Ibet

Dicky sidiq
Chapter #5

konflik

Bab 5. Konflik

 

 

Minggu pagi akhirnya tiba. Biasanya, aku menikmati waktu ini dengan santai—menyeduh kopi, membuka jendela, dan membiarkan udara segar masuk ke dalam kamar. Tapi pagi ini berbeda. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik dari dalam dada, membuatku tak bisa benar-benar tenang.

 

Aku mencoba menyibukkan diri. Merapikan kamar, menyapu halaman, bahkan membuka buku yang sejak lama tak kusentuh. Tapi semua terasa hambar. Jam terasa bergerak lambat, seolah sengaja menggodaku.

 

Setiap kali menoleh ke arah ponsel, aku mendapati diriku berharap ada pesan baru dari Ibet, memberitahuku jamberapa aku bisa menjemputnya.

Aku menatap langit dari jendela kamar. Biru cerah, tanpa awan. Seakan ikut menertawakan kegelisahanku.

 

“Cepatlah, malam… cepatlah datang,” batinku.

 

Aku memegang cangkir kopi yang sudah dingin, tapi entah kenapa tetap kugenggam erat, seolah ada sesuatu yang harus kupegang agar tidak semakin resah. Kakiku tak bisa diam, berganti posisi dari duduk ke berdiri, lalu kembali lagi. Seakan ada energi yang menolak tenang di dalam tubuhku.

 

Kucoba menyalakan televisi, berharap ada hiburan yang bisa mengalihkan pikiranku. Tapi justru berita pagi yang muncul: potongan gambar kerusuhan di Poso. Asap hitam, rumah terbakar, orang-orang berlarian, dan deretan angka korban yang semakin bertambah.

 

Aku tercekat. Dadaku terasa diremas. Ibet… ia berasal dari sana. Meski kini berada jauh dari kampung halamannya, tetap saja bayangan itu membuatku miris. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarganya yang masih tinggal di sana.

 

Aku mematikan televisi. Diam-diam rasa rinduku bercampur dengan keinginan kuat untuk menemuinya malam nanti—bukan hanya sekadar pertemuan, tapi juga memastikan ia baik-baik saja, mendengar berita ini.

 

Jam di dinding berdetak pelan, begitu kejam menunda waktu yang kutunggu.

 

Waktu terus berjalan, meski terasa lambat. Aku mencoba menahan resah dengan membaca buku yang sudah lama tak kusentuh, tapi mataku hanya sekadar menelusuri huruf tanpa benar-benar memahami artinya. Sesekali aku melirik ponsel, berharap ada sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku.

 

Menjelang sore, layar ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Ibet.

"Dim, bisa datang ke mes jam empat sore, tidak?."

 

Aku terdiam, menatap pesan itu cukup lama. Pukul empat? Tumben sekali. Biasanya ia baru bisa keluar dari pekerjaannya pukul tujuh malam, setelah semua urusan di rumah sakit beres.

 

Sebagian diriku senang—bisa lebih cepat bertemu dengannya, mendengar. Tapi sebagian lagi dihantui pertanyaan besar. Ada apa gerangan? Kenapa tiba-tiba ia ingin bertemu lebih cepat?

 

Tanganku sempat mengetik: “Ada apa, Bet?”

Tapi jawabannya singkat: “Nanti saja, kita ngobrol langsung.”

 

 

 

 

Rasa penasaran kian menggelitik dada. Ibet, apakah kamu baik-baik saja? Aku melirik jam dinding—baru pukul setengah dua. Masih ada dua setengah jam lagi, tapi rasanya seolah satu hari penuh.

 

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Senang dan cemas berbaur jadi satu. Meski janji bertemu masih beberapa jam lagi, aku sudah berada di jalan. Seakan ingin melonggarkan ruang di dada, berharap deru angin dan jalanan bisa meredakan degup tak terkendali ini.

 

Motorku melaju tidak terlalu cepat. Aku biarkan mataku merekam tiap sudut jalan yang kulewati. Sempat terlintas pikiran untuk membawakan camilan, seperti coklat, tapi segera kuingat kata-katanya: jangan ada romantis-romantisan. Niat itu pun kuurungkan, meski senyum tipis tak bisa kutahan membayangkan wajahnya saat berkata begitu.

 

Hampir sampai di mes-nya, kuperlambat laju motor. Sesekali kulirik jam di pergelangan tanganku—masih jam empat kurang. “Haruskah aku menunggu lagi? Seperti waktu itu.” batinku.

 

Di depan gerbang mes nya, kulihat Ibet duduk di teras bersama seorang temannya. Mereka sedang berbincang. Namun ada sesuatu yang membuatku terdiam: matanya sembab, tangannya beberapa kali mengusap pipi, seolah baru saja menangis. Hati kecilku langsung berdesir. Ada apa denganmu, Bet?

 

Saat ia menyadari kehadiranku, Ibet melambaikan tangan. Aku membalas singkat. Ia menyuruhku masuk, lalu memperkenalkan temannya bernama Siska. Kami hanya berbasa-basi kami mengobrol di teras, sebentar, sebelum Siska pamit masuk, meninggalkan kami berdua.

 

Aku menatap Ibet, mencoba mencari jawab dari sorot matanya.

“Bet, kenapa?” tanyaku pelan.

 

Ia menunduk, lalu menegakkan wajah dengan suara serak.

“Dimas… aku rasa, kita harus membatalkan janji kita malam ini.”

 

Aku terkejut. “Kenapa?” suaraku refleks meninggi sedikit.

 

Namun ia diam. Hanya ada genangan air mata yang mulai kembali berkumpul di ujung matanya. Bibirnya bergetar, seperti ingin bicara tapi tak sanggup. Lalu tiba-tiba ia bangkit, mengusap kasar pipinya, dan menatapku dengan senyum yang jelas-jelas dipaksakan.

 

“Dimas…” ucapnya dengan suara yang berusaha dibuat ceria, “kita jalan-jalan yuk.” Tangannya meraih pergelangan tanganku erat, hangat tapi juga gemetar.

 

Aku masih terpaku, belum habis pikir dengan ucapannya barusan. Tapi genggamannya terlalu kuat, seakan takut aku menolak. Jadi aku memilih mengikutinya, mengikuti langkahnya yang perlahan.

 

Lihat selengkapnya