesai jaga, katanya lagi beristirahat di mes.
Ibet: Kamu nggak tidur?
Aku: Belum ngantuk.
Ibet: Biasanya orang kalau capek langsung tidur.
Aku: Iya, tapi kayaknya kalau nggak ngobrol dulu… kepalaku masih penuh.
Balasannya tidak langsung datang. Lalu beberapa detik kemudian:
Ibet: Penuh sama apa?
Aku menatap layar agak lama. Hampir kuketik, penuh sama bayanganmu, tapi aku tahan. Akhirnya jemariku memilih kalimat yang lebih aman:
Aku: Penuh sama tugas kuliah, sama pikiran yang nggak penting.
Ibet: Hahaha, aku kira serius. Tapi memang begitu sih, kuliah itu menyita pikiran.
Aku tersenyum kecil. Lalu, tanpa sadar aku menulis:
Aku: Kalau kamu? Apa yang paling sering kamu pikirin akhir-akhir ini?
Balasannya cukup lama, hingga aku sempat mengira ia sudah tertidur. Sampai akhirnya layar menyala:
Ibet: Aku sering mikirin… aku kuat nggak ya jalanin hidup ini. Kadang rasanya capek.
Aku tertegun membaca itu. Baru kali ini ia menulis sesuatu yang lebih jujur, tanpa lapisan candaan.
Aku: Capek karena kerjaan?
Ibet: Kerjaan iya, tapi bukan cuma itu. Hidup sendiri. Kadang ada rasa sepi.
Aku mengetik cepat, hampir tanpa berpikir:
Aku: Kalau kamu sepi, aku bisa nemenin lewat sini.
Aku menatap layar, merasa terlalu jauh. Sebelum sempat menyesal, balasannya muncul:
Ibet: Hehe, iya… aku tahu. Makasih ya, Dim.
Ada jeda hening. Rasanya dada ini senang sekaligus canggung. Aku ingin menulis lebih banyak, tapi khawatir terlalu banyak. Tiba-tiba notifikasi lain masuk.
Ibet: Oh iya, Minggu ini aku libur kerja. Rencananya mau cari buku. Kamu mau nemenin nggak?
Mataku langsung berbinar membaca pesannya. Aku mengetik dengan semangat, nyaris tanpa pikir panjang.
Aku: Siap, Kamu mau cari buku apa?
Ibet: Masih bingung sih, yang jelas pengen jalan-jalan ke toko buku dulu.
Aku: Siap. Aku ayo aja.
Ada jeda singkat, lalu balasannya muncul lagi.
Ibet: Hahaha, baiklah. Kalau gitu Minggu, jam sebelas aku tunggu di depan mess, aku ada ibadah minggu dulu.
Aku tersenyum. Akhirnya kututup dengan pesan singkat:
Aku: Ok, sampai ketemu, selamat bertugas.
Ibet: Selamat tidur :).
Aku meletakkan ponsel di samping bantal, menatap gelap langit-langit kamar. Ada rasa bahagia, tapi juga gentar. Aku takut satu kalimat salah bisa meruntuhkan semuanya.
—-
Minggu pagi ini terasa berbeda. Sejak subuh aku sudah terjaga, meski biasanya di hari libur tubuh masih enggan beranjak dari kasur. Hari ini tidak. Ada semacam semangat baru yang membuatku segera bangun, menyingkap tirai jendela, berharap langit bersih tanpa mendung. Aku berharap hari ini cerah, sama cerahnya dengan pikiranku yang terus dipenuhi bayangan pertemuan dengan Ibet.
Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku tidak sabar menemuinya, membayangkan bagaimana senyumnya nanti ketika kami bertemu. Namun di sela semangat itu, muncul pula keraguan kecil. Terlintas pikiran untuk membawakan sesuatu—hadiah kecil, mungkin boneka, atau sekadar camilan kesukaannya. Tapi lalu aku ragu. Bagaimana kalau pemberian itu justru membuatnya salah paham? Bagaimana kalau dia merasa aku terburu-buru menaruh harapan?
Aku menatap barang-barang di meja belajar, memungut lalu meletakkan kembali, berulang kali. Pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum kecut pada diri sendiri. Sabar… sabar, Dim. Ibet sudah memberimu kesempatan, bahkan hari ini ia mengajakmu untuk menemaninya. Itu sudah lebih dari cukup. Kamu tidak boleh gegabah.
Hati ini ingin berlari lebih cepat, tapi aku tahu, untuk sampai benar-benar di hatinya, aku harus belajar menunggu dengan tenang.