Hampir setengah tahun bertahan dalam biduk rumah tangga, perempuan itu masih belum menemukan alasan mengapa suaminya menikahinya, selain ingin bersenggama setiap kali pulang kerja di luar kota.
Juleha bingung. Pernikahan ini bukan atas kehendaknya semata. Pernikahan mereka lahir tentu saja berkat dari kemauan suaminya sendiri. Juleha dan Abdi memang terikat dalam perjodohan. Namun, Abdi selalu punya pilihan untuk menerima atau menolak perempuan yang dijodohkan dengannya. Berbeda dengan Juleha yang mau tidak mau suka tidak suka harus rela berjodoh dengan laki-laki siapa saja. Pada akhirnya, Juleha menjadi bingung, mengapa suaminya memilihnya.
Bersolek. Mengenakan pakaian-pakaian indah. Bertutur lembut dan halus. Menyajikan makanan enak. Menyambut dengan senyum yang senantiasa rekah. Juleha merasa semua sudah ia lakukan dengan baik. Terlebih Juleha tidak pernah bosan meminta saran dari ibunya tentang bagaimana menjadi istri yang layak. Tapi sekalipun, Abdi tak pernah menganggapnya ada sebagai istri. Rumah tangganya hampa.
“Apa yang salah denganku? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang melayanimu dengan baik? Apa aku…”
Abdi menghantam pintu lemari. “Kepalaku masih pusing karena perjalanan panjang tadi malam. Jangan bikin tambah pusing!”
Juleha terdiam. Ia menatap punggung suaminya yang tegap dengan tatapan nelangsa. Juleha ingin menangis, tetapi air matanya tertahan di sana. Juleha memilih mengambil dasi yang menggantung di dinding kayu mereka, menyerahkannya pada Abdi yang baru saja selesai mengancing kemeja berwarna denim.
“Mari aku pakaikan…”
“Tidak usah!” Abdi merebut dasi itu dari tangan Juleha. Ia melilitkan dasi itu ke lehernya sendiri.
Juleha tercekat, badannya bergetar, tetapi tangisnya masih di sana bertahan enggan turun. Sementara Abdi segera mengambil tas ransel kerjanya sebelum melangkah hendak keluar. Dengan napas yang berat, suara yang serak, Juleha akhirnya bertanya, “Mengapa menikahiku?”
Abdi diam. Tidak ada jawaban yang keluar dari rongga mulutnya. Langkahnya hanya tertahan sebentar sebelum kembali berjalan. Ia sempat mengucapkan sesuatu, tetapi bukan jawaban atas semua pertanyaan yang membungkam selama ini di kepala Juleha. Abdi hanya berkata, “Aku punya wawancara penting dan mungkin tidak pulang malam ini. Kau tidak usah menunggu.”
Laki-laki itu pergi, benar-benar pergi. Di belakang, Juleha terkulai. Ia membuang tubuhnya ke lantai. Ia menumpahkan semua air mata yang dari tadi membongkah. Meskipun ia harus kembali buru-buru menghapus derai yang turun di garis pipinya gara-gara ibunya mendadak menelepon.
“Kau baik-baik saja, Juleha?” Begitu kata Mariana sesaat mendengar suara Juleha. Ia merasa yakin putri semata wayangnya sedang dalam kondisi buruk.
“Iya, Bu. Aku baik-baik saja.”
“Bagaimana suamimu?”
“Dia baru saja berangkat kerja, Bu.” Juleha mengatur napas. “Sudah dulu, Bu. Aku belum selesai masak. Aku takut suamiku pulang, makanan belum tersedia.”
“Ini memang anak ibu. Melayani suami adalah hal yang paling wajib. Andai bapakmu masih ada, Ibu pasti akan belajar memasak kembali. Bapakmu suka sekali makan…”
“Ibu…”
“Oke, oke… lanjutkan masaknya. Masak yang paling enak, ya, Juleha. Anak Mariana itu harus pandai memasak.”
Juleha menutup telepon. Ia melanjutkan tangisnya.
*
Juleha menghitung uang koin dan beberapa lembar uang yang baru saja ia keluarkan dari celengan. Mariana masuk ke kamar melihat kelakuan anaknya. Matanya mengerling. Senyumnya mengembang.
“Dihitung terus perasaan. Sudah terkumpul banyak ya, Nak?”
“Lumayan, Bu. Pokoknya Juleha mau beli rumah kebahagiaan.”
“Rumah kebahagiaan?” Mariana mengambil posisi duduk di samping Juleha.
“Rumah untuk orang-orang bahagia. Rumah yang isinya Juleha, suami Juleha, dan anak Juleha.”
“Ibu mana?” Alis Mariana terangkat.
“Memangnya Ibu mau tinggalin rumah peninggalan Kakek?”