Rumah kecil itu masih diselimuti keheningan setelah mobil hitam yang membawa Maya menghilang di ujung jalan.
Tak ada lagi suara mesin jahit.
Tak ada lagi obrolan ringan di antara ibu dan anak.
Yang terdengar hanya detak jarum jam yang seakan berdetak lebih keras dari biasanya.
Nadia masih berdiri di depan pintu dengan pandangan kosong. Tangannya gemetar mengingat lembaran dokumen yang baru saja diperlihatkan Maya.
Rina menutup pintu perlahan.
"Masuk dulu, Nak."
Nadia mengangguk lemah.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Secangkir teh yang tadi masih mengepulkan uap kini telah dingin, tak tersentuh.
Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
Rina membukanya.
Di depan rumah berdiri Bu Sari dan Pak Darto, dua tetangga yang sejak tadi melihat keributan dari kejauhan.
"Bu Rina... maaf ya. Kami cuma khawatir."
"Tadi siapa wanita itu?"
Rina memaksakan senyum.
"Hanya salah paham."
Namun Bu Sari menggeleng.
"Kami dengar dia bilang dia istri almarhum Pak Ardi."
Kalimat itu membuat Nadia kembali menundukkan kepala.
Pak Darto ikut menimpali.
"Kalau memang perlu bantuan, jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak."
Setelah memastikan keadaan mulai tenang, kedua tetangga itu pun pamit.
Rumah kembali sunyi.
Rina membuka laci meja.
Di dalamnya tersimpan sebuah album foto yang mulai menguning dimakan usia.
Ia mengeluarkan beberapa foto lama.
Salah satunya memperlihatkan Ardi dan Siska sedang menggendong Nadia yang masih bayi.
Nadia mengambil foto itu.
Tatapannya berhenti pada wajah ayahnya.
"Ayah..."
Ia nyaris tak mengingat wajah lelaki itu.
Semua kenangan tentang ayah dan ibunya hanya berasal dari cerita Rina serta foto-foto lama yang disimpan dengan rapi.
"Ibu..."
Rina menoleh.
"Selama ini... Ayah seperti apa?"
Rina menarik napas panjang.
"Beliau orang baik."
"Tapi... apakah mungkin..."
Nadia ragu melanjutkan kalimatnya.
"Mungkin apa?"
"Mungkin Ayah menikah lagi tanpa kita tahu?"