Ibu Angkat VS Ibu Injak

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Kehangatan Sebuah Keluarga

Mentari pagi baru saja mengintip dari balik pepohonan ketika aroma nasi goreng dan telur dadar memenuhi rumah sederhana bercat krem di sudut kota. Rumah itu tidak besar. Dindingnya mulai kusam dimakan usia, beberapa sudut atap bahkan pernah bocor saat musim hujan. Namun, rumah itu selalu terasa hangat karena dipenuhi tawa dan kasih sayang.

Di dapur, seorang wanita berusia empat puluh lima tahun tampak sibuk mengaduk nasi goreng di atas wajan. Wajahnya sederhana, kulitnya sedikit menggelap karena terbiasa bekerja, tetapi senyumnya selalu menenangkan. Dialah Rina, perempuan yang selama delapan belas tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk seorang anak yang bukan lahir dari rahimnya.

"Nadia... bangun, Nak. Nanti kamu terlambat," panggilnya lembut.

Tak lama kemudian terdengar suara menguap dari kamar.

"Lima menit lagi, Bu..."

Rina menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau lima menit lagi, nanti sarapannya dingin."

Beberapa saat kemudian seorang gadis berambut hitam panjang keluar dari kamar sambil mengucek mata. Mengenakan kaus longgar dan celana olahraga, wajah cantiknya masih dipenuhi kantuk.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi, Sayang."

Tanpa diminta, Nadia memeluk Rina dari belakang. Pelukan singkat itu sudah menjadi kebiasaan mereka setiap pagi.

"Harum banget. Ibu masak nasi goreng lagi?"

"Iya. Katanya kemarin ada yang bilang kangen masakan ibu."

Nadia terkekeh.

"Aku memang nggak pernah bohong soal itu."

Rina mencubit pelan pipi gadis itu.

"Cepat cuci muka."

"Iya, Bu."

Melihat Nadia berjalan menuju kamar mandi, senyum Rina tak pernah lepas. Setiap pagi selalu terasa seperti hadiah yang Tuhan berikan kepadanya. Melihat Nadia sehat, tertawa, dan tumbuh menjadi gadis baik adalah kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.

Meja makan mereka hanya berukuran kecil untuk empat orang. Cat kayunya mulai memudar, tetapi selalu bersih. Di atasnya tersaji nasi goreng, telur dadar, kerupuk, dan segelas teh hangat.

"Bu, nanti pulang kuliah aku mampir minimarket dulu ya. Sekalian beli sabun."

"Jangan lupa beli gula juga. Di rumah tinggal sedikit."

Lihat selengkapnya