Ibu, Cahaya dari Surga

Bisma Lucky Narendra
Chapter #2

Awal Mula

***

Suara earphone di telingaku terhubung dengan chanel Radio, Sebuah stasiun radio swasta terkenal di Surabaya, tempat aku bekerja sebagai broadcaster alias penyiar.

Semenjak Bus keluar dari terminal Purbaya lima broas menit tadi, Ega, teman sejawatku menjadi teman dalam perjalananku menuju kampung halamanku, Jogjakarta.

Suara Si Fadly, Sang vokalis PADI masih memenuhi genderang telingaku.

Tanpa sadar ekor mataku menangkap sosok gadis yang duduk di bangku persis tepat di belakangku.

Gadis itu terlihat macan alias manis dan cantik, kaca mata putih transparan bertengger di hidungnya yang bangir, dan rambutnya yang panjang di kuncir kuda, seakan sengaja memperlihatkan lehernya yang jenjang.Tubuhnya yang ramping terbungkus sweater warna hijau lumut.

Ia juga kelihatan sedang menikmati musik dari earphone yang terpasang di telinganya.Kepalanya bergoyang pelan, mulutnya bergerak-gerak, mungkin sedang ikut bernyanyi. Cewek itu sungguh tidak menyadari aku yang sedari tadi sedang memperhatikannya.

Aku sekonyong-konyong dengan pikiran melayang pada sebuah tempat, sebuah moment di dalam sebuah lift yang tiba-tiba macet. Sesaat aku mengalami sebuah de javu dengan gadis di dalam bus ini, yang saat ini aku amati terus menerus.

Ingatanku mengalir melipat waktu pada sebuah peristiwa demi mengenangnya.

Kejadiannya terjadi sepekan yang lalu. Pada suatu saat aku terjebak dengan seorang gadis, berdua, di dalam sebuah lift yang tiba-tiba macet.Karena panic, ketika tiba-tiba lift membuka sebentar dalam per-sekian detik saja, dengan gesit, gadis yang semula duduk bersandar di dinding dengan wajah ketakutan, di hadapanku, berdiri dan keluar dengan cepat dari ruangan lift. Dan selamat, Ia bisa keluar dengan sukses.

Sementara aku terlambat keluar dan terjebak di lift yang macet kembali. Aku terjebak di dalamnya hampir setengah jam sebelum akhirnya tehnisi berhasil memperbaiki.

Aku mendapati diri tersenyum, mengenang kejadian itu. Untung aku duduk sendirian, kalau di sebelahku ada orang, pasti ia bakal berpikir aku tidak waras, senyum-senyum sendiri.

Sayang, waktu itu aku belum sempat berkenalan dengan gadis itu. Mungkinkah gadis itu adalah gadis yang dulu terjebak dalam lift bersamaku waktu itu?

Dengan mendalam kembali aku memandang diam-diam ke arah wajah manis gadis di belakangku, yang semakin membuatku didera oleh rasa penasaraan.

Melalui bantuan sorot lampu neon dalam ruangan bus yang sedikit redup, akhirnya aku bisa memastikan, dia adalah gadis yang sama, gadis yang bersama diriku terjebak dalam lift macet dua hari yang lalu.

Entah kenapa hatiku mulai menikmati kehadiran gadis itu dalam bus ini. Parahnya setiap kali aku coba mencuri pandang ke arahnya, hatiku berdesir, berdegup tak karuan.Aku serasa dilanda tsunami batin secara tiba-tiba. Tapi nikmat terasa di antara gelegak-gelegak hatiku yang tergetar lembut bila aku mencuri pandang ke wajahnya.

Apa artinya desir dan degup hatiku ini? Perasaan malu, takut ketahuan, karena aku menikmati wajahnya yang manis dengan diam-diam atau-kah perasaan yang lainnya. Aku tidak tahu pasti.

Otakku, tanpa aku komando lagi tiba-tiba tergerak mencari jalan bagaimana caranya aku dapat berkenalan dengan gadis itu.

Lihat selengkapnya