Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #1

RASA BERSALAH

Malam menyergap bersama angin yang menderu hebat. Pohon-pohon, kicau burung, suara jangkrik, sampai genteng yang reok ikut ribut. Perempuan bertubuh kurus itu sampai harus memeluk semata wayangnya erat-erat, memastikan dingin malam tidak menyerang tubuh kecil itu. Ia sudah memakaikannya selimut beberapa lapis, tapi pekik tangis tak juga dapat dibendung. Ia memberinya susu, sama saja.

Tok! Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu. Semula pelan, lama-lama ketukan pintu menjadi amat keras hampir-hampir mengalahkan erangan anak kecil yang masih dalam dekapan ibunya. Perempuan itu terpaksa meletakkan bayinya ke kasur, membiarkannya menangis lebih kencang lagi. Ia berlari ke arah dinding kayu, memeriksa lewat celah-celah papan. Dari remang lampu teras, berdiri seorang pria tambun dengan jaket kulit dan celana jin.

Arman. Tentu saja perempuan itu mengenalnya. Namun, Arman tampaknya tidak cukup sabar menunggu. Ia kembali mengetuk pintu dan kini lebih keras daripada sebelumnya. Ia juga mulai berteriak hingga suaranya beradu dengan angin yang ribut serta langit yang mulai mengguntur. “Kenapa lama sekali kau buka pintunya, Juleha?”

 Juleha tergopoh-gopoh memutar ujung kunci. Dengan tangan gemetaran, ia menarik gagang pelan-pelan. Pintu terbuka, Arman langsung membekuk wajah Juleha dengan kasar. Ia mendorong tubuh kurus Juleha ke dinding. Rumah bergetar. Hewan buas tampak telah menemukan mangsa dan siap mencabik-cabik seluruh tubuhnya. Seperti pria itu, darah mendidih. Angin membawa dingin yang menusuk tak menyurutkan niatnya. Arman menahan bahu Juleha kuat, tak memberi ruang untuk mundur. Jarak di antara mereka lenyap begitu saja.

Juleha mencoba mendorong, tapi sia-sia. Tenaganya terlalu lemah. Arman pun terus memaksa memagut bibir perempuan yang pucat itu.

“Jangan sekarang, Mas!”

Juleha masih mencoba menolak. Ia pikir ini bukan waktu yang tepat. Kondisi tubuhnya meringkih setelah beberapa jam berusaha menghentikan tangis bayinya. Bahkan setelah berkali-kali mencoba, bayi itu tetap saja menangis.

“Aku tidak peduli. Yang kuinginkan saat ini adalah kau, Juleha.” Arman tetap keras kepala. Birahi dalam dirinya sudah di atas puncak. Ia bahkan mengangkat daster Juleha membuat Juleha terpaksa menghentikannya dengan pukulan tangan. Seketika Arman melepaskan tubuh Juleha. Namun, wajahnya menggeram marah. Otot-otot lengannya menonjol. Ia bersiap-siap mengangkat tangan hendak melepaskan tamparan yang keras.

“Aku mohon, Mas.” Perempuan itu mengeluh. Air matanya terjatuh tepat saat langit runtuh dengan hujannya. “Ini untuk kebaikan kita berdua. Kalau bayi itu terus menangis dan tetangga mulai terganggu, mereka pasti akan datang. Untung-untung mereka tidak menganggap aku ingin membunuh anakku sendiri.”

Juleha memutar badan. Ia hendak menghampiri bayinya yang benar-benar tidak bosan menangis. Namun, Arman tetap mencegat Juleha. Ia barangkali belum sepenuhnya tabah melepaskan mangsa. Arman menarik lengan Juleha.

“Mas, kasih aku waktu. Aku pasti akan melayanimu setelah anak itu tidur,” mohon Juleha sekali lagi. Ia membuang bahu putus asa.

“Baiklah. Aku akan menunggu.”

Arman melepaskan jaket kulitnya, menggantungnya ke paku yang menancap di dinding. Ia menuju dapur, mencari sebungkus kopi bubuk. Hujan malam seperti ini memang paling cocok sambil menandas segelas kopi. Sementara Juleha kembali pada bayinya. Juleha sudah jengah pada tangisan bayi itu, tetapi ia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Lihat selengkapnya