Ibet

Dicky sidiq
Chapter #6

Senang Bertemu Denganmu.

Bab 6. Senang Bertemu Denganmu.

 

 

Malam tadi aku tidak benar-benar tidur. Mata terpejam, tapi pikiranku berjalan liar ke mana-mana. Bayangan wajah Ibet, suara lirihnya saat meminta aku menunggunya, terus mengisi kepalaku. Rasanya dadaku sesak, seperti ada batu besar yang menindih.

 

Aku merasa sudah sejauh ini berjuang untuk mendapatkan hatinya. Semua yang kulakukan belakangan ini hanya untuk satu hal: memastikan ia tahu kalau ada seseorang yang betul-betul peduli padanya, meski tanpa status, meski tanpa kepastian.

 

Tapi kemudian pikiranku kembali pada satu hal yang pernah ia ucapkan—tentang trust issue dengan laki-laki. Kata-kata itu seperti duri kecil yang menancap dan tidak bisa ku cabut. Aku ingin tahu, ingin menanyakan langsung, apa sebenarnya yang membuatnya begitu rapuh. Namun di sisi lain, aku takut… takut memperdalam lukanya, takut kalau pertanyaan itu justru membuatnya berubah. Takut kalau ia merasa aku mendesak.

 

Aku duduk di tepi ranjang, memandangi layar ponsel yang kosong. Jari-jariku berulang kali mengetik pesan lalu menghapusnya lagi. Antara ingin bertanya dan hanya ingin menuliskan tiga kata sederhana: aku sayang kamu.

 

Sampai akhirnya aku menarik napas panjang. Aku sadar, kalau aku benar-benar mencintainya, seharusnya aku bisa menerima semua bagian dirinya—bahkan luka yang mungkin belum ia ceritakan padaku. Apa pun trust issue itu, aku tidak peduli. Yang aku peduli hanyalah dia, keberadaannya, suaranya, dan janji bahwa suatu saat nanti ia akan kembali pulang.

 

Aku hanya berharap, semesta benar-benar mengizinkan Ibet menepati ucapannya semalam—“Aku akan pulang.”

 

Notifikasi pesan di ponselku berbunyi. Aku segera meraihnya, dan nama Ibet tertera di layar.

“Aku pergi sekarang, Dims. Doakan aku ya.” ia berpamitan

 

Aku terdiam, tidak langsung membalas. Rasa sesak memenuhi dadaku, lalu tanpa sadar aku berteriak sendiri di kamar.

 

“Bet, aku tidak peduli!”

 

Dengan tangan bergetar, aku membalas pesannya:

“Bet, aku doakan cepat pulang ke Bandung dengan selamat. Dan saat kamu pulang, aku akan menagih janji kita ke restoran Meksiko itu. Aku akan membawa bunga, cokelat, boneka dan aku akan menyatakan perasaanku.”

 

Kali ini aku tidak peduli lagi bagaimana perasaanmu menanggapi. Sudah saatnya kamu tahu isi hatiku.

 

Tak berapa lama, ponselku kembali bergetar. Balasan darinya singkat, tapi cukup untuk membuat dadaku bergetar hebat.

 

“Aku tunggu ucapan mu itu.”

 

Aku menatap layar itu lama, seakan kata-kata sederhana itu menyalakan api kecil di tengah dingin yang membekukan hatiku. Ada rasa lega—akhirnya aku jujur, akhirnya ia tahu. Tapi ada juga ketakutan, apakah aku bisa benar-benar memenuhi kalimat yang baru saja kuketik?

 

Tanganku masih gemetar saat kuletakkan ponsel di meja. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tubuhku lunglai, tapi di balik rasa lelah itu ada sedikit cahaya yang mulai tumbuh. Cahaya yang membuatku ingin terus berjuang, meski aku tahu jalan ini panjang dan penuh ragu.

 

Di kepalaku hanya ada satu kalimat yang terus bergema: “Aku tunggu ucapan mu itu.”

Dan pagi itu, aku bersumpah pada diriku sendiri—aku tidak akan lari dari ucapan itu.

 

 

 

 

Dua Hari Setelah Perpisahan

 

Sudah dua hari sejak pesan terakhir itu. Dua hari tanpa kabar, dua hari pesanku tak kunjung terkirim.

Setiap kali kuperiksa ponsel, layar tetap sepi. Tidak ada notifikasi, tidak ada tanda bahwa ia membaca pesanku. Telepon hanya nada sambung, tanpa ada yang mengangkat di ujung sana. Hanya hening yang menggantung, semakin menyesakkan.

 

Aku berbaring di kasur, mencoba memejamkan mata. Tidak berhasil. Aku bangun, duduk di kursi, menatap kosong ke dinding. Lalu aku berpindah ke lantai, bersila, menundukkan kepala, berharap rasa cemas ini reda. Tapi yang ada justru hatiku makin berdegup keras, seperti diperas tanpa ampun.

 

Aku merasa seluruh perasaanku diaduk-aduk. Antara rindu, khawatir, takut, dan marah pada diriku sendiri. Apakah dia baik-baik saja ? Apakah dia tidak kekurangan apapun? Kenapa ia tidak membalas pesanku?

 

Aku menunduk, menarik napas panjang. “Bet… kamu di mana? Kenapa diam begini?” bisikku pada ruang kosong.

 

Hening itu tak lagi bisa kutahan. Aku tahu, kalau terus berdiam, aku akan semakin gila oleh pikiranku sendiri. Maka, tanpa rencana jelas, aku meraih kunci motor di meja, lalu keluar rumah. Angin sore menyambutku, dingin menusuk tapi entah kenapa aku butuh itu.

 

Aku berkendara tanpa tujuan pasti, hanya berharap jalanan yang kulewati bisa meredakan perasaan ini. Gas kupelintir, motor melaju, dan untuk sesaat, suara mesin serta hembusan angin mengalihkan rasa sesak di dadaku.

 

Namun jauh di dalam, aku tahu: sekeras apa pun aku mencoba lari, bayangan wajahnya tetap menempel erat di benakku.

 

Aku pergi ke mana pun motor ini membawaku. Yang kucari hanya satu: jawaban tentang keberadaannya.

 

 

Rumah sakit tempatnya bekerja berdiri megah di depanku, kokoh namun terasa asing. Aku berhenti, menatap bangunan itu dengan tatapan hampa. Tapi ke mana aku harus mencari tahu? Tidak mungkin aku begitu saja bertanya pada resepsionis atau bagian informasi, seolah mencari pasien.

 

Aku mengarahkan motor ke belakang, ke mes tempat Ibet tinggal. Bangunan itu hening seperti biasa, tapi kali ini sepinya berbeda—bukan sekadar sunyi, melainkan kosong tidak seperti kemarin. Aku berdiri di depan gerbang, ragu. Haruskah aku masuk? Tapi bagaimana jika semua penghuninya sudah dikirim ke Poso?

 

Amarah menyesak dalam diriku. Aku menendang pohon di pinggir jalan, melampiaskan sedikit dari kegelisahan yang tak tertahankan. Aku marah—marah karena tak ada jawaban, marah karena ketidakpastian ini menelanku bulat-bulat. Aku akhirnya duduk di atas motor, menunduk. Tak peduli berapa lama aku di situ, aku hanya ingin sendirian bersama pikiranku sendiri yang kacau.

Lihat selengkapnya