Ibu melarang ke sungai sendirian.
Pesan itu yang ibu ulang-ulang padaku. Sampai pekak aku dengarnya. Ibu selalu mengatakan itu padaku, tetapi Ibu tidak pernah memberitahuku kenapa aku tidak bisa pergi ke sungai sendirian. Barangkali Ibu pikir aku akan tenggelam, padahal aku sangat pintar berenang. Barangkali Ibu pikir aku akan diculik, amboi, siapa orang jahat yang ingin menculik anak kecil di sungai.
*
Orang-orang mengenalku sebagai Bandi. Beberapa orang lainnya menyebutku Bandit. Itu karena aku pernah sekali tertangkap basah mencuri wafer di warung Bu Sri.
Aku kadung lapar. Ibu berangkat kerja sebelum memasakkan sesuatu untukku. Nenek juga belum datang membawakan makanan. Beruntung, aku menemukan uang lima ribu di lemari. Saat ke sekolah berjalan kaki, aku menyempatkan singgah di warung Bu Sri. Tidak ada orang. Aku berteriak, tidak ada yang keluar. Mataku seketika menangkap wafer harga dua ribu di atas etalase. Wafer cokelat mengguncang perut. Aku menerawang sisi kiri dan kanan. Setelah memastikan situasi berjalan aman, wafer itu sudah berpindah ke dalam tas. Aku segera mengambil langkah seribu. Satu hal yang luput dari pikiranku, warung Bu Sri terpasang CCTV.
Tak cukup sehari, Bu Sri langsung mendatangi sekolah. Aku dipanggil ke kantor. Ibu Guru menunjukkan rekaman yang membuatku pasrah dengan tuduhan pencurian. Aku memang melakukannya. Aku ingat aku menangis sambil mengakui kesalahan dan memberikan uang lima ribu dalam saku celana sebagai ganti. Ibu Guru memberikan pelukan yang cukup membuat tenang. Namun, informasi itu ternyata tidak berhenti dalam ruangan kantor. Hampir semua murid membicarakannya. Semenjak itu, aku dipanggil Bandit.
Ibu tidak pernah mengetahui kejadian itu sampai sekarang. Informasi itu tertahan di sekolah, atau Ibu terlalu sibuk sehingga dia tidak punya waktu untuk mendengarnya.
Saat ini usiaku menginjak sembilan tahun, kelas 4 SD. Aku tinggal bersama Ibu di sebuah rumah berdinding kayu. Jangan tanya soal Bapak. Aku juga tidak tahu ke mana dia atau tinggal bersama siapa sekarang. Semenjak beberapa tahun lalu, seingatku saat baru usia lima tahun, Bapak tidak pernah pulang lagi ke rumah. Pun aku tidak mau lagi bertanya pada Ibu ke mana atau kenapa Bapak tidak pulang. Sekali aku pernah menayangkannya, alih-alih memberikan jawaban, Ibu malah membentakku dengan cukup keras, sampai bola matanya menonjol hendak keluar.
Ibu memang berubah semenjak Bapak tidak pernah lagi benar-benar pulang.
*
Ibu melarang ke sungai sendirian. Ibu tidak pernah bilang aku tidak boleh pergi ke sungai. Makanya, aku mengajak Sapri dan Juned saat akhir pekan. Mereka tak pernah menolak kalau sudah urusan sungai, kecuali ada urusan paling genting yang tak dapat mereka hindari: menemani bapak ke sawah, misalnya. Mereka salah dua yang memanggil namaku Bandi, bukan Bandit. Bersama mereka, aku tidak perlu khawatir meskipun tidak sempat menaruh izin sama Ibu apalagi Ibu telah menghilang sejak pagi buta.
Kami segera melepas pakaian menyisakan celana dalam segitiga setiba kami di pinggiran sungai. Sapri lebih dulu menyeburkan diri, disusul Juned yang hampir terpeleset karena menginjak daun. Beruntung Juned sanggup menahan badannya yang gemuk sebelum meluncur ke sungai. Air menyembur hebat. Badan mereka meliuk-liuk di antara aliran sungai. Sekali-kali kepala mereka melongok mengambil napas seperti ikan sapu-sapu.
Di belakang, aku mengambil ancang-ancang. Seperti biasa, aku akan mengambil gaya lompatan terbaik: salto depan. Semua sudah dalam perkiraan. Lutut ditekuk, dagu menunduk ke dada. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Aku berlari kecil, bersiap melakukan tolakan. Tiba-tiba petir bergemuruh. Itu cukup mengejutkanku sehingga tolakan yang kusiapkan tidak berakhir sempurna. Putaran badan ke depan tidak sesuai sehingga punggung menghantam permukaan sungai dengan keras. Bahkan, itu terdengar seperti kasur jatuh ke tanah.
Juned sempat bertanya. “Kau enggak apa-apa, Bandi? Kayaknya itu sakit sekali.”
Aku hanya menunjukkan jempolku tanda baik-baik saja meskipun rasa sakitnya menjalar ke punggung, tetapi aliran sungai yang segar menyurutkan semua itu. Aku lanjut berenang seolah tidak terjadi apa-apa.