Ibet

Dicky sidiq
Chapter #4

Sekarang Perasaan itu Punya Nama

Bab 4. Sekarang Perasaan itu Punya Nama

 

Hari-hari kembali berjalan dengan ritme yang biasa. Aku dengan kuliahku, Ibet dengan pekerjaannya. Pertemuan kami di kedai es krim itu seperti tersimpan rapi di sudut hati, sebuah momen yang mengejutkan namun tak langsung mengubah apa-apa.

 

Pagi kembali disambut oleh dering alarm, jalanan macet, dan tumpukan tugas yang harus kuselesaikan. Sesekali aku teringat senyumnya, senyum yang sempat hilang lalu kembali kutemukan malam itu—dan entah kenapa, bayangan itu cukup untuk membuatku bertahan melewati rutinitas yang melelahkan.

 

Sementara dari cerita singkat yang ia bagi lewat pesan, Ibet sibuk dengan dunia pekerjaannya sendiri. Ada rasa ingin tahu lebih dalam, tapi aku memilih menunggu, membiarkan waktu yang perlahan mengikis jarak.

 

Kring… Kring…

Notifikasi ponselku berbunyi. Sekilas aku mengira itu dari Ibet, membuatku bersemangat untuk segera memeriksanya. Tapi ternyata, pesan itu dari Raka, sahabatku.

 

> “Bro, kamu di rumah? Aku ke situ ya sama Alya.”

 

 

Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas. Raka sama pacarnya mau ke sini? Ngapain?

Aku akhirnya membalas singkat:

 

> “Mau apa ke sini?”

 

Tidak ada jawaban. Lama sekali sampai akhirnya aku mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Aku segera melangkah ke depan, dan benar saja—Raka bersama Alya sudah berdiri di teras.

 

Aku membuka pintu.

“Asalamualaikum, my broo!” serunya sambil menjulurkan kepalan tangan.

 

Aku menyambut dengan kepalan tanganku—fist bump khas kami. Alya ikut menyapaku dengan senyum manis.

 

“Kok bisa kalian terdampar ke sini?” seruku.

 

Raka nyengir,

“Numpang pacaran, broo.”

 

Alya langsung gemas mendengar ucapan itu. Ia menjambak rambut bagian belakang Raka.

“Berisik!” katanya, lalu menoleh padaku sambil minta maaf.

 

Aku hanya tersenyum melihat mereka—pasangan aneh, tapi menyenangkan untuk dilihat.

 

Aku persilahkan mereka masuk, dan duduk di ruang tamu

Aku berniat ke belakang untuk mengambilkan mereka minum, tapi Raka langsung melarang.

“Jangan, bro!” serunya cepat.

Aku berhenti sejenak.

“Kenapa?”

“Aku udah bawa bekal minum,” katanya sambil mengangkat botol plastik dari tasnya.

 

Aku tertawa.

“Kalian bertamu tapi bawa minuman sendiri, kalian sungguh amazing.”

 

Alya ikut tersenyum, lalu menimpali,

“Sebenarnya tadi kami mau nonton, jadi udah nyiapin perbekalan buat di bioskop.” Ia menunjuk ke arah Raka. “Dia yang beli tiketnya.”

 

Aku melirik Raka.

“Terus?”

Alya mendengus.

“Pas mau masuk studio, aku cek tiketnya. Film yang harusnya di studio satu, eh dia belinya yang studio dua.”

 

Aku langsung ngakak.

“Parah!”

 

Raka mengangkat bahu santai.

“Padahal, ya sudah lah, tonton saja, tanggung, tiketnya udah di beli.”

 

Alya langsung melotot padanya.

“Apa?! Nonton film India? Kamu aja sendiri yang nonton!, perjanjian kita bukan nonton itu kan?. Paling nanti keluar studio, langsung muter-muter di tiang lampu kayak laron.”

 

Aku nggak bisa menahan tawa melihat tingkah mereka—pasangan aneh yang selalu berhasil bikin suasana jadi ramai.

 

“Dims!” seru Raka. “Aku dengar kemarin Citra ngajak kamu jalan, tapi kamu bilang nggak bisa. Katanya kamu ada kencan. Siapa tuh cewek yang kurang beruntung itu?”

 

Raka bercanda, dan langsung mendapat pukulan bantal kursi dari Alya.

 

Aku menoleh, penasaran.

 “Eh, dari mana kamu tahu?”

 

Raka nyengir sambil menunjuk Alya.

“Dari orang ini.”

 

Alya ikut menyambut dengan wajah tak bersalah.

“Citra cerita. Katanya gosip baru—Dimas pacaran.”

 

Aku tidak pernah berhenti tertawa kalau bertemu mereka berdua.

 

“Alya!” seruku, mencoba menarik perhatiannya sepenuhnya padaku.

 

“Iya, kenapa?” jawab Alya, menatapku penuh rasa ingin tahu.

 

“Mumpung ada kamu, aku mau curhat nih,” kataku sambil menghela napas kecil.

 

Alya memiringkan kepala, memberi isyarat agar aku lanjut bercerita.

 

“Aku ketemu cewek lewat acara di radio. Awalnya cuma iseng, eh malah dipasangkan sama penyiarnya. Kami sudah tiga kali bertemu. Al, aku nggak tahu kenapa… aku terus kepikiran dia. Setiap ada notifikasi di ponsel, aku berharap itu pesan darinya. Dan kalau ternyata bukan, ada rasa kecewa.”

 

Aku berhenti sejenak, lalu menatap Alya sungguh-sungguh.

“Kamu tahu kan, temen cewekku banyak. Kalau mau jalan ya tinggal jalan—Citra, Wulan, Dita… bahkan sama kamu. Tapi sama kalian, aku nggak pernah ada perasaan apa-apa. Nah, cewek yang satu ini beda. Aku selalu pengen tahu kabarnya, Al. Rasanya… aku pengen terus ada di dekat dia.”

 

Alya tersenyum lebar.

Fix, kamu jatuh cinta,” ujarnya mantap.

 

“Tapi aku sama dia baru ketemu tiga kali,” bantahku, masih ragu.

 

Raka yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut bicara.

“Bro… mau ketemu sekali, tiga kali, atau seribu kali pun, kalau hati udah bicara, urusannya pasti jadi rumit.”

 

Aku menghela napas, mencoba menimbang kata-kata Raka.

“Rumit gimana maksud mu?” tanyaku.

 

Raka tersenyum tipis.

“Ya rumit, karena logika sama perasaan jarang bisa jalan bareng. Lo bisa aja bilang, ‘Ah, baru tiga kali ketemu, belum kenal dekat.’ Tapi hati lo udah keburu nyangkut. Nah, itu yang bikin pusing, kepikiran tiap detik.”

 

Alya menimpali sambil menyikut lenganku.

“Dan jujur aja, pusing yang ini biasanya bikin nagih. Kamu jadi nungguin chat, kepikiran kalau dia nggak bales, senyum-senyum sendiri kalau inget dia.”

 

Aku menunduk, menopangkan kepalaku pada lengan..

 

Alya tertawa kecil.

“Kamu sedang tersiksa, justru itu pertanda bagus. Hati kamu lagi belajar.”

 

Raka mengangguk.

“Pertanyaannya cuma satu, Bro: kamu berani maju atau mau terus mikirin kemungkinan tanpa pernah nyoba?”

 

Aku terdiam, menatap botol setengah kosong di depanku. Ada rasa takut, tapi juga ada rasa nggak mau kehilangan.

 

Aku terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan Alya dan Raka. Kata-kata mereka berputar di kepalaku, memantul seperti gema. Perasaan yang selama ini bikin dadaku sesak akhirnya kini punya nama—cinta. Tapi begitu aku sadar bahwa perasaan itu tertuju pada Ibet, aku seperti menabrak tembok besar.

 

Aku masih ingat jelas apa yang ia katakan di kedai es krim waktu itu. Tentang trust issue yang ia bawa, trauma atau apalah namanya. Aku mencoba memahami, tapi rasanya seperti berusaha meraih awan: dekat di mata, mustahil di tangan.

 

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali ke obrolan dengan Alya.

“Al, ada satu hal yang bikin aku ragu. Dia pernah cerita kalau dia punya luka lama. Dia susah percaya sama laki-laki. Jadi aku… entahlah, aku takut jadi orang yang malah bikin dia mundur, bukannya maju.”

 

Alya menatapku serius, senyumnya kali ini lembut, bukan bercanda..

“Justru di situlah ujian kamu, Dim. Kalau kamu memang beneran sayang sama dia, tunjukkan kalau rasa sayang kamu lebih besar dari trauma yang dia punya. Jangan buru-buru, jangan maksa. Pelan-pelan aja. Rasa sayang yang nyata itu biasanya bisa tembusin tembok setebal apa pun.”

 

Raka mengangguk pelan, seakan menguatkan ucapan Alya.

 

“Dia butuh orang yang bisa bikin dia merasa aman, bukan orang yang buru-buru minta balasan. Kalau lo sanggup sabar, mungkin justru itu cara hati dia pelan-pelan sembuh.” Alya melanjutkan

 

Aku terdiam lagi. Kali ini bukan karena ragu, tapi karena ada sedikit cahaya yang menyalakan keyakinan dalam diriku.

 

Hari mulai sore, cahaya jingga menembus sela-sela jendela. Obrolan bersama Alya dan Raka harus berakhir. Mereka pamit pulang, Raka menepuk bahuku sambil memberi semangat agar aku tidak menyerah. Aku hanya tersenyum, meski dalam hati masih penuh tanda tanya.

“bro, jangan cepat menyerah, perang kamu, baru mulai.”

“Mungkin, bisa di kenalkan ke kita, mungkin bisa aku bantu” Alya menimpali.

Senyum yang sedikit aku paksa, menjadi respon ucapan mereka.

Raka dan Alya berlalu meninggalkan aku. 

 

Sesampainya di kamar, aku duduk di kursi meja belajarku. Sunyi menemani, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Kata-kata Alya kembali terngiang, “Fix, kamu jatuh cinta.” Benarkah begitu? Apa memang ini cinta?

 

Bayangan Ibet kembali hadir. Senyumnya, caranya menatap, dan juga kalimatnya di kedai es krim waktu itu—tentang luka, tentang sulitnya percaya pada laki-laki. Aku menghela napas panjang. Ini tidak akan mudah.

 

Aku mencoba merefleksikan rasa ini dari berbagai sudut. Kalau memang aku sayang, apa harus ada status? Apa harus ada label? Pada akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan: biar saja rasa ini mengalir. Aku tak harus memilikinya.

 

Ibet sudah jadi teman yang baik. Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Biar rasa peduli ini benar-benar nyata untuknya, tanpa syarat, tanpa menuntut balasan. Lagi pula, aku sendiri tak sepenuhnya mengerti konsep pacaran. Yang aku tahu hanya satu—aku sayang sama dia. Bentuknya, biarlah seperti apa adanya.

 

Aku bersandar di kursi, menatap langit senja dari jendela. Untuk pertama kalinya, aku merasa lega. Ada damai yang perlahan menyusup di dada, meski jalannya masih panjang dan penuh ketidakpastian.

 

 

 

—-

 

 

Uap tipis mengepul dari secangkir kopi panas, melayang rendah di atas tembok pembatas antara teras dan halaman. Udara pagi yang dingin membawa serta aroma kopi—manis, pekat, dan menenangkan. Burung-burung riuh berloncatan dari dahan ke dahan, seolah menyambut hari sebelum matahari menampakkan diri.

 

Aku bersiap pergi kuliah, tapi sempat menahan langkah untuk menyeruput hangatnya kopi. Aroma ini, entah benar-benar memberiku semangat, atau hanya sekadar menghadirkan wangi yang menenangkan di rongga hidung—seperti aromaterapi yang menunda letih sebelum hari dimulai.

 

Mengingat hari ini ada tugas presentasi, moodku naik turun seperti cuaca yang sulit ditebak.

 

Kuteguk sisa kopi, lalu menatap motor yang terparkir di halaman. Aneh, ada bagian dari diriku yang berharap motor itu tiba-tiba mogok, atau bannya kempes, agar aku punya alasan untuk tidak berangkat. Tapi segera kutepis pikiran itu. Masa cuma gara-gara presentasi aku tega mendoakan kuda besiku celaka? Maafkan aku, tuanmu ini memang sedang manja.

 

 

Aku menarik napas panjang. Hari Jumat—hari yang katanya singkat, tapi tetap harus dimulai sejak pagi buta. Bukan hanya karena ada kuliah, tapi memang sudah kebiasaan. Namun kali ini, berat sekali rasanya melangkah.

 

Tiba-tiba aku teringat Ibet. Entah kenapa, wajahnya melintas begitu saja. Aku tahu dia bisa menyemangatiku, walau hanya lewat kata-kata sederhana. Iseng, kugenggam ponselku, kuketik pesan pendek:

 

"Ibet, tolong semangati aku. Hari ini ada presentasi di kampus."

 

Aku tak berharap balasan cepat, hanya sekadar melepas beban di dada. Tapi belum genap satu menit, notifikasi muncul. Senyuman tak tertahan ketika kubaca pesannya:

 

"Semangat, Dimas! Ayo, kamu pasti bisa. Aku yakin kamu bakal dapat nilai A++++++++++."

 

Kata-katanya sederhana, tapi mampu mengalirkan semangat yang tak bisa kubeli dari secangkir kopi mana pun.

 

 

 

 

Aku duduk di luar kelas, jemariku sibuk membolak-balik halaman makalah yang sudah kuhafal berkali-kali, seolah-olah setiap huruf masih bisa meleset dari ingatanku. Di benakku, aku terus bersimulasi: “Kalau dosen penguji bertanya soal metode, aku harus jawab begini. Kalau soal teori dasar, aku harus putar balik ke halaman empat.” Namun, semakin keras aku mencoba menyiapkan diri, semakin kuat pula rasa mual yang menggelayuti. Tenggorokanku kering, dan ada sensasi ingin muntah yang membuatku harus sesekali menarik napas panjang.

 

Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Teman-temanku yang lain juga sama tegangnya. Ada yang mulutnya komat-kamit membaca kalimat terakhir abstraknya, ada yang sibuk mencoret-coret catatan kecil dengan wajah kusut. Kami semua menunggu giliran seolah berada di ruang tunggu eksekusi.

 

Tiba-tiba pintu kelas berderit, dan temanku yang baru saja keluar presentasi, tersenyum lebar sambil mengibaskan tangan ke arahku. “Dimas!” serunya, lalu jempolnya terangkat tinggi. Itu tanda giliranku.

 

Aku menelan ludah. Kakiku berat, seolah ada beban besi yang menahannya, tapi tetap kupaksa melangkah. Saat aku melewati pintu kelas, perasaan seperti seorang terdakwa yang menuju kursi pengadilan menguasai diriku.

 

Di dalam, ruangan terasa lebih dingin. Dosen pengujiku sudah duduk dengan posisi tubuh tegak, kacamata setengah turun di hidung, tatapannya tajam. Aku meletakkan makalah di meja presentasi, menyalakan proyektor, dan memulai dengan suara sedikit bergetar.

 

“Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan teman-teman sekalian. Nama saya Dimas, hari ini saya akan mempresentasikan makalah dengan judul ‘konflik timur tengah dan …………’”

 

Beberapa menit pertama aku masih canggung, tapi perlahan suaraku menemukan ritmenya. Slide demi slide kubuka, aku menjelaskan latar belakang, teori, lalu metode. Namun, saat memasuki bagian analisis data, dosen penguji tiba-tiba mengangkat tangan.

 

“Saudara Dimas,” suaranya pelan tapi menusuk, “bagaimana jika data yang Anda pakai tidak valid? Apakah kesimpulan Anda masih bisa dipertanggungjawabkan?”

 

Dadaku seperti dihantam. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku menarik napas, mencoba mengingat apa yang sudah kusiapkan di luar kelas. Dengan suara sehalus mungkin, aku menjawab, “Jika data yang digunakan tidak valid, maka analisis tidak bisa dilanjutkan, Pak. Oleh karena itu saya memastikan validitasnya melalui….” Aku menjelaskan panjang lebar, mencoba menahan kegugupan.

 

Beberapa kali pertanyaan lain datang bertubi-tubi: soal metodologi, soal teori pembanding, bahkan soal keterkaitan hasil dengan penelitian sebelumnya. Suasana terasa alot, seperti tarik-menarik antara aku dan pengujiku. Aku sempat merasa tersudut, keringat dingin mengalir di pelipisku, tapi aku terus memaksa diriku untuk tetap berdiri tegak.

 

Hingga akhirnya, dosen itu menyandarkan punggungnya ke kursi, tersenyum tipis sambil mengangguk. “Baik. Cukup. Presentasi Anda… kami merasa cukup.”

 

Aku hampir tidak percaya dengan kata itu. Rasanya seperti seseorang baru saja melepas jerat di leherku.

 

Sesi pun selesai, aku kembali keluar kelas dan dosen memintaku memanggil, temanku selanjutnya. Aku keluar kelas dengan napas lega. Setelah semua presentasi beres, kami keluar kelas satu per satu, wajah-wajah tegang berganti dengan senyum kelegaan.

Lihat selengkapnya