Ibu Angkat VS Ibu Injak

Vitri Dwi Mantik
Chapter #3

Tamu Tak Diundang

Pagi itu terasa seperti pagi-pagi biasanya.

Suara mesin jahit berdengung pelan dari ruang depan rumah. Rina tengah menyelesaikan pesanan seragam sekolah milik tetangganya. Sesekali ia mengusap pinggangnya yang mulai pegal, lalu kembali menginjak pedal mesin dengan telaten.

Di ruang tengah, Nadia sibuk menyapu lantai sambil bersenandung kecil.

"Bu, nanti sore aku pulang agak telat ya," katanya.

Rina mengangkat wajah.

"Ada tugas kelompok?"

Nadia mengangguk.

"Iya. Paling habis Magrib."

"Jangan lupa kabari ibu."

"Pasti."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah.

Keduanya saling berpandangan.

"Kayaknya ada tamu," ujar Nadia.

"Apa Bu Sari datang ambil baju?"

Rina melepas kacamatanya lalu berdiri.

Namun, saat membuka pintu, ia mendapati sebuah mobil sedan hitam yang tampak mewah terparkir di depan rumahnya. Seorang wanita muda turun dari kursi belakang. Penampilannya begitu rapi. Ia mengenakan blus putih dipadukan rok pensil hitam, sepatu hak tinggi, serta tas bermerek yang tampak mahal.

Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya terasa dingin.

Wanita itu tersenyum tipis.

"Selamat pagi."

Rina membalas dengan sopan.

"Selamat pagi. Maaf, mencari siapa?"

"Saya mencari Nadia."

Rina sedikit mengernyit.

"Anda siapa?"

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan rumah sederhana itu dari ujung ke ujung, seolah sedang menilai tempat yang telah dihuni Nadia selama bertahun-tahun.

Tak lama, Nadia keluar dari dalam rumah.

"Bu, siapa?"

Tatapan wanita itu langsung beralih kepada Nadia. Ada senyum aneh yang muncul di bibirnya.

"Jadi... kamu Nadia."

Nadia mengangguk pelan.

"Iya. Maaf, kita pernah bertemu?"

Wanita itu menggeleng.

"Belum."

Suasana mendadak hening.

Rina mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Maaf, sebenarnya Anda siapa?" tanyanya sekali lagi.

Wanita itu menarik napas panjang.

"Perkenalkan."

Ia mengulurkan tangan kepada Nadia.

"Nama saya Maya."

Nadia menyambut uluran tangan itu dengan ragu.

"Lalu...?"

Maya menatap Nadia lekat-lekat.

Lihat selengkapnya