Azelia membanting tas bermereknya ke atas sofa beludru di ruang tengah rumahnya yang megah. Wajah cantiknya ditekuk, matanya sembab karena tangisan yang sengaja ia buat-buat sepanjang jalan pulang. Begitu melihat sosok ayahnya, Bimo, yang sedang membaca dokumen bisnis, Azelia langsung berlari dan bergelayut manja di lengan pria itu.
"Mommy! Daddy! Pokoknya aku nggak mau tahu!" rengek Azelia sambil terisak pelan, mencari simpati.
Ibunya yang sedang menyesap teh hijaunya langsung menghampiri. "Ada apa sayang? Kok pulang sekolah malah nangis begini?"
"Tadi di sekolah Rafael cuekin aku lagi, Mom! Dia bahkan nolak aku di depan umum, seolah-olah aku ini nggak punya harga diri!" Azelia mulai mengeluarkan senjata andalannya. "Daddy, gimana pun caranya, Daddy harus bicara sama orang tua Rafael. Aku mau pertunangan kami dipercepat. Pokoknya sebelum lulus SMA, aku harus sudah jadi tunangan sah Rafael Dirgantara!"
Bimo menghela napas, ia sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Baginya, keinginan Azelia adalah perintah. "Tenang saja sayang, Daddy akan usahakan. Rafael itu investasi terbaik buat keluarga kita, dan Daddy nggak akan biarkan dia lepas."
Mendengar itu, Azelia langsung tersenyum penuh kemenangan. Isak tangisnya hilang seketika, berganti dengan pelukan hangat untuk sang ayah.
Tak butuh waktu lama bagi Bimo, Ia meraih ponselnya dan langsung menghubungi William Dirgantara, ayah Rafael.
Di kediaman keluarga Dirgantara yang tak kalah mewah, William sedang berada di ruang kerjanya saat ponselnya berdering.
"Halo, Pak Bimo. Ada apa?" tanya William dengan nada formal namun akrab.
"Begini Pak William, saya langsung saja. Saya rasa, kita perlu mempercepat rencana pertunangan Rafael dan Azelia. Kalau bisa sebelum mereka lulus dan masuk universitas. Anak-anak zaman sekarang pergaulannya luas, saya takut nanti mereka malah jatuh ke tangan orang lain yang tidak selevel dengan kita," ucap Bimo di seberang telepon.
William terdiam sejenak, dahinya berkerut. "Tapi Pak Bimo, apa ini tidak terlalu cepat? Mereka masih kelas tiga SMA, ujian kelulusan saja belum beberapa bulan lagi."
"Ah, tidak apa-apa Pak William. Ini kan hanya tunangan saja, sebagai pengikat biar kita semua tenang. Bagaimana?"
William mengusap wajahnya perlahan. Sebagai pebisnis, ia paham keuntungan aliansi ini, tapi sebagai ayah, ia tahu tabiat putranya. "Saya tidak bisa langsung mengambil keputusan ini, Pak Bimo. Saya harus bicarakan dulu dengan istri saya, dan tentu saja dengan Rafael. Saya akan kabari lagi secepatnya."
"Baik, Pak William. Saya tunggu kabar baiknya."
Di rumahnya, Azelia yang mendengarkan pembicaraan itu lewat loudspeaker tertawa bahagia. Dalam bayangannya, ia sudah melihat dirinya berdiri anggun di samping Rafael dalam pesta pertunangan paling mewah ini.