Suara adzan Subuh yang berkumandang sayup-sayup dari kejauhan perlahan menembus kesadaran Rafael. Ia mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu pijar yang remang di dalam kamar yang sederhana. Saat nyawanya belum terkumpul seratus persen, Rafael terpaku melihat sosok Emran yang sedang berdiri tegak dalam sholatnya di sudut ruangan.
Di mana aku? batin Rafael bingung.
Kepalanya berdenyut nyeri. Ia mencoba mengingat kejadian semalam. Ingatan tentang klub malam, botol-botol minuman, dan rasa kecewa pada ayahnya kembali berputar. Ia ingat dirinya tidak mau pulang ke rumah mewahnya yang terasa seperti penjara, lalu entah mengapa, tujuannya berakhir di rumah sederhana milik Ibu Rania.
"Bro, sudah bangun?" sapa Emran dengan suara rendah setelah menyelesaikan sholatnya. Rafael hanya bisa memberikan senyuman tipis yang canggung. "Iya, sudah."
"Mumpung masih Subuh, ambil air wudhu sana, terus sholat," ajak Emran santai sambil merapikan sajadahnya.
Rafael menunduk, menatap jari-jarinya sendiri dengan perasaan malu. "Maaf, Emran... aku sudah lupa bagaimana caranya sholat."
Emran sempat terdiam sejenak, tampak kaget mendengar pengakuan jujur dari cowok yang terlihat memiliki segalanya itu. Namun, ia segera tersenyum maklum. Ia sadar bahwa di balik harta yang melimpah, terkadang hal spiritual seperti ini terlupakan.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti lain kali aku ajari kamu cara sholat lagi, pelan-pelan," ucap Emran tulus. "Ini masih terlalu pagi, kalau kamu mau lanjut tidur lagi tidak apa-apa. Aku mau ke dapur dulu mau bantuin Ibu."
"Aku ikut, Emran," sahut Rafael cepat. Ia tidak mau sendirian di kamar ini dan terus memikirkan masalahnya.
Keduanya melangkah menuju dapur yang mungil. Di sana, suasana hangat menyambut mereka. Aroma bumbu masakan dan ragi roti memenuhi udara. Ibu Rania tampak sedang sibuk di depan kompor, sementara Rania Azzahra sedang berkutat dengan adonan roti di atas meja kayu. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak segar meskipun tanpa riasan.
"Nak Rafael sudah bangun? Mau minum apa? Ibu buatkan teh hangat ya?" tanya ibu Rania dengan nada yang sangat ramah.
"Tidak usah, Bu. Terima kasih banyak. Saya mau cuci muka dulu, setelah itu langsung pamit pulang," jawab Rafael sesopan mungkin. Matanya sempat melirik ke arah Rania, namun gurunya itu seolah-olah tidak menyadari kehadirannya. Rania tetap fokus pada adonannya.
"Nak, nanti saja pulangnya. Kamu sarapan dulu sama-sama kami di sini," ajak ibu Rania lagi, tidak mau membiarkan tamunya pulang dengan perut kosong.
"Iya, tidak usah sungkan. Nasi goreng buatan Ibu enak, lho," timpal Emran sambil mencuci piring.
Rafael merasa hatinya sangat tersentuh, namun di saat yang sama ia merasa sangat malu. Ia merasa sudah terlalu lama menumpang dan merepotkan keluarga ini, apalagi ia datang dalam kondisi memalukan semalam. Setelah selesai membasuh wajahnya di kamar mandi, Rafael kembali ke dapur untuk berpamitan secara resmi.