Ibu Guru I Love You

Lucyanna
Chapter #3

Ibu Rania Pingsan


​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar ruang makan keluarga Dirgantara tidak mampu mencairkan suasana beku di meja makan itu. Aroma kopi hitam dan roti panggang yang biasanya menggoda, kali ini terasa hambar bagi Rafael.

​"Selamat pagi Papa, Mama," sapa Rafael datar sambil menarik kursi.

​"Selamat pagi, Fael sayang. Ayo duduk sini, sarapan dulu nak," sahut Iris dengan senyum lembutnya, mencoba mencairkan ketegangan yang ia tahu pasti akan meledak.

​William Dirgantara meletakkan cangkir kopinya, matanya menatap tajam putra tunggalnya. "Rafael, Papa ingatkan sekali lagi tentang pertunangan kamu dengan Azelia. Tidak ada tapi-tapian, apalagi penolakan. Ini sudah keputusan final."

​Rafael yang baru saja hendak menyuap potongan roti, langsung meletakkan rotinya kembali. Nafsu makannya hilang seketika. Ia berdiri dengan gerakan kasar, membuat kursi jati itu berdecit di atas lantai marmer.

​"Ma, Fael berangkat dulu," ucapnya singkat sambil menyalami tangan ibunya, mengabaikan tangan ayahnya yang masih menggantung di udara. "Fael sudah tidak selera sarapan. Masih pagi Papa sudah bahas masalah pertunangan yang sama sekali nggak penting buat Fael."

​Dengan langkah lebar dan raut wajah mendongkol, Rafael menuju parkiran. Ia menyalakan mesin mobil sport merahnya yang mewah. Suara deru mesin itu seolah mewakili amarah yang bergejolak di dadanya. Ia menginjak gas dalam-dalam, membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam waktu 30 menit, mobil mewah itu sudah terparkir di area khusus Alexander Heritage School.

​Baru saja Rafael keluar dari mobil, sosok yang paling ia hindari sudah berdiri di sana dengan senyum centilnya. Azelia langsung menghambur, bergelayut manja di lengan Rafael.

​"Sayang, apa Papa William sudah bicara sama kamu soal pertunangan kita?" tanyanya dengan nada suara yang dibuat-buat manis dan centil.

​Dengan gerakan kasar, Rafael melepaskan tangan Azelia. Tatapannya menatap gadis itu dengan jijik. "Azelia, jadi perempuan itu tolong punya harga diri sedikit. Dan ingat baik-baik, sampai kapan pun pertunangan itu tidak akan pernah terjadi."

​Azelia tersentak. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai jjwajahnya merah padam menahan kesal. "Kamu boleh bicara begitu sekarang, Sayang! Tapi lihat saja nanti, aku pasti akan jadi pemenangnya!" teriaknya saat melihat Rafael sudah berjalan menjauh.

​Rafael terus melangkah cepat menuju kelas, mencoba membuang sisa-sisa kekesalannya. Namun karena pikirannya yang kacau, ia tidak memperhatikan persimpangan koridor.

BRUK!

​Ia menabrak seseorang hingga tumpukan buku yang dibawa orang itu berserakan di lantai. Rafael mendongak, matanya bertemu dengan tatapan teduh milik Rania Azzahra.

​"Maaf," ucap Rafael singkat dengan nada kaku dan wajah cueknya yang khas.

​Rania sedikit meringis sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Ia tersenyum tipis, kelemahlembutan terpancar jelas dari wajahnya. "Iya, tidak apa-apa, Rafael."

​Rafael tidak membantu memungut buku-buku itu. Ia hanya berlalu begitu saja menuju kelasnya di sudut belakang. Di sana, tiga sahabatnya—Ken, Randy, dan Devan—sudah menunggunya dengan wajah penuh selidik.

​"Kenapa tuh muka ditekuk begitu? Kayak habis nabrak mak lampir di siang bolong," sahut Ken, si playboy kelas teri, sambil tertawa kecil.

Lihat selengkapnya