Ibu Angkat VS Ibu Injak

Vitri Dwi Mantik
Chapter #2

Luka yang Belum Sembuh

Hujan turun sejak dini hari.

Butiran air memukul genting rumah dengan irama pelan, seolah sedang menyanyikan lagu lama yang penuh kenangan. Dari balik jendela, Rina memandangi langit yang kelabu sambil menggenggam secangkir teh hangat. Entah mengapa, setiap kali hujan turun, ada luka lama yang kembali mengetuk ingatannya.

Hari itu... delapan belas tahun yang lalu... hujan juga turun seperti ini.

Rina mengembuskan napas panjang.

"Sudah delapan belas tahun..." gumamnya lirih.

Di ruang tamu, Nadia sedang merapikan tas kuliahnya. Melihat ibunya termenung, ia menghampiri sambil membawa dua potong pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.

"Ibu melamun lagi?"

Rina tersenyum tipis.

"Nggak. Cuma ingat sesuatu."

"Ingat Ayah sama Ibu kandungku?"

Pertanyaan itu membuat Rina terdiam beberapa detik.

"Iya..."

Nadia duduk di sampingnya. Ia sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa setiap tahun, di tanggal yang sama, Rina selalu berubah lebih pendiam.

Tanggal itu adalah hari ketika kedua orang tua kandung Nadia meninggal dunia.

Delapan belas tahun silam...

Malam itu hujan turun sangat deras. Jalanan licin dan jarak pandang terbatas. Mobil yang ditumpangi pasangan muda, Ardi dan Siska, melaju pulang setelah menghadiri acara keluarga.

Di kursi belakang, bayi Nadia yang baru berusia beberapa bulan tertidur lelap di dalam car seat.

Tak ada yang menyangka, sebuah truk bermuatan berat kehilangan kendali saat melintasi tikungan tajam.

Suara rem berdecit memecah malam.

Brak!

Benturan keras mengguncang jalan raya.

Mobil keluarga kecil itu ringsek seketika.

Ardi dan Siska meninggal di tempat.

Sementara Nadia selamat karena sabuk pengaman bayi yang terpasang dengan benar melindunginya dari benturan paling keras.

Berita kecelakaan itu mengguncang seluruh keluarga.

Saat Rina tiba di rumah sakit, ia melihat seorang bayi mungil menangis tanpa henti di ruang perawatan.

Tubuh kecil itu dipenuhi goresan ringan, tetapi matanya terus mencari sesuatu yang tak akan pernah kembali.

"Ayah... Ibu..." bisik Rina saat menggendong bayi itu.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Sejak saat itulah hidupnya berubah.

Rina bukan saudara kandung keluarga Ardi.

Lihat selengkapnya